Aku hari ini memutuskan untuk berkuliah. Kelas mata kuliah Sosiolinguistik kebetulan diadakan pagi. Segera setelahnya aku mempersiapkan diri. Aku mahasiswa pulang dan pergi dari Sidoarjo ke Surabaya, begitu pula sebaliknya. Maka yang aku harus lakukan adalah bangun lebih pagi, mandi, dan berangkat. Sudahlah, masalah sarapan biar aku beli geprek kantin yang enak nanti setelah selesai matkul.
Satu jam perjalanan berlalu, aku langsung masuk ke dalam kelas. Banyak teman-teman menyapaku. Rendy tersenyum padaku dan telah menyiapkan satu tempat duduk di sebelahnya. Tanpa basa-basi, aku meletakkan tasku di sana dan mulai duduk.
“Bro, apa yang terjadi kemarin?” tanya Rendy sambil mengangkat satu alis kirinya.
“Bisa tidak, kita fokuskan dulu sementara untuk kuliah? Kamu ‘kan tahu dosen kita sedikit galak. Aku takut dapat nilai jelek!” seruku tegas.
Rendy hanya munyun seperti anak kecil. Tangannya dilipat. Ia tak mau berbicara lagi. Mendadak aku menatapnya serius.
“Jangan kayak anak kecil deh! Aku janji habis kuliah pasti aku ceritakan!”
Sebenarnya aku malas berjanji seperti itu. Namun karena ekspresi mukanya cuek maka aku harus mengundangnya agar tak marah lagi.
Rendy mulai tersenyum. “Bagaimana di istirahat pertama?”
Aku mengangguk. Setelah beberapa saat, dosen pun tiba. Kami akhirnya diminta untuk menunjukkan tugas abstrak yang lalu. Hari ini topiknya seputar masyarakat bahasa. Topik yang masih dasar. Aku merupakan salah satu orang yang ditunjuk untuk membacakan absrakku. Sial sekali hari ini. Apalagi tahu sendiri ‘kan aku enggak niat mengerjakannya kemarin karena lihat chat GPT.
Terpaksa aku membaca absrak itu. Aku membacanya dengan nada pelan, berharap teman-temanku yang ada di belakang atau di pojok ruangan tidak mendengar isi absrakku. Aku malu jika semua mendengar isi asbrak murahan ini. Yang penting mereka merasa tak mendengar maka aman sudah.
Namun, dosenku ini sangat peka. Ia benar-benar mendekat ke arahku langsung. Mendadak jantungku berdebar dua kali lipat. Ia kini berada di sebelahku, menatap ke arahku cukup lama sambil aku membacakan absrak itu.
“Kalian semua dengar?” celetuk dosenku dengan keras.
Celetukan itu disambut oleh para mahasiswa yang kompak mengatakan, “Enggak!”
Artinya suaraku sangat pelan. Aku harus meningkatkannya sedikit. Namun, tak begitu lama, aku telah menyelesaikan bacaanku ini.
Dosen tertawa padaku, seperti tawa ledakan. “Apa yang kamu kerjakan ini?”
Dengan polos aku menjawab, “Abstrak!”
Teman-teman serentak tertawa. Aku tak yakin apa yang mereka tertawakan. Tapi satu hal yang pasti, ada perkataanku yang salah.
“Ya tahu abstrak. Tapi substansi isi permasalahan kamu tidak jelas! Kamu belum memahami materi ini. Kamu enggak baca semalam?” tanya Dosen.
Aku menggeleng. Jujur, memang aku tak mau membaca. Buku terjemahan itu membuatku pening. Aku sudah membuka beberapa halaman dan tak menemukan topik itu. Paling masuk akal ya pakai bantuan AI.
Dosenku menepuk dahinya. “Hari ini kamu tidak saya anggap hadir!”
“Silakan tetap di sini dan dengarkan materi saya!” lanjutnya.
Aku benar-benar tak bisa menahan ekspresiku. Tubuhku mendadak kaku. Telapak tanganku mendadak dingin. Teman-teman menatapku dengan kikuk. Mungkin mereka heran, tak biasanya aku begini. Aku mencoba membungkam semua indraku.