Sore di Ruang Teh Istana
Cahaya matahari sore yang keemasan menyelinap lewat celah tirai renda jendela setinggi langit-langit, menyebar lembut di setiap sudut ruang teh keluarga istana yang luas. Udara di sana terasa begitu hangat, seolah dinginnya angin musim tak pernah berani mengusik ketenangan tempat ini. Di atas meja kayu jati tua yang permukaannya mengkilap, terdapat piring-piring keramik halus berisi berbagai macam kue kering dan manisan, serta teko porselen yang masih mengepulkan uap tipis. Aroma teh melati yang harum dan menenangkan berpadu sempurna dengan wangi mentega dari hidangan di meja, menciptakan suasana yang begitu damai, akrab, dan penuh kehangatan keluarga.
Di salah satu sisi meja yang menghadap langsung ke taman bunga mawar, duduklah WiAo Elisabeth Yeri bersama dengan salah satu cucunya. Wajahnya yang sudah mulai menampakkan garis usia tetap memancarkan keanggunan dan ketenangan yang tak tergoyahkan. Di hadapannya terdapat sepotong kue keju yang tampak lembut dan lezat—hidangan yang hingga kini tetap menjadi kesukaannya. Perlahan ia menikmati setiap gigitan, membiarkan rasa krim yang pas meluncur di lidahnya, menikmati waktu tenang yang jarang ia dapatkan di tengah kesibukan istana. Di piringnya masih tersisa dua potong kecil.
Belum sempat ia menyentuh potongan kedua, ia merasakan kehadiran seseorang di sebelahnya. Sebuah tatapan tajam namun polos, penuh harap namun malu-malu sedang tertuju padanya. Yeri menoleh ke sebelahnya perlahan, dan tepat di sana, cucunya dengan rambut hitam legam dan sepasang mata bulat bening yang bersinar terang memandangnya penuh mohon. Cucu kesayangannya, Pangeran Jesen Xan Qie.
"Nenek," panggil Jesen dengan suara kecil namun jelas, seolah takut mengganggu ketenangan sang nenek.
Yeri tersenyum lebar, senyum yang mampu membuat kerutan di wajahnya tampak begitu indah dan penuh kasih. Ia menepuk-nepuk pelan sisi kursi di sebelahnya. "Ya, sayangku?."
Jesen awalnya ragu untuk beberapa saat, lalu menunjuk dengan telunjuk mungilnya tepat ke arah sisa kue keju di piring neneknya.
"Aku ingin kue itu," ucapnya polos, matanya tak berkedip sedikit pun menatap potongan kue yang terlihat begitu lezat itu.
Tatapan Yeri mengikuti arah jari kecil cucunya, lalu ia terkekeh pelan, suara tawanya terdengar seperti denting lonceng kecil yang lembut. "Jadi ternyata cucu tampan Nenek ini diam-diam sedang mengincar kue ini, ya? Mengapa tidak bilang dari tadi?"
Jesen hanya mengangguk cepat berkali-kali, pipinya merona merah karena senang ketahuan, namun matanya semakin berbinar antusias.