Mentari perlahan turun dari takhta singgasananya. Suhu pun mendadak turun, tak sepanas tadi. Angin-angin menggelitik kulitku. Rasanya seperti mendadak diselimuti oleh semesta. Aku tak pernah janji pada Tuhan untuk selalu kuat, tapi Tuhan punya cara sendiri agar aku bisa menjadi lebih dan lebih dari apa yang aku inginkan. Tuhan punya cara untuk membuatku kuat.
Aku sekilas menatap langit. Warnanya sudah mulai oranye. Namun, fakultas kami tidak selalu tutup atau dikunci. Masih ada beberapa dari kami yang begadang membuat kerajinan tangan. Namun di sini, Rendy selalu menatapku. Antusias mendengar cerita-ceritaku. Sesekali aku melihatnya menguap, tapi ia ingin agar aku bercerita sampai akhir. Mungkin ini adalah cerita terakhir sebelum kami pulang.
Kami masih ada di taman universitas, lebih tepatnya kami sebut sebagai hutan. Kami tak khawatir jika gerbang dikunci karena ada salah satu pos masih dijaga satpam hingga 24 jam. Mungkin kami akan benar-benar ingin segera pulang setelah aku menyelesaikan satu cerita yang bertema “pulang” ini.
“Gas, kalau pulang, kamu lewat mana?” tanya Rendy sesaat setelah aku merapikan tas.
“Sepanjang sih biasanya,” jawabku.
“Berarti kita sama-sama lewat sana dong?!” ucap Rendy.
“Benar. Tapi satu pria yang tidak benar-benar pulang!” singkatku.
Rendy mengernyit. “Siapa? Maksudnya ada orang yang enggak pulang setelah seharian bekerja?”
“Bukan pulang dalam konteks itu! Tapi … dalam hal keluarga, mereka ini enggak begitu harmonis,” jelasku.
Aku sedikit ragu ingin menceritakan kisah ini, sambil membayangkan wajah orang yang mau kujabarkan. Dulu, cerita ini pernah kudapat darinya. Ia membuat janji padaku untuk tidak bercerita pada siapa-siapa tentang masalah ini. Namun, aku rasa bercerita pada Rendy tidak akan membuatnya marah. Rendy dan pria itu tak ada hubungan apa pun selama ini, bertemu saja tidak.
“Dia hafal semua jalan—kecuali hidupnya sendiri,” pungkasku.
“Maksudmu … hafal semua jalan? Seorang ojek?” tebak Rendy dengan matanya yang mulai menyempit.
Aku mengangguk.
“Aku merasa kasihan padanya. Di desaku, siapa yang enggak mengenalnya? Seorang pendatang yang kerjaannya selalu ribut dengan istrinya. Bahkan suara mereka terdengar sampai luar rumah. Tidak hanya itu, mereka bertengkar di mana saja, di jalan, di sekolah, dan di tempat keramaian. Mereka tak peduli itu. Setiap waktu dan setiap hari. Mereka tak pernah malu. Selalu jadi sorotan orang. Semua warga membicarakannya, tapi mereka acuh. Mereka seakan-akan mengatakan ‘ngapain peduli orang, orang enggak ada yang bantu kita!’ Begitulah,” ceritaku kepada Rendy.
Rendy mendelik tak percaya. “Enggak nyangka ya akan semengerikan itu!”
“Ya, ini kisah lain selain kisah si badut. Kisah sang driver online. Mereka sama-sama tersiksanya dengan kita,” jawabku.
Lebih lanjut setelah beberapa hari berbincang dengan Pak Agus, aku mendengar suara keributan. Setelah aku keluar rumah, ternyata tak hanya aku saja yang mendengarnya. Seluruh tetangga juga keluar. Beberapa orang segera pergi ke lokasi sumber suara. Ada suara anak kecil juga, lalu suara yang tak asing di telingaku. Aku pun memutuskan untuk ikut pergi ke sumber suara.
“Nata?!”
Betapa terkejutnya ketika menemukan sosok yang kukenal adalah teman sekolahku, Nata. Memang sebelum ini aku pernah mendengar ada sesuatu yang selalu terjadi di rumah Nata. Namun aku tak pernah melihatnya secara langsung. Baru saja hari ini aku melihat peristiwa itu.