Sudah beberapa hari ini aku kepikiran pernyataan cinta Kak Dimas, bukan apa-apa, hanya saja gue bingung gimana cara jawabnya. Gue tahu, gue enggak ada perasaan apa-apa sama dia, hanya perasaan kagum saja. Sudah hampir sebulan gue belum juga berani menjawab. Ada perasaan canggung yang menggelayut di antara kami berdua. Gue takut kalau gue jawab dia, perasaan canggung itu makin nyata. Tapi kalau gue enggak kasih jawaban, gue jahat banget enggak sih, membiarkan orang lain berharap.
Setelah berpikir panjang, dan enggak mau ada kesalahpahaman di antara semua orang, gue putuskan untuk menjawabnya Hari Minggu ini. Gue akan berusaha sebaik mungkin agar dia enggak tersinggung dengan apa yang ingin gue katakan.
Akhirnya kuberanikan mengirim pesan ke Kak Dimas.
“Hay, Hari Minggu lo sibuk enggak? Ada yang gue mau omongin berdua. Bisa enggak kalau ketemu sebentar?”
Beberapa menit kemudian, pesan itu terbalas.
“Hy, oh enggak kok, gue santai aja. Oke nanti gue jemput di rumah lo?”
Gue baca pesan itu, aduh kalau dijemput, gue makin enggak enak banget lagi. Gue harus bisa berkilah ini.