RT.00/RW.00

Lasmana Fajar Hapriyanto
Chapter #1

1. Rumah yang Tak Beralamat

Aku tidak lagi tahu harus menyebut desa mana sebagai kampung halamanku. Yang tertulis di KTP-ku hanyalah RT.00/RW.00. Kadang-kadang aku bingung harus mengatakan sesuatu pada orang-orang yang bertanya. Namun, naasnya aku tidak benar-benar sendiri. Banyak yang mengalami kejadian serupa denganku.

Hari ini aku duduk bersama sahabatku, Rendy. Dia menatapku lekat, sembari penasaran tentang hal-hal yang pernah menimpa diriku sewaktu kecil dulu. Matanya seperti pisau. Bola-bolanya bahkan menonjol keluar, seakan siap mendengar setiap kata yang muncul dari bibirku.

Dia mendekat ke arahku. Mungkin karena aku pernah menceritakan sesuatu yang salah kepadanya. Ah, aku ingat pernah mengatakan bahwa aku pernah tinggal di desa mati itu. Desa yang kini ditumbuhi tanaman lebat dan setengahnya lagi tenggelam, tepatnya berada di Kecamatan Porong. Mungkin ini yang membuat rasa penasarannya tumbuh. Kemudian kami membahas tentang Pemilu. Aku bercerita, jika saat itu aku adalah salah satu geng golongan putih (golput) karena tidak terdata alamat. Bagaimana mau memilih? Di TPS mana aku diterima?

Aku menyodorkan KTP ke arahnya. Sekilas mata Rendy yang besar terkesiap. Pori-pori di kulit sawo matangnya melebar. Entah apa yang terjadi, seakan-akan itu aneh padahal bagiku adalah hal yang biasa. Rata-rata orang di tempatku juga sama seperti ini. Tak ada alamat. Entah apa makna alamat bagiku. Absrak. Menurutku, tak ada alamat berarti tak ada “rumah” di dalamnya. Tak ada keluarga di dalamnya. Aku sering melihat pertengkaran suami istri, kebangkrutan bisnis orang-orang di sebuah keluarga, pedagang yang kehilangan tokonya, anak-anak yang menangis akibat tak mendapat arti rumah. Itu adalah makna alamat bagiku. Semenjak kejadian itu, banyak keluarga yang menjadi kacau. Mereka tidak hanya kehilangan “rumah” secara fisik, tetapi rumah secara nyata.

Ini kisah nyataku, seorang anak yang tinggal di pinggir lumpur lapindo. Sebuah tanah basah mengandung metana yang merenggut setiap lini kehidupan menjadi tanah wisata yang dimanfaatkan oleh orang-orang parkir. Mungkin aku ingin menceritakan setiap detail itu dulu, ketika keluarga kehilangan tempat bernapas hingga konflik batin yang merenggut kebahagiaan secara retoris.

Di Fakultas Bahasa dan Seni, salah satu Universitas Negeri di Surabaya, di ruang baca ini aku mencoba mengungkap semuanya, berharap kemudian ditulis oleh penulis terkenal yang namanya sejajar dengan J.K. Rowling. Aku harap kisah ini bisa dibaca banyak orang yang menyayangi keluarga mereka di tengah cobaan bencana yang diberikan Tuhan.

Rendy menggaruk kepalanya yang tak gatal. Wajahnya masih tampak nanar. “Bagaimana kamu bisa memeroleh identitas RT.00/RW.00?”

“Kisahnya banyak, tentang keluargaku, orang-orang di sekitarku, dan lumpur lapindo tercinta. Sebenarnya aku cuma mau cerita ke kamu aja, kali aja kamu mau tulis kisah ini ‘kan?” ucapkan dengan alis tebal kanan terangkat.

“Ini soal rumah. Bukan cuma sebuah bangunan, tetapi juga soal rumah dalam bentuk lain,” lanjutku.

“Rumah dalam bentuk lain?” Rendy tampak nanar.

Aku menceritakan itu sekarang. Hal yang membuatku sedikit merasa trauma. Inilah hidup setelah lumpur lapindo menenggelamkan rumahku. Tapi … aku akan sedikit menuliskannya dari kaca mata masa kecilku.


Bagas Bercerita

Aku didefinisikan sebagai orang yang berkulit sawo matang. Kulitku di masa kecil sangat merah. Orang-orang memanggilku api. Di masa itu aku masih kecil. Aku ditimang oleh ayah ibuku sehingga belum tampak jelas kejadian itu. Yang aku ingat, ibuku menggendongku dan berlari sambil menangis. Kejadian itu kurasa terjadi pada tahun 2006, tepat dua tahun setelah aku lahir. Tentu ingatan itu masih remang-remang. Sebagai orang Sidoarjo, kamu tahu betul penyebab terjadinya luapan lumpur lapindo itu. Aku tidak akan berbicara tentang sejarah lumpur lapindo karena aku masih kecil dan tak begitu ingat, tetapi yang aku akan ceritakan adalah bagaimana dampak dari kehilangan rumah dan maknanya itu.

Banyak orang bertanya, mana desa asalku? Desanya bahkan sudah tenggelam. Aku berasal dari desa Minda. Desa kecil yang penuh arti, tempatku dilahirkan. Kata ayah, tetanggaku cukup baik. Aku sering dikecup mereka. Ibu-ibu penjual rujak Madura pun turut menempelkan gincu merah mudanya kepadaku.

“Rendy, mengapa mukamu seperti itu?” Aku memutus cerita melihat raut wajah Rendy yang cukup aneh.

Rendy meneguk salivanya, mendesis perlahan. “Jorok!”

Aku hanya menggeleng. Namun akan aku teruskan. Sesaat setelahnya, aku tidak pernah benar-benar tahu kapan desaku hilang. Orang-orang dewasa bilang, desaku hilang sejak lumpur datang. Tapi bagiku, Desa Minda tidak hilang. Masih ada rumah, masih ada jalan, masih ada suara ibu memanggil dari dapur, dan tentu orang Madura itu.

Sekarang, kalau ditanya asal, aku bingung harus jawab apa. Dulu aku selalu bilang, “Minda.” Sekarang, kalau aku bilang itu, orang-orang cuma diam sebentar, lalu mengangguk seperti mengerti sesuatu yang aku sendiri tidak paham. Namaku Bagas. Di KTP, alamatku tertulis RT.00/RW.00. Aku juga tidak tahu itu di mana. Tidak paham. Mungkin itu definisi sebuah rumah yang diberikan pada kita.

Kami pindah ke Desa Kesamba waktu aku masih SMP. Kata ayah, itu bukan pindah—itu “relokasi”. Aku tidak terlalu mengerti bedanya, tapi yang jelas, rumah kami bukan pilihan kami. Rumah kami yang asli adalah tempat kami dilahirkan. Rumah itu katanya tenggelam. Entah bagaimana terjadi. Namun aku ingat sedikit, kali pertama aku datang, rumah itu sangat kecil, temboknya rusak, banyak plester. Di depan ada tanah kosong yang katanya bisa jadi halaman, tapi sampai sekarang cuma jadi tempat rumput liar tumbuh.

Orang-orang desa membicarakan kami. Katanya kami makhluk ilegal yang membuat rugi desa saja. Entah mengapa banyak orang sirik pada kami. Jujur, aku tak menyukainya hingga saat ini. Namun, beruntungnya ibuku mendadak jadi superhero. Mataku ditutup. Katanya aku tak boleh melihat kuntilanak merah berjalan di depanku.

Lihat selengkapnya