"Nai, aku akan jadikan kamu ratu dalam hidupku. Tidak siapapun ratu yang datang menggoda, terlebih ratu itu datang memaksa menyengatku sampai tidak berdaya. Aku akan tetap selalu jadikan kamu ratu satu-satunya di dunia ini. Maukah kamu menjadi istriku?"
Cincin bertahta berlian menyilaukan sampai membutakan mata dan hati Naila, terdiam sesaat dia seraya gempuran rayuan beruntai pinangan kian ingin melupakan suaminya yang belum lama pergi meninggalkannya.
"Aku mau jadi istrimu, Erlang." lingkaran cincin sontak tersemat di jari manis.
Tersenyum haru menggugah hati ingin meluapkan ketulusan kebenaran cinta lelaki yang telah melamarnya. Cincin bertahta berlian kini sudah tersemat di jari manis Naila, tidak lagi akan berpindah jari pada gadis lainnya. Dua wajah saling menatap sendu haru seraya kian ingin cepat hari bahagia itu datang, deraian keharuan tertahan pada ketiga pasang mata menjadi saksi malam itu.
"Aku juga ingin jadikan kamu raja dalam hidupku. Yang selalu setia setiap saat menghalau segala rintang kesedihan menjaga kesetiaan," sahut yakin Naila memeluk calon suaminya.
Syla, Martin serta Dila hanya berdiri menahan haru tertahan deraian air mata seperti tidak ingin ikut bahagia. Seperti ada rasa keraguan tergurat pada ketiga wajah hanya berdiri menyaksikan konser cinta bahagia sebentar lagi akan terbang bersama mengangkasa bebas di peraduan cinta.
Ada yang luka dan sedih, tapi dia kini telah jauh tidak tahu kemana. Mungkin benar karena hanya menolak pintu surga, terlebih hanya ingin membayar kerinduan istrinya sampai dia kembali turun kedunia fana. Nyatanya kerinduan terbayar egois belaka membakar kerinduan jadikan Andaru sia-sia segalanya dan benar neraka akan jadi tempat abadi selamanya.
"Bang Andaru dimana?" guman dalam hati Syla cemas.
Lirikan matanya perhatikan setiap sudut ruangan tamu, hanya samar cahaya lampu menggantung diatas atap plapon. Andai saja Andaru hadir, mungkin dia bisa menggagalkan lamaran Erlang malam itu.
"Bang Andaru?" guman kecil dalam hati Syla.
Kecupan manis bibir seksi Erlang mendarat di kening Naila tambah yakin terasa kehangatan kecupan bibir itu mengalir masuk kedalam relung bhatin mengatakan bila pilihannya menerima Erlang tidaklah salah.
"Yakinkah aku, untuk selalu jadi belahan jiwamu," ucap manis Naila.
Pelukan hangat mendarat pada Erlang, seraya jantungnya berdegub kencang ingin mengatakan rasa bahagia.
Bibir seraya terkunci, gerakan tangan ingin melerai juga tidak berdaya dan tidak banyak berbuat banyak untuk menghentikan keputusan hati sepihak tanpa mengajak berunding hati perasaan lainnya. Keputusan sudah diambil, mengajak egoisnya diskusi hati sendiri tidak lagi mengulur waktu panjang untuk menerima lelaki pujaannya.
Walau sudah tahu, siapa sebenarnya lelaki yang malam itu di terima lamarannya, tetap saja keras hatinya Naila seakan tidak peduli. Mungkin hatinya sudah sekian lama tidak ingin memenjarakan kerinduan tidak pasti dalam lautan samudra cinta merindukan yang tidak terlihat.
"Kring ... Kring ..." suara dering ponsel.
"Hallo? Oke, baik. Saya akan segera kesana," jawab Erlang.
"Nai, maaf aku ada urusan mendadak. Biasa bisnis, bisnis untuk masa depan kita,"
Sambil masukan ponsel kedalam saku kemeja bersalut blazer warna krem terang. Hanya mengangguk seraya minta pamit pada Martin dan Dila, Erlang beranjak jalan keluar.