Rope & Hope

Arzen Rui
Chapter #2

Chapter tanpa judul #2

Dari balik dinding aku mendengar nada tinggi suara seseorang. Aku tidak bisa memastikan suara siapa itu, juga tidak tahu apa yang sedang dibicarakan. Pilihan paling baik bagiku hanya lanjut belajar.

Aku mulai belajar dari jam tujuh hingga jam sembilan malam. Dua jam, mempelajari ulang apa yang tadi diajarkan di sekolah.

Makan malam berangsur menjadi semakin aneh dari hari ke hari. Tadi aku hanya menemukan dua piring kosong yang saling berjauhan di meja makan. Meski begitu piring punyaku bisa kurasakan masih hangat.

Begitu lewat ruang tamu, hanya ada televisi yang menyala tanpa ada yang menontonnya. Biasanya ayah dan ibu menonton TV bersama. Kalau tidak menonton serial drama kesukaan ibu, biasanya mereka hanya akan duduk bersama menonton acara kuis yang selalu meriah setiap tayang.

Ayah biasanya menonton berita atau pertandingan sepak bola hingga larut malam, tapi kali ini tidak ada siapapun di depan TV. Ia hanya menyala. Memainkan acara TV seperti biasanya seolah rutinitas itu akan terus berlangsung setiap harinya.

Terkadang aku bangun di tengah malam karena tidur terlalu awal. Pola tidurku adalah saat aku tidur di bawah jam sembilan pasti aku akan terbangun di tengah malam. Entah itu terbangun karena ingin buang air kecil atau suara-suara aneh. Biasanya, karena hal ini aku jadi kesiangan.

Aku selalu meletakkan ponselku di samping bantal. Aku tidak tahu apakah aku akan kesiangan atau tidak, jadi aku menaruhnya untuk berjaga-jaga saja. Tapi terkadang alarm yang aku setel tidak berjalan sesuai rencana. Karena terkadang aku sama sekali tidak mendengar alarm di ponselku berbunyi. Sering kali aku bangun dengan kondisi sunyi yang tak dapat dijelaskan.

Kali ini aku sudah berada di halte lebih awal dari kemarin. Itu karena aku bangun lebih awal, meskipun tanpa alarm. Namun yang menjadi masalah bukan tentang pukul berapa aku bangun, masalah lainnya adalah apakah lalu lintas di jalan macet atau tidak. Sama saja bohong kalau aku sudah bangun pagi tapi bus langgananku terjebak macet di jalan. Sepertinya hari ini aku bisa bebas dari keterlambatan, bus-ku sudah datang tepat waktu.

Aku punya teman di sekolah yang sering mengajakku atau membujukku pergi ke bioskop. Dia selalu tahu jadwal dan informasi tentang film terbaru. Terkadang dia menawarkan ganti, jika aku mau diajak ke bioskop dia ingin ganti menemaniku ke toko buku. Aku tidak ada maksud untuk menolaknya. Hanya saja aku perlu waktu untuk menabung. 

Membeli buku memerlukan dua minggu menabung. Itu jika harga bukunya berkisar 70rb atau di bawahnya. Kalau harganya lebih mahal maka aku harus menabung lebih lama lagi. Itulah sebabnya aku harus pikir panjang saat ingin menggunakan uang sakuku untuk hal lainnya. 

Aku lebih suka komik karena gambar tidak pernah membuatku menebak-nebak perasaan seseorang. Tidak seperti orang dewasa. Namun cukup menarik melihat para aktor melakukan berbagai macam ekspresi wajah palsu. Tentu semua yang melihatnya akan tahu bahwa itu hanyalah akting, tapi di luar film, apakah mereka semua bisa membedakannya?

Hujan sore ini sungguh deras sekali. Tidak sedikit pun aku melihat celah untuk kabur dari halte. Menunggu bus tiba membutuhkan waktu jika tidak sesuai jadwal keberangkatan. Hari ini aku dipastikan pulang terlambat.

Aku suka buku, terutama komik. Tapi suasana di perpustakaan berbeda. Aku kurang menyukainya karena kurang terawat. Oleh karena itu sekolah membuat aktivitas tambahan untuk semua siswa. Dan hari ini bagianku, itulah sebabnya aku pulang terlambat.

Kegiatan perawatan perpustakaan meliputi penataan ulang serta membersihkan rak-rak buku. Juga melakukan pengecekkan daftar buku, berjaga-jaga jika ada yang meminjamnya tapi lupa mengembalikannya.

Sayangnya aku lupa membawa payung. Sekarang aku tidak bisa ke mana-mana. Berdiam diri bukan lagi pilihan melainkan satu-satunya pilihan. Aku tidak tahu harus melakukan apa selagi menunggu di halte.

Lihat selengkapnya