Gue merasa grogi banget dari tadi pagi, ini sudah jam sebelas, jantungku rasanya enggak karuan. Gue mencoba menenangkan diri gue sendiri, dari tadi malam gue mikir gimana memulai pembicaraan ini. Ternyata enggak semudah itu kalau harus ngomong sesuatu yang pada akhirnya menyakiti hati orang lain, apalagi gue sama Kak Dimas sudah lumayan akrab.
Pikiran gue masih enggak karuan tapi gue harus tetap siap-siap pergi. Gue mandi dan mempersiapkan diri gue. Gue enggak mau kalau sampai Kak Dimas tiba di rumah gue, dia harus nunggu gue. Enggak enak ya kan. Apalagi pada akhirnya bakal bikin dia, mungkin merasa sakit.
Gue nunggu dengan perasaan yang enggak tenang. Bolak-balik gue cek notifikasi ponsel gue. Tiba-tiba pintu kamar gue diketuk, ternyata si Mbok tergopoh-gopoh bilang ada yang datang. Gue langsung tahu kalau itu Kak Dimas karena ini tepat jam satu siang. Gue langsung mengangguk dan mengambil tas, kemudian langsung turun ke ruang tamu.
“Hai, udah lama kah nunggunya?” gue basa-basi.
“Oh enggak kok, baru aja datang.”
“Mau istirahat dulu, atau mau langsung berangkat?” tanya gue lagi.
“Emm, papa-mama lo ke mana? Gue mau sekalian pamit.”
“Oh, hari ini bokap sama nyokap gue dan adik gue lagi pergi keluar, katanya ada urusan.”
“Yaudah, berangkat aja kalau gitu kita, lo udah siap kan?”
Tanpa gue bicara gue nunjukin tas yang sudah gue tenteng sedari tadi, Kak Dimas langsung mengerti. Dan kami berdua akhirnya berangkat. Gue berusaha tenang di depan Kak Dimas, gue enggak mau dia tahu kalau gue lagi grogi. Berasa mau ujian sekolah, gue grogi banget. Gue berusaha tersenyum kalau Kak Dimas melihat gue.