Rintik dan Rincik di Istanbul

Eka Retnosari
Chapter #17

Rintik dan Rincik di Istanbul

TAKSI kuning dengan lampu depan sebelah kanan yang memiliki retakan itu melaju dengan tenang pada awalnya. Ia memiliki kecepatan 120 km/jam, tanpa suara radio. Di langit yang biru tenang dan dihiasi beberapa lapisan awan tipis, melintas beberapa pesawat yang akan segera meninggalkan Istanbul, Turki. Deru suaranya terdengar pada waktu bersamaan. Selang beberapa menit kemudian, terdengarlah beberapa pesawat yang tiba untuk mengantarkan pelancong yang siap untuk bertamasya, juga beberapa orang yang telah menuntaskan segala keperluan. Di Eropa, Asia, dan beberapa negara Timur Tengah.    

 Saat itu, musim sedang tiba pada musim paling panas. Pada sepanjang tahun yang telah berlalu, pada musim kali itu saja orang-orang tak lagi menemukan anggur di dalam kotak buah yang mereka sapa di pasar ataupun supermarket. Kotak buah itu menyisakan jeruk-jeruk kuning dengan ukuran yang tidak terlalu besar. Ketika taksi kuning yang tengah mereka naiki meninggalkan bandara dengan jarak terjauhnya, pengemudi yang pagi itu belum bersentuhan dengan air mandi, menambah laju kecepatan. Lalu menutup dengan rapat kedua jendela kaca di samping kanan dan kiri. Setelahnya, ia menyalakan radio yang telah pasti memiliki usia melewati angka lima tahun. Dalam radio, seorang penyiar lelaki mengabarkan tentang suhu Istanbul yang tidak akan berpindah angka dari angka tiga puluh tiga. Nilai tukar Lira yang terus melemah. Tenaga kerja yang mengalami penurunan gaji. Pun berita tentang rapat-rapat tingkat internasional yang diselenggarakan oleh petinggi negeri.   Sesekali, karena suatu sebab, taksi kuning itu mengalami guncangan yang menyebabkan penumpang di dalamnya mengalami kejut meskipun tidak terlalu kencang. Pada beberapa belokan yang ditempuhnya, pengemudi taksi yang memakai kacamata hitam itu tidak mengurangi kecepatannya sedikit pun. Ketika radio di dalam taksi kuningnya mengeluarkan senandung, ia pun bersenandung. Dengan nada yang tidak harus sama dengan nada yang dimiliki oleh penyanyi dalam radio. Pengemudi itu mengunyah semacam permen di mulutnya lalu sesekali mencipratkan ludah dari mulutnya yang kering dan mengeluarkan aroma masam yogurt yang masih tertinggal di sela-sela gigi yang penuh dengan karang. Ia memakai kaus abu-abu muda yang warna abunya telah pudar karena waktu telah membuatnya begitu. Tangan kanan dan kirinya penuh dengan bercak cokelat dan rambut cokelat muda yang tak akan pernah dipangkas, tidak dengan alat pencukur ataupun cairan lilin yang dioleskan di permukaan kain seukuran tangan yang dimilikinya. Ketika taksi kuning itu telah melaju di atas jalan yang penuh dengan bus, metrobus, mobil-mobil pribadi yang sebagian besar berwarna putih, sepeda motor siparis yang mengantarkan sarapan pagi hari seseorang di apartemen pusat kota, dan taksi biru, sebuah suara yang tidak berasal dari radio terdengar. Suara itu berasal dari telepon genggam dalam saku celana jins biru yang memiliki aroma keringat hasil pergumulannya dengan hari, pun matahari musim panas. Dengan tenang, tangan kiri yang memiliki kuku panjang yang lengkap namun tak dibersihkan itu, merogoh telepon genggam dalam saku celananya. Tangan kanannya masih berada dalam kemudi. Tangan kirinya berusaha membuka layar telepon genggam dengan memasukkan kata kunci yang keliru sebanyak dua kali. Sesekali, ditolehnya jalanan di hadapan yang mulai ramai, terlebih lagi pada pukul setengah delapan pagi. Pada kali yang ketiga, pengemudi taksi kuning itu berhasil menemukan kata kunci yang tepat. Sebuah pesan singkat hadir dalam layar putih dengan huruf calibri tipis hitam yang tersaji dalam tiga baris. Pengemudi taksi kuning itu memicingkan mata demi membaca tiga baris pesan. Sambil membaca, diliriknya beberapa mobil pengangkut barang yang pada bagian tubuhnya terdapat gambar ayam panggang utuh dengan nomor telepon yang dapat dihubungi oleh siapa pun yang menginginkan. Mobil-mobil pengangkut barang yang lain menyusul kemudian dengan model perempuan Turki tengah tersenyum di samping deretan hidangan yang telah berhasil dimasaknya. Bibirnya yang dipoles lipstik warna peach menyampaikan pesan bagi setiap perempuan yang membacanya agar tak melewatkan waktu pagi harinya dengan menyiapkan sarapan pagi bagi anggota keluarga di rumah.  

Pesan singkat itu telah tuntas dibaca. Namun, telepon genggam itu masih berada di tangan kirinya. Ketika taksi kuning yang dikemudikannya bertemu dengan lampu merah, volume radio itu dinaikkan. Tak ada senandung lagi. Penyiar radio ingin menyampaikan berita singkat tentang beberapa hal yang harus dipatuhi penduduk kota.   

Seorang pengendara sepeda motor melintasi taksi kuningnya yang membuatnya harus melontarkan serapah. Jendela kaca di samping kirinya dibuka demi menyampaikan segala kekesalannya kepada pengendara yang tidak mematuhi rambu. Pengemudi taksi kuning itu tetap membiarkan kaca jendela itu tetap terbuka. Taksi kuning itu kembali melaju dengan kecepatan yang ia naikkan. Lebih dari yang sebelumnya. Pada menit berikutnya, pada sebuah belokan di jalan, pengemudi itu memainkan sebuah tusuk gigi yang entah sejak kapan berada di dalam mulutnya. Suara decit akibat dari tusuk gigi yang ia mainkan dalam mulut berpadu dengan suara penyiar radio yang tengah mengajak seseorang yang diundangnya. Mereka terlibat dalam percakapan yang hangat kemudian memanas, tepat ketika taksi kuning itu telah memasuki kawasan Yenibosna. Perlahan, setelah menoleh ke arah kiri selama beberapa kali, pengemudi taksi itu menutup kaca jendela taksi kuning secara perlahan. Sesaat, ia menoleh ke kaca spion di kanan dan juga kiri. Ia sedang memastikan apakah kedua penumpangnya tengah duduk dalam keadaan terjaga ataukah terlelap dalam kantuk yang membawanya pada tidur panjang.   

Kedua penumpang taksi kuning itu tengah duduk dalam keadaan terjaga. Seorang lelaki berusia empat puluh di kursi sebelah kanan, memeluk seorang anak berusia enam tahun yang adalah anaknya. Lelaki itu memakai kaus hitam dengan leher yang ditutupi kerah. Kulitnya putih bersih, dengan tinggi badan hampir menyentuh bagian atap taksi kuning. Ia mempersilakan kalau-kalau anak pertamanya akan pergi ke alam mimpi. Di sebelah kirinya, seorang perempuan berusia tiga puluh lima sedang duduk sambil memeluk seorang anak berusia dua tahun yang tak lama lagi akan pergi ke alam mimpi. Perempuan itu melekatkan selimut yang dibawanya dari pesawat terbang yang membawanya pulang dari sebuah negara bernama Cyprus. Satu jam waktu yang ditempuh oleh pesawat itu hingga akhirnya ia tiba di bandara yang masih memiliki banyak bagian yang lengang.   

Lihat selengkapnya