RT.00/RW.00

Lasmana Fajar Hapriyanto
Chapter #11

11. Penjahit yang Menambal Segalanya

Tidak semua hal itu selalu baik. Apa pun yang dialami Taufan bukan karena ia sendiri saja, tetapi banyak faktor lain yang membuatnya sakit seperti itu. Melihat masa kecilnya yang sangat dimanjakan oleh makanan manis, itu juga membuat dirinya kian melemah. Tidak banyak yang menyadari tentang apa pun yang dimakan di masa kecil akan berdampak di masa dewasa. Taufan adalah gambaran sebuah keluarga yang tadinya harmonis, kemudian harus jatuh dalam lubang buaya yang dalam.

Di tempat ketika matahari mulai temaram ini, kami pindah dari kantin FIK ke danau kampus. Kami ingin melihat matahari terbenam. Banyak orang jual kreco dan es degan di tempat ini. Belum lagi siomay Bandung yang enak itu.

Rendy membeli siomay, begitu juga denganku. Sembari Rendy memesankan siomay, aku yang memesankan es degan. Aku yang sudah membeli es degan terlebih dahulu memutuskan untuk mencari tempat duduk. Aku pun menemukan tempat duduk yang menyenangkan. Di tempat ini aku bisa melihat sunset dengan indah.

Rendy kemudian mendatangiku. Sudah ada dua porsi siomay di tangannya. Satu piring diserahkan padaku.

“Berapa bro?” tanyaku.

“15K!” jawab Rendy singkat, kemudian duduk di sebelahku.

“Kamu … ada cerita lagi? Matahari sudah mau tenggelam. Sunset sudah sangat indah. Kalau ada cerita-cerita sedih, boleh loh kamu bagikan!” seru Rendy.

Aku mengangguk. Aku mengingat satu cerita.

“Ada kisah seseorang yang bisa menambal baju, tapi tak pernah bisa menambal luka keluarganya sendiri,” ucapku memulai cerita.

“Kamu mau bercerita tentang siapa?” tanya Rendy.

“Kamu pasti tahu orang ini,” ujarku dengan nada meyakinkan.

“Orang yang kamu ceritakan banyak. Yang mana satu? Ayolah jangan terlalu lama, keburu sunset hilang!” Rendy mendengus sebal, sedangkan aku menyeruput air es yang manis itu.

“Tenanglah. Jadi … orang aku maksud adalah istri tukang ojek. Pekerjaannya yang menjadi seorang penjahit membuat dia bisa menambal kain orang lain, tetapi tak bisa menambal keluarganya sendiri. 

Cerita ini bukan milikku saja. Ibu yang bercerita setengah dan setengahnya aku yang merasakan sendiri. Namun, cerita ibuku masih teringat dalam benakku hingga saat ini. Ya, tepat beberapa hari setelah pertengkaran itu, Pak Suyatno kembali ke rumah. Suasana sebenarnya masih baik-baik saja. Kami tidak mendengar keributan. Tetangga-tetangga tetap berbisik-bisik. Orang-orang pasar tak berhenti menceritakan geger yang pernah terjadi kemarin-kemarin.

Bu Puspa lewat pasar, beberapa ibu-ibu asyik mengobrol. Beberapa orang yang lain tampak menjauh. Orang-orang yang menjauh seperti orang yang ketakutan. Bahkan tampak dari pelipis matanya setitik keringat yang belum juga menetes. Melihat Bu Puspa yang berani melawan suaminya sendiri, rasa-rasanya ia akan berani melawan mereka-mereka juga yang ada di pasar tersebut.

“Bu … lihat tuh Bu … itu yang kemarin viral di desa ini ‘kan? Katanya suaminya mau bunuh diri?” ucap Bu Sundari mulai jadi kompor yang menyalakan api.

Beberapa ibu-ibu tertawa kecil, cekikikan saja.

Bu Puspa merotasikan matanya melihat para wanita itu. Tangannya mengepal seakan siap menghajar orang-orang itu.

“Isunya sih gitu. Siapa yang nonton kemarin? Daripada nonton piala dunia ‘kan, nonton keributan mereka lebih seru ‘kan ya?” balas Bu Dewi.

“Ah Dewi, jangan gitulah. Suami kamu ‘kan dokter! Mending tontonannya yang berkelas lah kayak piala dunia. Masa nonton rumah tangga orang sih?” sahut Bu Ida.

Lihat selengkapnya