Orang-orang tampak berkerumun. Aku tak melihatnya lebih jelas penyebab kerumunan itu. Beberapa wanita keluar menggendong anak mereka. Sekilas bayi laki-laki yang digendong wanita itu terdiam, tak seperti biasanya. Aku berusaha mendekat. Perlahan aku menginjak beberapa paving batu yang menutupi tanah. Beberapa lagi sudah beraspal.
Seorang anak kecil berlari kencang. Kemudian disusul yang lain. Salah satunya bahkan tak memakai pakaian sehelai pun. Aku menduga anak ini baru saja mentas dari pemandian sucinya. Namun bukan itu permasalahannya. Anak tersebut tiba-tiba melihat ke arahku, berjalan cepat, kemudian menodongkan alat kelaminnya. Kau tahulah apa yang terjadi selanjutnya?
Currrr ….
Air mancurnya keluar. Ia langsung pergi meninggalkanku. Untung saja aku menghindar dengan cepat. Aku melompat ke belakang dan selamat. Setelah diamati, dia bukan sembarang anak. Itu anak spesial. Disabilitas down sindrom. Ketika semua wajah di dunia mirip dengannya maka bisa kuidentifikasi bahwa itulah yang terjadi padanya.
Aku berusaha mengangkat celana panjangku, kemudian berjalan perlahan agar sisa-sisa air kencing itu tak membasahi celana hitam ini. Dengan memanfaatkan tubuhku yang jakung, aku mulai menjinjit. Mataku menerobos kerumunan. Ternyata seorang badut. Dia bergerak ke kanan dan ke kiri. Pinggulnya bergeol-geol. Ia memakai kostum ayam jantan. Tentu sangat persis dengan goyangan dan kepakan sayapnya dengan ayam yang asli. Bahkan sesekali aku melihat segerombolan ayam seakan tahu ada jenis ayam raksasa baru yang akan menjadi pesaingnya dalam mencari makan.
Aku berhenti sebentar, kemudian memutuskan masuk kerumunan yang sesak. Aku merasa seperti sedang antre sembako saja. Ketika melihat badut itu lebih dekat tanpa menjinjit lagi, aku mengingat siapa orang di balik topeng itu. Bagaimana aku tidak mengenalnya? Kami bertahun-tahun tinggal dengan rukun di sini. Ayah mungkin bersahabat dengannya. Umur ayah dan badut itu tak terpaut jauh. Pak Agus memainkan sandiwara ayam dengan cekatan. Anak-anak bergabung ikut menari dengannya. Tidak hanya tarian, tetapi Pak Agus membawa alat seperti sound system dengan suara dance ayam. Sebagai anak SMP, aku sangat ingin ikut menari dengannya. Namun, aku merasa tidak enak jika harus dilihat yang lain. Para tetangga ini munafik. Aku bisa saja dilaporkan mereka ke orang tuaku dengan cerita yang dilebih-lebihkan.
Aku melihat temanku yang ikut menari dengannya. Rasanya ingin sekali terjun, tapi bagaimana mungkin. Ini pilihan sulit. Namun beberapa temanku yang lain tampak menyaksikan Pak Agus dengan seksama tanpa ikut menari. Aku memutuskan bergabung dengan mereka.
“Kau tahu, bocah itu mengencingi diriku tadi!” seruku memulai topik.
Dimas mengangkat satu alisnya. “Bocah idiot itu?”
Rani kemudian menepuk punggung Dimas dengan kasar. “Jangan bicara sembarangan!”
Aku tidak berani mengatakan perkataan kasar itu. Ibu memintaku cukup diam ketika hal-hal di luar nalar terjadi. Orang tua bocah itu sangat sensitif, terutama jika menyangkut anak. Beberapa anak bahkan pernah dimarahinya karena mencoba membuat bocah itu tersiksa. Salah satu anak desa ini pernah melempar petasan kecil di dadanya hingga kulit dadanya terbakar ringan.
Orang tuanya sibuk bekerja, lalai terhadap anaknya. Tapi menurutku, wajar saja jika ia lalai. Lihat saja pekerjaannya. Berangkat pagi pulang malam. Jika tak ada penghasilan, tidak ada biaya untuk anaknya. Jadi kadang-kadang anak itu hanya dititipkan oleh tetangga. Semenjak lumpur lapindo, ekonomi orang tuanya runtuh. Dia harus berpindah rumah dan mengalami banyak pertengkaran hingga bercerai sampai hari ini. Tak habis pikir, mengapa ekonomi bisa membuat keluarga hancur? Aku tak mengerti sama sekali. Mungkin karena aku belum mengalami fase “dewasa”. Ternyata jadi anak kecil sangat menyenangkan ya!
Badut itu kemudian selesai menari. Kemudian dia mundur sedikit, berjongkok mengambil sebuah baskom hitam kecil untuk tadahan uang receh. Uang yang terkumpul cukup variatif mulai seribu, dua ribu, lima ribu, hingga sepuluh ribu. Anak-anak tampak sangat terhibur karena nyanyian dan tarian itu. Pak Agus kemudian datang kepadaku, menyodorkan wadah itu. Dia terhenyak sebentar, seperti ada yang salah dengannya. Namun aku tak begitu terlalu khawatir. Mungkin itu hanya perasaanku.
Aku merogoh saku, ternyata ada sedikit uang. Aku memberikan selembar uang dua puluh ribu ke Pak Agus. Aku ingat, ibu pernah mengatakan padaku untuk tidak pelit pada orang lain.
Aku kemudian memutuskan untuk mundur, membiarkan teman-temanku melihat pertunjukan lanjutan dari Pak Agus. Aku kemudian masuk rumah. Tiba-tiba saja mataku agak berat. Aku memutuskan untuk merebahkan diri. Namun angin semilir dari luar rumah menghipnotis mataku. Mulutku pun terbuka lebar. Rasanya sungguh sulit untuk tetap terjaga. Aku kemudian mulai memejamkan mataku dan tak ingat apa-apa lagi.
Dua jam sejak aku tertidur, aktivitas semua orang berjalan seperti normal. Mataku mulai terbuka. Masih remang-remang. Kepalaku terasa nyeri. Namun aku ingat sesuatu. Pak Agus yang malang itu. Aku jadi terpikir untuk datang mengunjunginya. Dia sempat berhenti sebentar saat aku memberikan uang nominal dua puluh ribu, sedangkan yang lain di bawah nominal tersebut. Aku merasa Pak Agus tertegun, tapi hatinya gembira. Tidak banyak yang memberinya uang. Satu anak-anak hanya memberikan 500 rupiah saja. Itu pun jika ada yang baik dengannya maka nominal paling tinggi adalah lima puluh ribu. Padahal pekerjaan semacam itu melelahkan, terlebih sangat gerah memakai kostum tersebut.
Aku berdiri, berjalan sempoyongan seperti orang mabuk. Dengan jalan kaki saja, aku sudah bisa sampai di rumah Pak Agus. Dia sudah pulang. Namun aku melihatnya lain. Pak Agus masih mengenakan pakaian badutnya, tetapi kostum kepala ayamnya itu dilepas. Kostum itu sebenarnya sangat mudah dilepas pakai. Untuk mengeluarkan tangan, Pak Agus hanya perlu membuka kancing. Di tangannya itu ada beberapa uang receh, termasuk uang yang aku beri tadi.