Rindu Yang Tak Terlihat ~Novel~

Herman Siem
Chapter #30

Disaat Terakhir

Kobaran api makin merajalela melahap semua yang ada, asap makin tebal membungbung tinggi terbang lewati celah. Terkapar tidak berdaya Venna siap-siap akan dilahap api, makin meradang marah dan makin banyak barang haram masuk kedalam mulutnya.

"Loe udah hancurin semua ini, Venna!"

Makin kencang dua tangan Erlang mencekek leher, sekujur tubuh sudah basah semakin bebas peluh keluar dari pori-pori kulit putih.

"Gua harus hancurin apa yang loe milikin, Er. Karena loe udah hancurin harapan gua! Loe hancurin cinta gua, tega bangat loe Erlang. Tulus gua mencintai loe dengan segala yang loe kerjain. Wajar gua hancurin semua ini yang jadi kebanggan loe hanya buat ngehancurin banyak orang!"

Dingin sinis wajah terlihat pucat, napas makin sesak cekekan sepuluh jemari masih menyarang pada leher Venna.

"Loe udah khinatin gua, harusnya gua yang pakai gaun pengantin itu. Tapi loe malahan memilih Naila untuk pakai gaun pengantin," sambung Venna makin kritis.

Bubuk putih haram mulai mengular lewati sendi nadi pasti akan berpucuk pada jantung, semakin kencang deguban jantung gadis yang sudah dipaksa melumat barang haram.

"Venna?"

Tidak lagi mencekek leher, bingung terkejut Erlang perhatikan sekitar sebentar lagi akan segera terlumat kobaran api. Asap makin mengepul hebat, jarak pandangnya terhalang kepulan asap.

"Bajana, Rake?" __ "Venna?"

Sahut kompak sedih Bajana dan Rake dengan keadaan Venna.

"Venna, loe?"

Tersenyum sinis bertaburan bulir peluh, pucat wajahnya hanya bisa terbaring saja. Pandangannya samar melihat Erlang mundur ketakutan, tidak tahu apa yang sedang di lihatnya.

"Loe siapa?!" tanya balik Erlang mundur ketakutan.

Kali ini Bajana dan Rake menampakan dirinya, wajah pucat terbalut bubuk putih haram, dua bola mata memerah tajam menyorot. Makin dekat dua penjaga pintu surga, makin mundur ketakutan Erlang.

"Akh! Akhhhhhh ..."

"Brug ... Prug ..."

Percuma teriakan Erlang, tubuhnya diangkat lalu dilempar terbanting berapa kali kelantai, lalu diangkat lagi keatas dan dilempar lagi membentur siku meja. Lebam memerah waja, remuk sekujur tubuh menahan sakit.

"Loe siapa?" sempat-sempatnya Erlang masih bertanya menahan sakit.

Lihat selengkapnya