Aku menatap Rendy, sedangkan Rendy menatapku. Kami saling antusias. Aku antusias dalam bercerita dan Rendy antusias dalam mendengarkan. Aku benar-benar tidak kuat jika menahan cerita ini sendirian. Mau tidak mau aku harus ceritakan ini kepadanya.
Namun, tatapanku buyar ketika mendengar suara yang cukup keras. Suara tersebut berasal dari masjid yang tepat berada di sebelah kantin. Tentu itu adalah suara azan. Aku memutuskan berhenti sejenak. Merapatkan jari-jariku dan meregangkan pergelangan tangan.
“Kamu enggak mau salat dulu?” tanyaku pada Rendy.
“Kamu belum selesai cerita ‘kan?” Rendy bertanya balik.
“Justru aku mau salat dulu sebelum bercerita kembali. Apa kamu enggak bosan dengan cerita terus menerus? Setidaknya dekatkanlah dirimu pada Tuhan. Berdoalah untuk temanmu ini agar segera mendapat tempat tinggal yang layak!” seruku.
“Tempat tinggal yang layak? Di kuburan?” Rendy terkekeh, sedangkan aku memukul sedikit kepalanya.
Setidaknya sebagai Muslim dia masih tidak meninggalkan salat. Beberapa orang di sini mengaku ateis padaku dan beberapa lagi tidak mau diajak salat Jumat bersama tanpa memberi alasan. Setidaknya Rendy masih memiliki nilai-nilai Pancasila. Huft.
Aku mulai berdiri. Tanganku terjulur ke arah Rendy, memintanya ikut berdiri. Ia pun mengulurkan tangannya, menempelkan telapak tangannya ke telapak tanganku dengan erat. Kami berdiri bersama, kemudian perlahan meninggalkan kantin menuju masjid yang hanya bersebelahan saja. Kami melepas sepatu bersama, wudu, kemudian lanjut menunggu iqomah.
Singkat cerita kami sudah selesai salat. Rendy mengajakku ke sebuah taman universitas. Di sana ada berbagai macam hewan, contohnya saja rusa tutul, merak, hingga angsa. Diikuti tempat itu ada beberapa gazebo dan tempat favoritku ada di gazebo paling ujung. Aku hanya perlu berjalan sebentar walau kaki ini rasanya lelah, ditambah matahari Surabaya yang terkenal ada dua.
Kami sampai di tempat itu, kemudian memilih lokasi ternyaman untuk duduk. Tidak terlalu ramai sih, tapi justru aku suka suasana yang seperti ini. Cocok untuk bercerita lebih leluasa. Ditambah lagi dukungan burung-burung di atas sana yang menambah kesan syahdu.
“Ngomong-ngomong, bagaimana kabar Bu Sundari?” tanya Rendy mencoba memulai topik.
“Kabarnya sih terakhir habis operasi usus buntu. Tapi sekarang aku enggak seberapa peduli dengannya. Biarkan dia menikmati waktu tuanya dengan penyakit!” tancapku saking kesalnya.
“Bagaimana dengan ibumu? Bukankah ibumu sangat menyayangi orang itu?” tanya Rendy sekali lagi.
“Masih sama. Dia tidak ingin mencari permusuhan. Bahkan tidak ingin sekalipun berkata buruk terhadap Sundari Sundel itu!” tegasku.
Aku menarik napas panjang. Kemudian aku melihat beberapa burung merpati terbang. Universitas ini memang ramah pada burung merpati. Aku pun suka melihat burung itu terbang. Vibes-nya kayak kota-kota di luar negeri. Beberapa makanan burung pun tersebar di sudut-sudut halaman.
Surabaya memang panas, tetapi di sini rindang. Banyak tanaman pula. Langit berwarna biru. Dedaunan menari tersapu angin. Beberapa tangkai bunga meliuk-liuk. Aroma wanginya menyentuh hidungku. Sangat memesona.
Aku melihat merpati itu lebih dekat. Seperti sesuatu yang aku kenal. Atau mungkin—yang aku pernah ingat. Kejadian di masa lampau. Di saat bersamaan Rendy menatapku curiga. Jika aku menatap sesuatu dengan lama, pasti ada cerita di balik itu. Rendy ternyata sudah hafal ciri khas dari sifatku ini. Rendy mencoba membuatku tersadar.
“Apa yang kamu lihat?” tanya Rendy curiga.
“Tidak apa. Aku hanya mengulang masa kecilku saja,” balasku dengan santai.
“Tentang merpati itu? Kamu melihatnya sepanjang waktu!” tebak Rendy dengan yakin.
“Kamu ingat tentang merpati pos Ren?” tanyaku lagi.
“Merpati yang selalu ditugaskan untuk mengirim surat? Itu sekarang menjadi logo Pos Indonesia. Memang sejarahnya merpati adalah pengirim surat dan dilatih untuk itu!” jelas Rendy.
Aku mengangguk. “Aku ingat tentang ibuku.”
Rendy mengernyit. “Ibumu? Apa hubungannya dengan merpati itu?”
Aku menggeleng. “Ibuku dulu suka mengirim surat. Ibuku hampir gila karena kehilangan rumah dan semua harta kami.”