RISING THE ANTI AVATAR

Handi Yawan
Chapter #3

Bertemu Dengan Manusia Saturnus


772755476614-20251213110647.jpgDia begitu saja membuka percakapan dan entah Jake menyimak atau tidak?

Namun gadis dengan senyum manis ini tetap melanjutkan bicaranya.

“Setelah para ilmuwan memahami magnetism planet ini, mereka menempatkan kutub netral di antara positif dan negatif untuk kabin awak pada pesawat ulang-alik.”

Ternyata Jake mendengarkan apa yang dikatakan oleh kekasihnya, tetapi pandangannya sama-sama tetap ke depan.

“Gak nyesel deh datang ke sini,” kata Jake.

Ya tentu saja Jake tidak menyesal datang kemari karena sedang bersama Kirani.

Mereka masih berpegangan tangan dengan erat dan berdiri di tepi ngarai memandang ke langit yang sekarang mulai terang oleh matahari yang mulai terbit di timur.

Tampak aurora mulai menipis dihapus oleh kemilau cahaya mentari.

Fajar mulai menyingsing di arah kanan tempat mereka berdiri dan bila tidak menginjakkan kaki langsung rasanya Rani dan Jake tidak percaya sedang melihat sendiri perubahan lingkungan yang berangsur- angsur ini.

Tanpa sepengetahuan mereka, dari balik bukit muncul tiga orang. Salah satunya menuntun seekor hewan beban yang memuat barang-barang.

Ketiga orang itu pun tidak menyadari kehadiran Rani dan Jake yang berdiri memandang ke depan.

Tiga orang itu mengenakan mantel tebal dan panjang hingga melewati lutut.

Mantel yang mereka pakai ada kerudungnya, tetapi kerudungnya dibiarkan di belakang saja namun demikian mereka tidak terlihat kedinginan.

Mereka memakai sepatu bot dari kulit dan masing- masing membawa sebilah pedang panjang dan satu lagi berbilah pendek.

Senjata-senjata tajam itu berada dalam sarungnya yang diselipkan pada ikat pinggang.

Tetapi di antara ketiga orang itu ada yang berbeda penampilannya. Dia tampil lebih elegan. Rahangnya kekar dan sorot mata tajam.

Orang gagah ini berambut panjang dan kumis menyambung dengan jenggot, tetapi tetap menampakkan ketampanan dan berwibawa.

Lalu seseorang berjalan mendampinginya. Ia tampak gagah pula tetapi wajahnya dingin dengan air muka bengis.

Walaupun rambut bagian atasnya diikat, tetapi panjang dan tergerai sampai menyentuh bahu.

Sementara itu orang yang menuntut tali kekang berjalan di belakang mereka dengan khidmat.

Yang luar biasa adalah hewan yang dituntun pada kekangnya.

Hewan ini mirip keledai, tetapi sepasang tanduk di atas kepalanya seperti tanduk kambing.

Dua pasang kakinya sangat kekar dan berkuku besar pula. Ekor keledai ini panjang dan bulu-bulunya mekar seperti ekor burung merak.

Ketika tiga orang itu lewat persis di depan mata Jake dan Kirani, barulah ketiganya berdiri terpaku melihat kehadiran orang lain.

Mereka terkejut ketika menyadari kehadiran Rani dan Jake.

Di saat yang sama Jake dan Rani pun ikut kaget hingga melepas pegangan satu sama lain. Keduanya telah melihat kehadiran mereka yang telah berada di depan mata.

Kedua pihak saling berhadapan dan melihat satu sama lain seolah-olah tidak percaya pada apa yang sedang dilihatnya! []


Air muka ketiga orang itu tampak sekali terkejut campur takjub melihat manusia dalam pakaian yang asing dan berbeda dengan mereka.

Rani dan Jake pun tidak kalah terkejut dan heran pula.

Mereka melihat ada manusia lain di tempat seperti ini karena sepanjang pengetahuan di planet Saturnus tidak dihuni oleh manusia.

Dua orang dari mereka maju menghadapi Rani dan Jake. Tampak sikap segan dan penghormatan dari mereka ditunjukkan kepada Rani dan Jake.

Kedua orang itu merangkapkan kedua tangan masing-masing sambil membungkuk.

“Sadalladm ...,” ujar orang berbadan besar dan bertampang bengis.

“Hadammabad hashem nget,” sambungnya. “Danglim Magadorr. Apadakh danade denawddar ladengidt?”

Tentu saja Rani dan Jake menjadi kikuk karena tidak mengerti apa yang mereka katakan.

Orang itu menyambung perkataannya. “Kadimikeda marmedunujka dahyangad jedepututnubuwadat.”

Pada saat itu Mattew dan yang lain sudah datang. Mereka datang tergopoh-gopoh pula melihat ada orang asing di tempat itu.

Mattew dengan ramah menyodorkan tangan mengajak berjabat tangan pada orang paling dekat dengannya. Ia senang melihat kehadiran orang-orang asing itu yang tidak di duga berada di tempat ini.

Orang paling berkarisma di antara mereka, justru terlihat kaget melihat Mattew mengajaknya berjabat tangan.

Tiba-tiba suasana berubah cepat. Orang yang diajak berjabat tangan mundur beberapa langkah sambil memegang hulu pedangnya. Begitu pula dua orang yang berdiri di belakangnya.

Orang yang berwajah bengis menepis uluran tangan Mattew.

Dan tidak berhenti di sana, tangganya mendorong dada Mattew.

“Hei!” semua teman-teman Mattew berteriak protes melihat tindakan kasar orang itu.

Namun Mattew masih tetap memasang wajah riang.

“Santai Bro ...,” ujar Mattew sambil mengangkat bahu. “Aku cuma mau kenalan dengan kalian!”

Tapi orang kasar itu mengacungkan jari memberikan tanda ancaman kepada Mattew.

“Mudennader!” bentaknya. “Jadengad sedentudtu duadakadimi.”

Sayang, Mattew tidak paham situasinya dan dia malah menganggap situasi tidak serius.

“Jangan terlalu serius, kita ngopi dulu,” ajak Mattew sambil menurunkan ranselnya dan mengambil sebuah termos kecil. “Aku bawa cukup kopi untuk kita supaya lebih santai.”

Mattew bergerak memutari si tinggi besar hendak mendekati orang yang satunya lagi.

Rupanya usaha Mattew dianggap oleh mereka sebagai tindakan mengeyel sehingga si tinggi besar mendorong dada Mattew lebih keras daripada yang tadi.

“Dentidi!” bentaknya. “Sidiadh!”

Kali ini Mattew yang mulai tidak senang. Segala usahanya mencairkan suasana tidak berhasil.

“Hei!” ujar Mattew sambil mengangkat kedua tangannya, “Jangan main kasar! Aku bersikap ramah, kenapa balasanmu seperti ini?” keluh Mattew.

Kirani menjadi kuatir keadaan menjadi di luar kendali. Lalu Ia menegur Mattew.

“Matt, mundur!” suruh Rani.

Tetapi justru yang terjadi malah sebaliknya. Mattew dan si wajah bengis saling berhadapan muka.

Sekalipun Mattew termasuk jangkung, tetapi dibandingkan si badan tinggi besar, jidat Mattew hanya setinggi hidung lawannya.

Tangan kanan si badan gede di letakkan pada hulu pedangnya, sementara Mattew bertolak pinggang dan tampak sekali Mattew tidak gentar sedikit pun. Semua ini memaksa Rani tampil menengahi mereka.

“Sudah, Matt!” Kirani melerai.

“Ntar dulu,” kata Mattew. “Dia harus diajari sopan santun!”

“Kamu tau gak,” kata Rani, “Sekarang situasinya jadi gak enak!”

“Tapi, Ran,” bantah Mattew.

Sekarang Rani berdiri di antara si muka bengis dan Mattew.

Sementara itu di belakang Rani, orang yang diajak berjabat tangan bicara ke si muka bengis.

“Adn tedep!” kata orang itu yang bernada menegur kepada si tinggi besar dan bermuka bengis.

“Udurdeng badalidk badae de!”

Tampaknya si tinggi besar bertampang bengis patuh pada apa yang dikatakan orang itu.

Melihat hal itu, malah Mattew semakin merasa tidak dihargai.

“Hei! Bicara apa, kamu?” tanya Mattew.

Mattew bicara lantang ke teman si jangkung berbadan gede. Tapi orang gagah itu mengacuhkan saja. Dan mereka bertiga malah berjalan menjauh.

Ketiga orang asing memutar badan pergi dari tempat itu. Melihat hal itu Kirani berbalik badan ke arah Mattew, sambil bilang, “Biarkan mereka pergi!” []


Tiga orang asing itu berjalan pergi dari tempat itu. Tetapi rupanya Mattew tidak terima begitu saja.

Dari balik tubuh Rani, Mattew meneriaki mereka.

“Enak aja loe.” Mattew mengejek mereka. “Udah songong, sekarang pergi begitu saja. Huh!”

Tidak disangka si tinggi besar menghentikan langkahnya.

Rupanya si tinggi besar dan bertampang kasar habis kesabaran pula menghadapi kengeyelen Mattew. Ia berbalik badan lalu berjalan menemui Mattew.

Untuk kedua kalinya Rani ditempatkan pada posisi berdiri di antara mereka.

“Mau apa lagi kau?” tantang Mattew.

Lihat selengkapnya