Rindu Yang Tak Terlihat ~Novel~

Herman Siem
Chapter #23

Satu Hati Dua Cinta

Mungkin orang yang lewat depan mobil melihat sikap tingkah aneh Venna menahan tawa atau bertanya-tanya bingung, dia sedang bicara layak sedang mainkan single pantomin. Jadi sasaran kemudi setir mobil sekali-kali dipukul dengan dua tangan, menahan tawa wanita bertubuh tambun jelas melihatnya dari luar mobil.

"Gua ngak mau satu hati ada dua cinta!"

"Brug!"

Jadi sasaran lagi kemudi setir mobil seraya hati kian terasa sedih tidak terima, di belahan dunia manapun tidak ada wanita yang ingin cintanya terbagi dua. Ruat wajah kian terasa murung berselimut lamunan kesedihan, terduduk dibalik kemudi setir sejak tadi mobil terparkir dihadapan pantai pasir putih.

Andaru terduduk disebelah kiri, tidak tahu dia juga harus berbuat apa. Padahal riang gemulai landai riak percikan ombak sejak tadi mengajaknya untuk segera turun dari mobil. Tapi percuma saja, siulan pekikan burung berterbangan diatas lautan membiru luas pasti akan berkoar padanya. Bila dia hanya mahluk yang tidak terlihat dan bukanlah tempatnya berada didunia fana ini.

"Gua tahu dari awal siapa Erlang, gimana sepak terjang pekerjaan dia. Tapi karena gua saking cintanya, gua mau nerima Erlang apa adanya. Tapi? Tapi kenapa Erlang sekarang ngeduain hati gua!"

"Brug!"

Jadi sasaran lagi kemudi setir, tapi dua matanya terdiam berkaca-kaca menahan amarah.

"Krek!" semua pintu tertutup otomatis.

"Krek! Krek!"

Ingin turun Venna dari mobil mengejar Erlang berjalan tidak jauh dari depan mobil, tapi telunjuknya tidak bisa mencongkel knop seraya macet tunduk atas perintah mahluk tidak terlihat.

Percuma dicungkil knop otomatis dengan telunjuk kanan Venna, kali ingin telunjuk jari Andaru hanya menunjuk dengan disertai kedipan mata pasti semua akan tunduk pada perintahnya, apalagi hanya knop pintu otomatis.

"Buka Andaru! Biarin gua turun!"

"Brug!"

Lihat selengkapnya