Rindu Yang Tak Terlihat ~Novel~

Herman Siem
Chapter #24

Kerasnya Hati

"Gua yakin, sekarang ini Andaru udah bahagia disana,"

Seakan ingin jadi pengkhianat cinta, tapi hatinya masih ingin berdua merasakan rindu yang tidak bertepi selalu bermain diatas lautan luas.

"Gua tahu hati loe masih merindukan Andaru yang udah ngak terlihat. Karena loe egois aja, loe tega segitu cepatnya ngelupain Andaru! Kembalinya Andaru kedunia ini, dia hanya ingin ngelihat loe agar bisa bahagia. Tapi bukan sama Erlang!" tandas Venna.

Berselimut langit gelap malam, senyap terdengar amukan riak ombak pantai pasir putih. Sudah lelap tertidur pulas butiran pasir putih berselimut dinginnya riak gelombang ombak. Tidak lagi melambai nyiur-nyiur sepanjang tepian pantai pasir putih, seraya sedang tertidur juga menahan dinginnya angin malam.

Tiang-tiang lampu berjejer sepanjang tepian pantai, seperti cahaya kunang-kunang sedang bersedih terpisah jarak cahaya dengan lainnya. Persis dengan Andaru, walau saat ini dia dekat dengan Naila, tapi terasa jauh pandangan dua mata Naila hanya melihat lautan luas berselimut gelap malam.

"Gua yakin, ini pilihan gua!" sahut Naila yakin.

"Mungkin saja Erlang tidak kasih kepastian buat loe dan dia lebih memilih gua. Mungkin ada yang kurang dari loe! Dari tadi sikap loe aneh!" sambung lagi Naila makin jengkel.

Memang dari tadi sikap Venna kelihat aneh, kadang melambaikan tangan, kadang kedipkan mata bikin Naila melihat tingkahnya aneh.

"Tapi gua cinta sama Erlang!" __ "Gua juga cinta sama Erlang!"

Dua gadis berteriak ditepian pantai seraya mengakui hati masing-masing, bila keduanya mencintai Erlang.

"Ngak Naila! Ngak mugkin satu hati ada dua cinta!" __ "Cinta yang kedua itu akan terhempas gelombang lautan itu, yaitu loe! Dan hanya ada satu hati dan cinta, yaitu gua!"

Keras sungguh hatinya Naila, seakan telah di butakan rayuan gombal lelaki yang sebenarnya Naila juga tidak tahu sepak terjang pekerjaan Erlang. Sampai segitunya dia keras hati dan egoisnya, walau Venna juga ingin ada selalu satu hati dan cinta dengan lelaki pilihannya. Namun semuanya akan terhempas terombang-ambing ditengah lautan luas seperti perahu nelayan saat ini tenang, namun kapan waktu akan di terjang gelombang lautan.

"Naila?" sempat bingung Erlang.

"Kamu sedang bicara sama siapa?" tanya bingung Erlang.

Naila berbalik hanya kosong sepi hampa berselimut gelap malam, tadi jelas bila dia sedang bicara dengan lawannya untuk mendapatkan Erlang. Tapi dimana saat ini Venna, hanya terlihat gelap samar cahaya lampu tiang sepanjang tepian pantai pasir putih.

Ternyata Andaru menghalangi penglihatan Naila dan Erlang, hinggah hanya terlihat gelap sepi sunyi bermain dengan semilir angin dingin berselimut nyanyian riak gelombang pasang lautan menerjang tepian pantai. Andai saja Naila tahu dan bisa merasakan, betapa sedihnya Venna kalah itu lelaki pujaannya telah di rebutnya.

"Maaf, aku telat jemput kamu,"

Sekali husapan telapak tangan hangat membayar kekecewaan Naila.

Lihat selengkapnya