RT.00/RW.00

Lasmana Fajar Hapriyanto
Chapter #6

6. Rumah Kontrakan yang Tidak Pernah Jadi Rumah

Aku masih membayangkan, cara cinta seseorang yang dapat berubah karena persoalan harta duniawi saja. Aku pun berpikir, apakah cinta itu sebenarnya dibentuk oleh uang? Apakah cinta itu benar-benar ada? Aku selalu menyaksikan teman-temanku yang saling bercumbu mesra. Namun aku tak tahu, apakah itu yang dinamakan cinta? Aku terlalu dini untuk memiliki cinta atau teman-temanku yang terlalu dewasa sehingga cepat memahami arti cinta?

Melihat keadaan Pak Suyatno yang seperti itu, aku tak tahu tujuan hidup yang sebenarnya. Atau … tujuan menikah? Jika tujuan menikah tidak jelas, bagaimana dengan ayah dan ibuku? Aku tak pernah mendengar sekali-kali mereka bertengkar hebat seperti yang dialami ayah dan ibu Nata. Apakah itu yang dinamakan benar-benar cinta?

Kali ini Rendy memutuskan untuk pulang. Kami juga butuh istirahat setelah jam-jam kuliah yang membuat lelah. Namun, ada satu tugas mata kuliah yang belum aku selesaikan. Aku harus membuat abstrak dari buku yang aku baca. Judul bukunya adalah “Pengantar Linguistik”. Namun, buku ini merupakan buku terjemahan dari luar negeri. Aku tak memahami bahasa terjemahan. Aku memutuskan untuk bertanya pada AI. Ya, chat GPT. Maklum sudah 2025 kalau enggak bisa pakai AI ya enggak zaman banget ya, ‘kan?

Ketika aku berada di rumah, aku mencoba membuka AI dan memasukkan seluruh file PDF itu agar AI bisa membaca isinya. Lalu, aku tinggal ketik untuk membuatkan abstrak. Aku tak peduli itu dibuat oleh AI. Dosenku sudah pada tua. Enggak banyak yang tahu cara pakai AI apalagi mendeteksinya.

Aku terdiam, tak tahu mulai dari mana untuk mengisi lembar jawaban. Aku lupa, hal-hal apa saja yang harus ada pada abstrak. Yang aku ingat dari kata-kata dosenku adalah … mendeskripsikan, menafsirkan, menggayutkan, dan menginterpretasikan. Mungkin ini saja dulu. Aku harus berusaha sendiri. Maksudku berusaha mengetik kata kunci di chat GPT-nya.

Pukul 20.00 WIB, aku sudah menyelesaikan semua abstrak. Aku tidak peduli nilai jelek, yang penting mengumpulkan. Tiba-tiba saja ponselku berdering. Benar saja, telepon dari Rendy. Pasti dia ingin bertanya padaku tentang tugas ini. Aku pastikan dia tak akan mendapat jawabannya. Bukan karena pelit, tapi karena jawabanku selalu sesat. Perlahan, tanganku terjulur menyentuh telepon genggam itu. Aku mengulurkan jari telunjuk dan menekan tombol hijau untuk menjawab.

“Kalau kamu mau tanya tentang besok, aku enggak mau!” tuduhku langsung tanpa basa-basi.

“Enak aja, main tuduh! Aku enggak mau nyontek tugas kamu ya!” balasnya dengan nada sedikit tinggi.

Aku tersenyum, kemudian tersipu malu. Enggak biasanya memang pria ini menelpon, tapi enggak nanya tentang tugas.

“Terus mau tanya apa kamu?” tanyaku mulai santai.

“Yang tadi masih kepikiran. Terus habis kamu pelukan gitu, apa yang terjadi?” tanya balik Rendy melalui sambungan telepon.

“Pak Suyatno tidur di masjid sementara. Namun istrinya mencari-carinya. Khawatir kenapa kok suaminya belum pulang,” kataku.

“Oh jadi, konsepnya si istri masih sayang sama suami?” Rendy mengernyit heran. “Kok aneh banget ya, tadi mau dipukul pakai gagang sapu!”

Aku mengangkat kedua bahuku. “Mana aku tahu?”

Rendy berdeham. “Kamu percaya enggak sih itu cinta?”

“Cinta yang toxic maksudnya?”

Rendy tak menjawab. Hening beberapa detik.

Ada yang aneh mendadak. Ada suara bising. Aku mendengar suara keributan dari luar. Suara barang jatuh. Aku menduga pasti keluarga itu lagi yang bikin ribut. Mungkin? Walau kami bertetangga agak jauh, tapi kadang-kadang suara dari para warga terdengar dari sini.

“Ren, Ren, kayaknya ada masalah deh di luar. Aku tutup telepon dulu, ya?” tawarku.

Jantungku mulai berdetak tak karuan. Masalah apa lagi ini? Aku mengumpat terus menerus. Semoga saja ini yang terakhir.

“Hah apa ada? Eh ada apa? Kok kamu kayak orang khawatir!” tangkasnya.

“Nanti aku ceritakan sekarang bye—

Aku mematikan telepon tanpa mendengar sepatah kata pun dari Rendy. Ibu pun keluar dengan langkah kakinya yang mulai layu.

Lihat selengkapnya