"Bang Andaru?" guman sedih Syla.
Dia terduduk sedih dilantai belakang punggungnya sandaran dipan ranjang, seakan hatinya terasa tergerus kecemasan karena makin dekat hari bahagia itu menyandingkan Naila dan Erlang.
Kamar tidak terlalu besar, cahaya sungguh terang sekali tapi tidak seterang hati terbalut kesedihan.
"Bang Andaru dimana?" seraya ingin dijawab kesedihannya.
Tapi tetap saja tidak terjawab, karena memang saat ini Andaru mungkin sudah jadi penghuni neraka. Sebentar lagi tubuhnya akan di ranjang api neraka, karena ketidak mampuannya untuk menghalau Naila, malahan istrinya saat ini sebentar lagi akan jatuh dalam pelukan lelaki yang berbisnis barang haram.
"Aku tahu saat ini keputusan Naila hanya pelampisan kerinduan dia selama ini pada bang Andaru. Aku yakin Bang, jika Naila masih merindukan Bang Andaru. Keputusan berat diambil Naila, karena beban ingatannya tidak kuat untuk melupakan dia hanya merasakan biduk cinta bahagiaa semalam saja dengan Bang Andaru,"
Terbaring tidur Syla dilantai tidak beralas, seakan ungkapan kesedihannya didengar oleh Andaru, tapi hanya sepi kosong menyelimuti kamar.
***
"Bang?" terhenti tidak ingin melanjutkan bibirnya bergetar.
Sabrina masih kenakan mukenah putih membaluti tubuhnya, tidak bisa di hindari betapa sangat rindu sekali dengan Andaru. Walau jemari kanannya sejak tadi melintir tasbih disertai bhatinnya mengumandangkan kebesaran Sang Ilahi tiada terbatas.
"Aku, aku rindu Abang," ucap Sabrina terdengar sedih.
"Aku harap Abang bisa mendengar kerinduanku ini. Andai Abang bertemu dengan Ayah dan Ibu disurga, sampaikan salamku untuk mereka. Aku rindu sekali, pasti saat nanti kita semua akan berkumpul bersatu dalam RidhoNya Sang Ilahi disurga abadi,"
Terbaring tidur menyamping beralas sazadah, tetesan air mata terasa bebas menjuntai sembabi wajah cantiknya terbalut putih mukenah. Hatinya seakan begitu rindu sekali karena selama ini terkekang kesendirian yang begitu abadi, merajut setiap kerinduan seorang adik yang sebelumnya selalu mendapatkan kasih sayang dari Andaru. Semua telah pergi, tidak adalagi belaian kasih sayang akan di rasakan Sabrina selamanya.
"Bang, andai saja Abang masih hidup. Tentu saja Naila akan hidup bahagia dengan Abang. Tapi nyatanya saat ini dan selamanya, Naila tidak akan pernah merindukan Abang lagi. Kepergian Abang selamanya sudah membutakan mata hati Naila untuk menerima lelaki yang bukan pilihan hatinya. Naila memilih lelaki itu hanya karena dia tidak ingin berlama-lama merindukan Abang yang sudah pergi selama-lamanya,"
Makin sedih, makin mengalir bebas air mata basahi sazadah. Tasbih diletakan persis didepan wajah, kedua kakinya setengah melepit dan dua tangan memeluk dada agar tidak terlalu ingin pedih seraya ingin sekali terdengar kisah sedih kerinduannya oleh sepasang penjaga pintu surga.
Malam kian terasa hening, semilir angin mengulik bisikan mengajak kedua mata Sabrina agar segera terpejam larut dalam mimpi. Dimana dia ingin sekali berjumpa Abangnya yang telah tiada, benar saja dua matanya terpejam terbaring nyaman beralas sazadah didalam kamar sunyi.