RT.00/RW.00

Lasmana Fajar Hapriyanto
Chapter #9

9. Minuman Es Manis

Aku memandangi sekitar. Kampus mendadak sepi. Tak ada orang lalu lalang atau bahkan sekadar membeli jajanan. Mungkin jam istirahat juga telah berakhir. Kebetulan aku sudah tak ada jam mata kuliah lagi.

Rendy tadi mendengar dengan seksama setiap ceritaku. Kantuknya pun hilang. Aku lega, dia puas terhadap cerita itu. Aku ingat satu hal, dosen minggu lalu meminta seluruh kelas membaca buku metode penelitian dan merangkumnya. Kalau kata orang, metode penelitian adalah mata kuliah yang paling mereka tidak sukai, justru metode penelitian adalah mata kuliah favoritku.

Sebenarnya kami hanya dibagi menjadi tiga kelompok. Targetnya presentasi tentang tiga metode penelitian. Metode penelitian yang dibagi antara lain metode penelitian kuantitatif, kualitatif, dan mix metode. Kami juga diminta buat yel-yel untuk mengawali presentasi agar semua semangat dalam mendengarkan.

Aku hanya berdecak sebal. Mengapa harus ada yel-yel? Aku merasa tak sejago itu, biasanya kaku banget kalau masalah nyanyi. Apalagi aku merasa bukan anak-anak yang harus tepuk tangan dan mengucap kata hore.

Ngomong-ngomong, mengapa aku harus terpikir tentang mata kuliah? Di hadapanku ada Rendy. Tentu anak ini ingin aku menjelaskan kisah lagi. Aku harus benar-benar jelas dalam menerangkan kisah itu agar ia bisa menulis kisahku untuk dikirim ke penerbit. Untung-untung kalau jadi film ‘kan?

“Lagi mikir apa, Gas?” tanya Rendy. Telapak tangannya mencoba melambai ke hadapan wajahku seakan ingin menyadarkan lamunan tadi.

“Mikir metopen. Kamu emang enggak kepikiran apa?” tanyaku.

Rendy menggeleng. “Kok kamu kali ini kepikiran sih, aku aja enggak!” “Aku enggak bisa yel-yel, Bro!” singkatku tanpa basi-basi.

Rendy terdiam, kemudian memulai topik baru. Sepertinya ada beberapa pertanyaan yang merasuki pikirannya.

“Aku tak habis pikir masalah makam akan jadi panjang. Bagaimana aku bisa hidup jika banyak masalah di kampungku!” seru Rendy.

“Kamu bertanya padaku ‘kan? Caraku hidup di kampungku?” tanyaku memperjelas.

Rendy mengangguk. “Iya. Kamu kuat banget ya. Kalau jadi kamu, aku enggak bisa melihat dan merasakan itu semua. Rasanya kasihan sih.”

“Sebetulnya kami ini sudah terbiasa. Orang yang baru mendengar atau melakukan pasti akan merasa terkejut,” jawabku santai.

“Gas, Gas, berarti benar ya kalau kamu bakal dimakamkan di tempat itu? Jadi kamu sudah mempersiapkan tanahmu sendiri di sana?” tanyaku.

Aku mengangguk. “Benar. Bahkan aku yang hidup pun harus sudah mempersiapkan kematianku sendiri.”

“Kalau besok-besok ternyata aku kecelakaan di jalan sudah pasti kuburanku ada di sana,” lanjutku.

“Semua manusia pun pasti akan mati, Gas. Aku pun juga. Tapi jangan ngomong gitu. Seram, Gas!” larang Rendy.

Aku tidak mempedulikannya. Aku sudah siap mati saat ini. Namun, aku hanya ingin mati alami. Itu pun aku masih menunggunya. Entah kapan datang?

Aku menatap beberapa ibu kantin. Mereka sedang membereskan piring-piring yang kotor. Aku tersenyum sedikit.

“Ah … seorang Ibu,” ucapku perlahan. Rendy menatapku heran. “Maksudnya?”

Lihat selengkapnya