Sabrina tahu apa yang akan dia lakukan dengan uang sebanyak itu. Mungkin baginya, uang 2 miliar sangat dia butuhkan untuk melangsungkan hidupnya seorang diri.
Tapi hatinya terpanggil bagaimana untuk menggunakan uang itu, karena besar cintanya pada yang sudah tidak terlihat. Tersenyum Sabrina sudah berdiri didepan bangunan masjid setengah jadi tampak dari depan, tapi terlihat megah mengangkasa kubahnya berlafal Allah..
"Gua tahu apa yang bakalan gua lakukan dengan uang milik Bang Andaru?" guman yakin Sabrina.
"Pak," panggil Sabrina pada lelaki setengah baya menghampiri.
"Ini untuk biaya pembangunan masjid itu,"
Selembar cek tunai nominal 2 miliar sudah berpindah tangan pada tangan lelaki setengah baya. Terkejut haru dia serasa dua kakinya gemetar, apalagi dua tangannya bergetar seakan tidak di sangka gadis sebaik Sabrina menyumbangkan uang sebanyak itu untuk pembangunan masjid.
"Itu uang, Bapak bisa gunakan untuk membangun masjid itu. Doakan saja agar almarhumah Ibu, almarhum Ayah dan Abang saya, beliau selalu dalam surga,"
Sedih Sabrina, tidak kuasa dia beranjak pergi meninggalkan lelaki setengah baya tersenyum seraya akan selalu menguntai doa untuk yang tidak terlihat.
Tersenyum sejak tadi Biduri melihat apa yang di lakukan Sabrina, atau mungkin dia berubah pikirannya dengan melihat apa yang baru saja di lakukan adiknya Andaru. Sungguh betapa besar cinta Sabrina pada yang tidak terlihat, sampai dia menyumbangkan uang sebanyak itu untuk pembangunan masjid..
***
"Nai?"
Percuma saja apa yang tengah dilakukan Andaru kali ini. Lagi-lagi dia hanya terhempas tidak mendapatkan jawaban manis dari Naila.
Segitu keras hati dan segitu kaku lehernya sampai tidak ingin menoleh pada Andaru. Lagi-lagi pengorbanan sia-sia, mungkin kali ini penjaga pintu neraka makin murka padanya. Andaru kabur dari neraka karena dia sayang dan mencintainya ingin membayar kerinduan yang selama ini hanya tertahan dalam langit kerinduan istrinya. Mungkin apa kali ini dia kembali lagi saja pasrah sekujur tubuhnya di lalap jilatan kobaran api neraka, percuma dengan semua yang di korbankannya.
Hanya acuh sinis semakin kaku lehernya tidak sedikit menoleh pada Andaru seakan makin pasrah. Sementara deburan riak ombak kian terasa menarik-narik kedua kakinya agar segera pergi saja meninggalkan seorang istri yang tidak ingin terbayar rindunya.
Padahal dia dulu segitu merindukan sekali Andaru, yang tidak terlihat. Tapi nyatanya kenapa sekarang yang tidak terlihat itu sudah terlihat persis berdiri di samping seakan tercampakan begitu saja.
"Nai, maafkan aku karena hanya semalam membuat kamu bahagia jadi istriku. Sesunguhnya aku tidak akan pernah menyesali dengan kematian ini, karena jalan kodratku hanya merasakan semalam jadi suamimu. Semua itu sudah membuat aku bahagia sekali, Nai. Aku menyesal, Nai tidak pernah ingin mengusik kebahagianmu menjelang hari bahagia kita berdua dengan kondisi sakitku saat itu. Aku tidak mau melukai kebahagianmu dengan penderitaanku, Nai. Lebih baik aku merasakan sakitku sendiri, ketibang aku harus menguras kesedihanmu karena keadaanku,"