"Gua ngak bisa ngelarang Naila buat kembali dekat dengan Erlang. Walau gua pernah dengar dari berapa sumber, gimana sepak terjang dan pekerjaannya?"
Ungkap risau Syla menyeruput secangkir kopi terasa nikmat mengalir masuk kedalam liang kerongkongan mengular menebar pesona membangkitkan gairah kian merajarela memanjakan kedua mata terlihat masih cemas.
"Gua juga ngerasa kalau Bang Andaru, dia ngak tenang deh di alam sana,"
Masih membekas terasa kelembutan kecupan bibir tipis di tepian cangkir kopi, berhijab hijau toska lengkap dengan tunik putih berbahan katun, bersepatu kets merah tua siang itu membalut tubuh langsing gadis telah kehilangan Abang kandung selamanya.
Dua cangkir kopi tergeletak diatas meja beralas piring kecil, melanglang terbang aroma nikmat kopi menggoda bibir mengajak segera di seruput. Terduduk berhadapan diatas kursi kayu memanjang beratap tenda seraya wajah-wajah melepas lelah penat membayar dahaga nikmatnya sentuhan rasa kopi.
Kopi sekali lagi di seruput bibir tipis bersalut lipstik merah tua, sedikit membekas kecupan warna lipstik merah tua pada tepian lengkungan cangkir. Terasa nikmat mengalir percikan aorma menebar menggugah rasa makin nikmati mengular kesetiap sendi-sendi cantik wajahnya makin tergurat cemas menyesal.
"Gua ngerasa makin bersalah aja sama Naila," __ "Maksud loe?"
Balik tanya Sabrina perhatikan guratan wajah penuh sesal Syla baru saja ingin menyeruput kopi lagi tidak jadi. Guratan cemas merasa menyesal membaluti wajah, seksi dress korea hitam menjuntai sampai tumit membaluti tubuh langsing Syla bersepatu hak tinggi warna salem.
Sementara langit diatas sana terasa bebas menyengat setiap kalbu dengan paparan sinar terik matahari, walau usaha segumpalan awan kelabu mencoba menghalanginya. Hembusan semilir angin terasa kering menjilat setiap halusnya kulit berselimut aneka harum pelembab.
Siang makin terasa datang cepat dan bahkan sebentar lagi akan datang senja, pasti akan terlihat sinar kuning indah diatas upuk sana saat akan berpulang bulatan besar panas salah satu pemilik Sang Pencipta Jagat Raya.
"Awalnya gua cuman kepengen Naila ngak terus-terusan terpuruk mikirin Bang Andaru. Gua mau Naila harus bangkit melanjutkan hidupnya, ngak selalu sedih terpuruk dalam kerinduan mikiran Bang Andaru. Tapi sekarang gua lebih nyesel Sabrina. Naila malahan jatuh cinta dan sebegitu cepatnya dia ngelupain Bang Andaru. Erlang dulu sempat ditolak sama Ayah dan Ibu gua, tapi kenapa sekarang gua juga ngak tahu seperti ada magnet yang segitu mudahnya pintu terbuka untuk Erlang," beber Syla tergurat sesal.
"Apa karena itu cinta buta? Sudah bikin gelap dua mata Naila?" sambung lagi Syla.
"Lantas sekarang ini loe jadi ragu cemas dengan hubungan Naila dan Erlang?" balik tanya Sabrina.
Kali ini bibir menyeruput kopi, tidak ingin lepas tepian lengkungan cangkir sampai tidak tersisa didasar cangkir tiris semua mengalir masuk tenggelam menyatu dengan liang lambung. Syla beranjak bangun perhatikan sekitar, tidak banyak pengunjung datang siang menjelang senja.
"Ya, begitulah Sab," jawab Syla sedikit tersenyum.
Racikan barista pada setiap seduhan kopi sungguh membuat penikmatnya tidak ingin sedikitpun meninggalkan rasa, terendus dua lobang kecil hidung aroma yang tidak akan pernah hilang begitu saja.
Tiris dan tidak tersisa juga dasar cangkir terlihat kosong hampa hanya liukan sisa tetesan menempel pada tepian lengkungan cangkir. Baru saja Sabrina meletakan cangkir, pandangan mata tertatap bingung dengan sikap aneh Syla.
"Syla?"
Langkahnya mengikuti Syla tidak tahu hendak kemana, bayangan awan kelabu sempat membayangi langkah jalan Sabrina kian menjuntai kebingungan menghiasi wajahnya.
Sendok garpu beradu diatas piring menyantap kenikmatan akan segera menghempaskan rasa lapar, sepasang sumpit bambu menelusuk menjepit panjangnya mie tidak berujung, tegukan dingin panas aneka minuman kian terasa membayar dahaga sejak tadi mendorong lumatan macam aneka kuliner dinikmati setiap penikmati.
Tidak tahu kenapa dua langkah kakinya mengajak Syla tiba-tiba berjalan cepat sekali, seakan dia sedang mengejar seseorang yang di kenali atau sedang berburu aneka kuliner karena panggilan lapar perutnya. Tidak merasa peduli masa bodoh pada setiap penikmat bibir-bibir kuliner, tatapannya hanya acuh.
"Syla!" kali ini langkah kaki Sabrina terlalu cepat berjalan.