
Beberapa hari telah lewat dan Kirani telah bertugas di sektornya sebagai supervisor bersama para supervisor lain dan para pekerja.
Kirani dan para insinyur lainnya mampu bekerja di dunia yang baru karena memang mereka telah mendapatkan pelatihan selama pendidikan akademi di bumi.
Saat itu tiba waktunya makan siang. Rani telah menyimpan peralatannya dan berdiri di atas sebuah hoverboard menuju kantin.
Di kantin dia bertemu dengan Iriana, Maria, Tania, Hendra, dan Johanes yang telah datang lebih awal. Beberapa orang tentara tampak turut mengantre. Para tentara tidak membawa cetbang, kecuali pistol tersarung yang menggantung di pinggang masing-masing.
Setelah mencuci tangan mereka mengambil makanan yang disajikan secara prasmanan.
Dan beberapa kelompok telah duduk di meja besar menyantap makan siangnya.
Rani dan kawan-kawan telah menadah piring makanan dan minuman dalam tumbler.
Kelompok Kirani duduk di meja menyantap makanan sambil bersenda gurau. Tetapi tampak Kirani tidak menikmati makan siangnya.
Iriana yang duduk di sebelah Kirani, memandangi Kirani yang lebih banyak diam saja sejak tadi.
Akhirnya Maria bertanya, “Ran ... ada apa?”
Rani tidak memberikan jawaban dan hanya memainkan sendok di atas piring yang masih penuh makanannya.
Melihat hal ini Irina menjadi penasaran, “Makanannya gak enak ya?”
Kirani tidak memberikan jawaban dan air mukanya terlihat sedih.
Irina memeluk Kirani. Teman-teman yang lain membiarkan dan tetap makan sambil melihat perkembangan.
“Jangan sedih dong, bujuk Irina, aku jadi ikut sedih.”
“Aku teringat orang tuaku di bumi,” ujar Kirani. Tatapan matanya lurus ke depan.
Terbayang di pelupuk matanya ketika ia masih tinggal bersama orang tuanya.
Mereka tinggal di apartemen yang kecil. Suatu malam dia dibangunkan oleh papanya.
Papa duduk di pinggir ranjang sambil mengguncang- guncang bahu Kirani.
Di belakang tampak mama menyiapkan piring- piring di atas meja. Aldrin, adik laki-laki Kirani sudah duduk di belakang meja. Dia masih kelas 3 SMP.
Ruangan redup karena hanya diterangi dengan api kecil yang menyala dari sebuah biji jarak yang dibakar.
Tiga tahun yang lalu papa dan mamanya selalu menyajikan nasi aking, atau mengambil pagpag di tempat sampah rumah makan supaya mereka bisa bertahan hidup.
Waktu itu dia dibangunkan oleh papanya untuk makan bersama.
Petang tadi papa belum pulang dan Kirani memilih tidur lebih cepat supaya bisa melewatkan waktu lapar malam itu.
“Ada makanan pah?” tanyanya. “Alhamdulillah, Nak. Ayo!” ajak papa. “Dapat dari mana, pah?” tanya Kirani.
“Kirani ...!” mama menegur pertanyaan Kirani.
Akhirnya Kirani bangun dari ranjang tanpa bertanya lagi lalu bergabung dengan mama dan adik laki-lakinya mengambil tempat duduk di meja makan.
Kirani bergegas melahap makanan di meja. Tetapi dia enggan mengambil setusuk sate pun yang dihidangkan. Ia tahu itu daging tikus got.
Dia tidak pernah memakannya. Bahkan memikirkannya saja, ia akan lebih memilih untuk tidak makan. Tetapi Aldrin melahapnya dengan rakus.
Ketika makanan tinggal sedikit, padahal Kirani masih lapar ....
Papa tahu itu, lalu menyodorkan sisa makanan di piring ke Kirani.
“Makanlah!” kata papa. Kirani ragu.
Lalu papa membujuk Rani dengan sebuah nasihat.
“Hari ini adalah terakhir papa memberimu makan,” kata papa. “Besok kau mulai masuk Akademi Antariksa dan punya makanan sendiri.”
Papa memandang Kirani sambil tersenyum bahagia. Lalu buru-buru makanan di piringnya ditumpahkan ke atas piring Kirani.
“Ayo habiskan!” Pinta mama.
Kirani tersenyum, lalu menyendok makanan ke dalam mulut lagi.
Ketika dia menyuap ke mulutnya, sudut matanya melihat adiknya memandang dengan penuh harap.
Kirani tahu adiknya banyak makannya karena sedang dalam masa pertumbuhan, apalagi anak laki- laki. Adiknya makan sepiring mana cukup!
Lalu ia sisihkan separo untuk adiknya. Aldrin mengambil sisihan dari piring Kirani dengan suka-cita.
“Bilang apa ke kakakmu, Dek?” tegur Mama mengingatkan Aldrin.
“Makacih, Bacil!” ucap Aldrin kurang tulus.
“Tuh kan mah, dia bukannya berterima kasih, malah ngeledek!” Kirani merajuk. Ia tidak senang dipanggil dengan nama ejekan yang diberikan adiknya karena Kirani merasa nama itu jelek.
Papa dan mama hanya tersenyum saja. Meskipun sudah sering diingatkan agar Aldrin memanggil kakak kepada Kirani yang hal itu sudah seharusnya, tetapi Aldrin senang membuat kakaknya mengambek.
Momen itulah yang membuatnya tidak berselera makan.
Kirani memikirkan adiknya di bumi, memikirkan apakah hari ini papanya bisa mendapat makanan yang sudah sulit didapat karena harus bersaing dengan orang lain yang juga sama membutuhkan?
Tanpa dapat dicegah, kedua bola mata Kirani berlinang air mata ....
Iriana terkejut. “Kenapa?” tanya Iriana Stanovska. “Homesick ya ?”
Kirani mengangguk. Aku sangat menyayangi kedua orang tuaku yang kerja keras banting tulang agar ia dan adik tetap bisa sekolah.
Pengorbanan kedua orang tuaku akhirnya berbuah manis. Prestasiku di sekolah sangat bagus sampai akhirnya dipanggil masuk Akademi Antariksa ini.
Iriana tersenyum maklum.
“Makanlah Bro, kita mengalami hal yang sama,” bujuk Iriana.
“Ini minggu pertama kita kerja, bulan depan kau bisa mengirimkan makanan ke bumi untuk orang tuam ....”
Tiba-tiba mendengar ucapan Iriana Stanovska seperti itu, air muka Kirani berubah menjadi gembira.
Benar juga apa yang dikatakan oleh sahabatnya. Di sini ia cukup makan sehingga bertekad akan mengirimkan gajinya untuk keluarga di bumi.
Akhirnya setelah berpikir seperti itu, Kirani mampu menghabiskan makanannya dengan cepat.
Iriana turut merasa senang melihat teman barunya menjadi lahap. Kita semua punya pengalaman pahit yang sama.
“Kamu masih mending, Ran,” sambung Iriana. “Papaku dan aku menjadi pencuri atau harus berkelahi untuk mendapatkan makanan.”
Mendengar hal itu, Kirani menunda suapannya seolah-olah tidak percaya apa yang barusan ia dengar. Rani menaruh sendok ke atas piring lalu merangkul Iriana.
Kirani dan Iriana berangkulan saling menguatkan sambil tetap duduk di kursi masing-masing.
Pada saat itu, tampak beberapa orang tentara datang sambil membawa piring masing-masing.
Di antara mereka ada Jakob Ubar dan Mattew Bierce.
Jakob Ubar telah melihat Kirani, lalu menyapanya. “Kirani.”
Kirani tidak kalah terkejut dan merasa senang juga bertemu kembali dengan mereka. Terutama dan tentu saja dengan Jake.
“Hi, Jake!” ucap Rani membalas sapaan Jakob, lalu menyapa Mattew, “Matt Ayo gabung bersama kami,” ajak Rani tulus.
Tentu saja kedua tentara ganteng itu dengan senang hati menyambut ajakan Rani, lalu mereka mengambil tempat duduk sambil mengulurkan tangan masing-masing saling bersalaman dengan teman-teman Kirani.
Mereka akhirnya makan bersama-sama di satu.
“Makanan dan minumannya enak-enak, ya,” puji Maria. “Ini pasti chef yang bikinnya jago.”