"Loe benar-benar cantik bangat, Naila." puji Acin.
Sejak tadi Acin membantu Naila kenakan gaun pengantin putih pilihannya, tersenyum melirik tidak sabar Erlang ingin segera bersanding resmi jadi suami. Setelan jas pengantin putih senada warna dengan gaun yang di pakai Naila terlihat makin cantik dengan tiara bertaburan kilauan cahaya batu permata.
"Nai?" sontak rangkulan dua tangan seraya meminta restu dari Martin dan Dila.
"Aku yakin dengan pilihan aku saat ini, Ayah Ibu." ucap yakin Naila.
Tetesan air mata sempat terjatuh berharap terucap ada kata restu dari sepasang bibir keduanya yang dulu pernah membesarkan dan merawat Naila.
"Nai, ayo." ajak Erlang.
Ucapan restu belum sempat terucap dari bibir Martin dan Dila, awalnya berat keduanya memberikan restu. Tapi semua itu pilihan Naila yang akan menjalani bahtera rumah tangga dengan lelaki pilihannya.
"Ibu dan Ayah?" __ "Nai ayo," baru saja Martin ingin menjawab, tapi tangan Erlang sudah menarik pergelangan tangan kiri Naila.
Seakan tidak ada kesempatan sebagai orang tua ingin memberikan restu pada anaknya yang sebentar lagi akan mendayung perahu sendiri rumah tangganya. Besar harapan dan doa orang tua pada anaknya, agar tidak lagi terjadi indahnya hari bahagia maligahi rumah tangga hanya semalam saja.
Anggukan senyuman Acin menoleh pada Syla seakan pasrah sebentar lagi Naila tidak akan pernah kembali, dia telah di sunting lelaki pilihannya. Mungkin tidak adalagi acara makan malam bersama, tidak lagi terdengar pertengkaran. Karena hari ini dan seterusnya Naila akan menyatukan belahan hatinya dengan lelaki pilihan.
"Hahhh! Kenapa nih mobil mesinnya ngak mau hidup dari tadi! Padahal ini mobil baru?!"
Kesal menggerutu Gimon lekas turun dari mobil. Sekali jemari tangan menggaruk kepalanya bingung atau mungkin ada kutu besar menggigit kulit kepalanya jadi terasa gatal.
"Brug" kap mesin di tutup lagi.
"Gimon?" tanya cemas Erlang.
"Mesin mobilnya dari tadi ngak mau hidup-hidup Boss," sahut Gimon bingung.
"Bang Andaru?" guman Syla sempat didengar Martin dan Dila.
Jari telunjuk menempel di bibir Andaru, terdiam Syla tahu maksudnya. Tersenyum Syla ingin sekali hari bahagia Naila dan Erlang tidak akan pernah terjadi.
"Syla?" masih tersengal-sengal napas Sabrina, dia takut ketinggalan acara.
Bingung Sabrina malahan di tariknya lalu kuping kanan di bisiki bibir Syla.