Taufan pada mulanya memang tak mengenalku. Aku pun tak mengenalnya. Namun jika berbicara tentang umur, kami sama-sama terlahir di tahun 2004. Ibu Taufan, Bu Mala merupakan seorang ibu rumah tangga saat itu. Ia benar-benar memerhatikan Taufan, tetapi satu hal yang belum ia punya, ilmu.
Taufan dididik dengan tegas, tetapi lembut. Banyak orang melihat Taufan seperti melihat masa depan di sana. Sejak kecil, Taufan sangat menyukai kegiatan melukis. Katanya, tanpa melukis hidupnya tak ada arti.
Saat itu orang tuanya masih bekerja dengan cukup layak. Tidak seperti kebanyakan orang tua yang memilih diam, orang tuanya benar-benar menghidupi keluarga. Taufan bahkan diikutkan kursus melukis. Prestasinya jangan pernah dihitung. Taufan bukan orang sembarangan. Sejak masih Taman Kanak-Kanak, Taufan memenangkan kejuaraan tingkat RT melawan anak-anak RT lain.
Kegiatan melukis pada akhirnya melahirkan Taufan yang sering duduk. Ia juga kurang minum. Belum lagi Taufan sangat suka minum es, membuatnya perlahan gemuk seperti ibunya.
Bu Mala menghampiri Taufan yang sedang duduk sambil melukis. Bu Mala melihat lukisan anaknya itu, sebuah gunung dan lautan yang indah. Ibunya pun tersenyum, kemudian mengusap-usap rambut anaknya.
“Lukisanmu sangat indah!” seru Bu Mala.
Taufan perlahan memeluk ibunya. “Terima kasih Bu. Berkat ibu juga, aku bisa les sama guru yang luar biasa.”
Taufan saat ini adalah Taufan yang masih berdiam di bangku kelas 4 Sekolah Dasar. Bakatnya semakin terlihat ketika ia berhasil mejuarai lomba-lomba melukis tingkat Kabupaten dan Provinsi. Semua mata tertuju pada Taufan. Koran-koran memberitakan prestasi tersebut. Taufan berhasil mendapat uang dari hasil kerja kerasnya sendiri. Bahkan beberapa kolektor datang langsung menemui Taufan untuk membeli lukisan yang telah disempurnakan.
“Berapa harga untuk satu lukisan ini?” tanya seorang kolektor. Taufan tersenyum. “Boleh satu juta, Om?”
“Satu juta? Siapa yang ajarin minta satu juta?” tanya kolektor tersebut. “Mama!” sahut Taufan singkat.
“Mama? Mama kamu nakal ya! Barang bagus kayak gini enggak pantes buat harga satu juta. Pantasnya sepuluh juta. Kamu masih kecil sudah berani berkarya loh. Saya apresiasi itu hasil kerja kerasmu!” ucap sang kolektor.
Taufan dan mamanya memancarkan pipi dengan rona kemerahan.
“Ambil saja karya anak saya. Jika kamu butuh karya yang lain, hubungi kami saja,” tawar Bu Mala.
Kolektor tersenyum. “Yang terpenting Taufan terus berkarya. Nanti kuliah bisa ambil jurusan seni.”
Bu Mala membayangkan anaknya setelah dewasa. Mungkinkah ia akan menjadi seniman terkenal? Bu Mala meyakinkan diri sendiri untuk bisa memberikan fasilitas pendidikan yang layak.
Saat itu seluruh keluarga Taufan sebenarnya sudah pindah dari lokasi desa asal. Perekonomian mereka juga sudah tidak stabil setelah peristiwa lapindo. Ayah Taufan tidak bisa kerja pabrik lagi, tetapi sebisa mungkin mencari uang untuk pendidikan anaknya. Walau dalam hal kesehatan Ibu Taufan tidak terlalu mengerti, tetapi Ibu Mala masih menjadi salah satu orang yang percaya bahwa pendidikan bisa mengubah nasib.
Di sekolah, Taufan tidak begitu disukai. Ia pun tidak begitu suka main bola. Kadang-kadang ia dijuluki bencong karena ketidaksukaannya pada bermain sepak bola. Taufan hanya diam saja. Yang penting, prestasinya moncer melebihi teman-temannya yang suka sepak bola itu. “Mau main bola? Jadi kiper aja kamu. Kamu enggak bisa kalau lari. Gendut!” seru salah seorang teman Taufan.
Beberapa orang menertawakannya bahkan sampai ada yang memukulnya padahal Taufan tak salah apa pun. Itu membuatnya bercerita pada Bu Mala. Siapa yang enggak tahu kisah Taufan? Bahkan ibuku saja sudah diceritakan detail kejadiannya.
Beberapa anak tukang rundung itu juga teman Bu Mala. Kadang-kadang Bu Mala sendiri sungkan menegur orang tuanya karena ia sebenarnya menjalani hubungan baik dengan teman-teman itu. Jika tergores satu permasalahan tentang anak saja, bisa perang dunia tiga. Namun, sebisa mungkin Bu Mala menjelaskan masalah tersebut dengan perlahan. Bu Mala tak tega anaknya menjadi korban perundungan.