Aku mulai tersadar di duniaku. Masih di tempat yang sama. Aku masih duduk di kantin Fakultas Ilmu Keolahragaan. Rendy masih berada di sampingku. Aku sadar ada dunia yang benar-benar berubah.
Aku melihat sebuah logo kampus di sembarang tempat. Aku mengingatnya sekali lagi. Ia sudah tak tinggal di sana sekarang. Renaldy yang malang itu sudah pindah lama. Aku tak pernah bertemu dengannya. Entah apa yang terjadi selanjutnya. Yang jelas, aku beruntung bisa berkuliah. Namun, bagaimana dengan nasib temanku itu?
“Kamu melihat logo kampus terus-menerus. Apa yang kamu pikirkan sekarang?” tanya Rendy, membuatku segera menatapnya.
“Kamu tahu? Tidak semua orang memiliki nasib yang sama. Apa yang aku ceritakan padamu adalah gambaran kecil takdir yang direnggut paksa tanpa kompromi,” jelasku.
Rendy mengangguk paham. “Kamu benar soal itu. Aku mendengar kesedihan dari Renaldy begitu ia mengatakan sejujurnya. Ia hanya ingin bersekolah dan bermain. Tapi anak itu sepertinya tak mendapat kesempatan.”
Aku menundukkan pandangan. “Aku melihat logo di kampus ini … karena aku hari ini memakai almamaternya. Aku tidak pernah menyangka sebagai sesama korban lumpur lapindo, ternyata kami memiliki nasib yang berbeda. Aku bisa bersekolah dan memeroleh pendidikan, sedangkan ia tidak. Sekarang keberadaannya tak aku ketahui. Mungkin jika kami bertemu lagi, kami tak akan saling mengenal.”
“Belum tentu dia tidak sukses hari ini. Siapa tahu dia sudah jadi CEO? Atau punya rumah karena ikut program televisi Bedah Rumah, mungkin juga diangkat anak oleh konglomerat, atau … juga bisa viral di media sosial karena sering live mandi lumpur!” tampik Rendy.
Aku tiba-tiba memikirkan itu juga. Apa pun itu, aku harap dia mendapat salah satu yang disebutkan Rendy.
“Kamu benar Ren, aku menganggap semua jalan sudah tertutup padanya. Padahal sukses enggak harus kuliah ‘kan? Dia masih bisa kerja yang lain kok. Tapi jujur … aku rindu sekali dengannya!” ucapku dengan nada menekan.
“Maka kamu bisa cari dia suatu saat nanti!” tegas Rendy.
Aku mengangguk setuju. Itu pun jika ketemu. Aku sudah berpikir aneh-aneh sebelum memulai. Maklum aku suka berpikiran terlalu jauh.
Aku kembali berdiri, kemudian berjalan ke arah kantin yang menjual es. Aku memesan satu es Teh Jus Gula Batu. Es ini mengingatkanku pada masa kecil. Aku sangat menyukai es ini bahkan setelah bertahun-tahun.
Aku duduk kembali. Menatap Rendy yang saat ini tampak lesu. Ia terduduk di bangku itu terus sambil menelungkupkan kepalanya di antara dua lengannya. Aku menduga, ia butuh tidur.
“Kamu bisa tidur dulu sebentar!” pintaku.
Rendy mengangkat kepalanya tegak. “Tidak masalah. Ketika kamu bercerita lagi maka aku tidak akan mengantuk!”
Aku mengerti sekarang. Rendy justru mengantuk jika aku diam saja di sini. Aku harus memulai topik baru. Ada salah satu topik yang aku ingat. Cerita ini berasal dari keluargaku