Aku melihat Rendy terpaku di sana. Dia masih berminat mendengar ceritaku, tapi wajahnya tampak sudah lelah. Mungkin cerita ini begitu berat ketika dia mendengarnya. Aku berhenti sejenak, menatap matanya lekat hingga ia tampak nanar dengan tatapanku.
“Kamu terlihat sedikit lelah? Kamu boleh istirahat dulu?!” pintaku.
Rendy mencoba membuka matanya lebar, kemudian merenggangkan kedua tangannya. “Mungkin aku sedikit lelah. Mata kuliah Sosiolinguistik yang diampu oleh Pak Budi sungguh membuatku agak frustrasi. Besok aku harus membuat abstrak lagi.”
“Bagaimana kalau kita jalan-jalan ke kantin FBS dulu? Di sana ada es cream yang enak pakai croissant! Kamu udah pernah coba belum? Harganya cuma 13.000 kok!” tawarku.
Aku berniat melanjutkan cerita di sana. Menurutku tempat ini agak sesak karena di sekeliling hanya ada buku dan judul skripsi yang bikin kacau kepalaku. Es cream FBS itu adalah takhta dari segala es cream. Setidaknya otakku akan merasa lebih dingin, begitu pula Rendy. Saat bercerita kepadanya, aku mulai sadar tahun 2018 sudah berlalu cukup lama hingga kini ternyata sudah memasuki tahun 2025. Begitulah hidup. Waktu cepat berlalu.
Aku dan Rendy melangkah keluar ruang baca menuju kantin. Sesampainya di depan stan, aku memesankan dua es cream itu. Pak tua tinggi yang melayaniku meletakkan dua buah croissant di dalam wadah, selanjutnya masing-masing croissant diberi es cream. Aku juga request toping oreo. Segera setelah menerima es cream tersebut, aku membayar dan mencari tempat duduk.
Perlahan, aku menyerok es tersebut dengan sendok bebek kecil yang diberikan bapak penjual tadi. Rasanya otakku menjadi dingin kembali. Dengan hati-hati, aku menoleh ke arah kantin es cream kembali. Mendadak kantin es cream sangat ramai. Aku tak menyangka setelah membeli es cream itu, ternyata banyak yang datang ke stan tersebut. Namun di satu sisi, aku mencoba menoleh ke arah stan sebelahnya—warung pentol—yang biasanya sangat ramai. Tapi pikirku, jam makan siang adalah waktu yang tepat untuk berburu pentol
Rendy melihatku kikuk. Ia menyoroti mataku yang tak berhenti melihat ke sekitar. Mata besar Rendy menyempit. Kepalanya yang berbentuk hampir kotak, sedikit menggeleng. Rupanya ia ingin membuatku tersadar. Tangannya terangkat dan mulai perlahan menggoyangkannya agar aku kembali fokus.
“Kamu … ada apa? Mengapa wajahmu begitu tak tenang? Bukankah es ini enak? Kamu merasa … masih panas? Tenang saja, ceritakan padaku di sini!” seru Rendy.
“Dari tadi aku melihatmu selalu memerhatikan warung sepi itu!” lanjutnya yang mulai menyadari gerak-gerikku.
“Aku tak apa-apa. Tapi … warung itu mengingatkanku pada sebuah musuh bebuyutan di keluargaku!” seruku dengan nada agak lantang.
Rendy cukup terkesiap. “Musuh bebuyutan keluarga? Siapa?”
Aku menarik napas panjang. “Penjual barang. Toko kelontong milik Bu Sundari.”
“Bagaimana ceritanya? Aku tak mengerti.” Rendy mengernyit.
“Kamu tak mengerti karena kamu tak mendengarkan dulu!” cercaku. Kebiasaan Rendy tak mendengar dulu sebelum mengatakan tak mengerti. Aku mendengus sebal.
“Jangan panas dulu, minumlah es itu satu sendok saja!” seru Rendy sambil terkekeh.
Aku hanya bisa mengelus dada. Jika bukan karena dia sahabatku maka aku tidak akan memaafkannya sampai malaikat maut menjemputku. Aku mulai menurunkan sedikit ego. Akhirnya sebuah bola lampu muncul dalam pikiranku. Aku ingat kejadian bertahun-tahun lalu.
Ayahku bercerita, sejak lumpur lapindo menenggelamkan rumahku, aku dan keluarga pindah ke desa Kesamba. Namun, kehadiranku tidak begitu diterima orang-orang. Banyak yang menatap kami dengan tatapan tak suka, terutama Bu Sundari si penjaga toko itu. Bu Sundari bergosip dengan tetangga lain. Sayangnya, banyak tetangga yang percaya dengan gosip itu. Bahkan ibu sampai ingin melabrak wanita itu. Ya, wanita paruh baya dengan badan gendut seperti bola bekel. Aku jengkel dengannya. Maka tak salah jika aku masih menjelekkan dia hingga hari ini.
Ibu sempat mendengar Bu Sundari ketika masih berada di pasar. Suaranya melengking seperti monyet. Bahkan mukanya saja ikut bundar seperti ban truk. Aku tak habis pikir dengan wanita si tukang pembawa kayu bakar ini. Munafik.
Ibu sempat melihatnya berbincang sembari membawa kantung berisi sayur bayam. Di sana ada tiga orang wanita yang sama cerewetnya.
“Dia orang pindahan itu ‘kan Bu?” tanya Bu Ida salah satu dari ketiga wanita itu.