Rindu Yang Tak Terlihat ~Novel~

Herman Siem
Chapter #29

Over Dosis

Kepulan asap pekat membungbung tinggi dari salah satu bangunan padat penduduk, kepulan asap membelah langit cerah menjadi hitam mengundang mendung seraya sebentar lagi akan turun hujan lebat. Apa benar gudang barang haram itu terbakar, andai saja gudang barang haram itu benar terbakar. Tentunya akan menyelamatkan banyak generasi-generasi penerus bangsa ini tidak akan jadi korban selanjutnya.

Tentu saja style, outfit brandit dan kelicikan seorang Erlang sebentar lagi akan segera sirna tidak lagi akan mempermainkan hati dua gadis sungguh berharap hanya ada satu cinta. Tidak akan ada lagi korban-korban perasaan yang merasa terkhianati, tidak akan ada lagi gadis-gadis yang bakalan mencintainya.

Berharap dua gadis yang di permainkan perasaannya saat ini tengah terjaga bangun, tidak lagi tercabik-cabik hatinya karena segitu tulus mencintai Erlang. Tapi tidak dengan Venna, kenapa sungguh tulus mencintai lelaki yang begitu memberikan harapan palsu. Walau kenyataannya Venna dari awal tahu siapa Erlang sesungguhnya, tapi dia begitu tulus sekali mencintai Erlang.

Beda rasa dengan Naila, hanya karena dia tidak ingin terlalu panjang tertidur dalam keterpurukan hanya semalam saja merasakan menjadi istri. Terlebih setelah di tinggal suaminya, Naila tidak kuasa menanggung beban menahan kerinduan berkepanjangan merindu yang tidak terlihat.

Tapi penjaga pintu neraka sungguh telah berbaik hati, seharusnya Biduri membawa kembali Andaru sesuai janjinya jadi penghuni meraka. Apa karena Biduri punya pertimbangan lain sampai berubah pikirannya tidak membawa Andaru keneraka. Mungkin benar Biduri punya pertimbangan lain, ketika dia melihat kebaikan Sabrina melakukan perbuatan baik menyumbang sejumlah uang untuk pembangunan masjid mengatas namakan Andaru.

Andaru kali ini masih bisa menghirup udara segar dunia yang katanya fana, dengan dia harus menepati janjinya untuk segera tuntaskan membayar kerinduannya pada Naila. Jika tidak tentu Biduri akan kembali menarik kesempatan itu dan akan menjebloskan masuk kedalam neraka.

"Akhhhhhh ..."

"Brug ... Prug ..."

Meluapkan amarah Venna berteriak kencang sambil menendang memukul jatuh pekerja.

Terkapar sebagian pekerja, wajahnya putih terbalut bubuk haram. Kepulan asap merasuk kedalam lubang kecil hidung, pandangan mata jadi samar terhalang kepulan asap dan kobaran api. Hampir semua barang haram tercecer dilantai, terbakar packing-packing plastik kecil, meja dan kursi serta alat produksi berantkan tidak karuan.

"Akhhhhhh ..." balasan teriakan pekerja ingin menendang Venna.

"Akh! Akhhhhh ..."

"Hahahahahah ..." tawa geli Venna menunjuk pekerja malahan dia terangkat keatas.

Ketakutan, tidak tahu kenapa bisa terangkat begitu saja pekerja itu. Pekerja lainnya bingung ketakutan mundur sungguh sedang melihat setan saja. Venna mesem-mesem menahan tawa geli, Bajana nyatanya yang mengangkat pekerja itu, dia hanya bisa di lihat oleh Venna saja.

"Lepasin! Lepasin gua ...!" merontah ketakutan bercampur bingung.

Semua pekerja bingung, kenapa rekannya hanya menggantung saja diatas, padahal tidak ada tali ataupun yang menariknya keatas. Pekerja mundur tidak sadar, meja panjang bergerak maju sendiri makin cepat di dorong Rake dari belakang. Makin ketakutan pekerja melihat meja panjang maju sendiri, kabur semua lari tunggang langgang.

"Setan ... Setan ..." teriak kompak.

Bajana tersenyum menahan tawa, dua tangannya juga tidak bisa menahan lama-lama lagi mengangkat dua tangan pekerja semakin ketakutan sampai kecing dicelana. Air kencing menetes dilantai, makin menahan tawa geli Venna melihtanya. Dua tangan Bajana sudah tidak bisa menahan lama-lama dan seketika terlepas terjatuh.

"Brug ..."

"Sakit pinggang gua," menahan sakit dilantai merangkak ketakutan.

"Venna!"

Lihat selengkapnya