Usai salat magrib di masjid kampus, aku kembali ke danau depan universitas untuk menikmati malam. Rasanya seperti berkemah. Aku melihat beberapa orang berlalu lalang. Jalanan sangat ramai. Beberapa orang sekadar memilih tempat istirahat di sini karena perjalanan jauh dan melelahkan.
Di sebelahku ada seorang ibu, ayah, dan anaknya. Mereka membeli sate kerang dan siomay. Aku melihatnya sambil berdecak kagum. Di antara banyaknya keluarga retak yang kerap aku temui, ternyata masih ada keluarga cemara yang membuatku takjub akan kebesaran Tuhan. Selama ini aku hanya melihat hal buruk di desaku, tapi enggan melihat kebaikan yang seterang ini.
Aku menatap anak itu. Persis seperti masa kecilku yang sering diajak ayah dan ibu makan di luar. Kebetulan memang masa-masa itu mereka masih jaya walau ekonomi pas-pasan. Apalagi setelah covid-19, rasanya semua berubah. Ekonomi semakin turun saja. Untungnya aku mendapat Kartu Indonesia Pintar Kuliah yang aku manfaatkan untuk belajar.
Aku sedikit mendekat ke arah orang tua mereka. Rendy menatapku nanar. Dia tak tahu apa yang aku lakukan. Dia seolah tak bisa membaca pikiranku. Namun, aku hanya ingin mengajak mereka mengobrol saja. Kadang-kadang, basa-basi sama orang lain juga perlu ‘kan? Enggak harus jadi orang sombong.
“Dari mana Pak?” tanyaku.
“Dari Menganti, Gresik,” ucap sang suami.
Si istri tersenyum ramah, sedangkan aku hanya berbicara saja dalam hati. Mereka habis pergi dari Gresik, lalu mampir ke sini. Menganti sebenarnya tidak cukup jauh. Hanya setengah jam dari sini.
“Kakaknya dari mana?” tanya si istri selanjutnya. “Kami dari … Unesa …,” ucapku.
“Oh kampus depan ini. Pantas saja kalian tampak terdidik,” jawab istrinya. “Terdidik?” sahut Rendy sembari menatap nanar istri tersebut.
“Pakaian kalian formal, sepatu hitam, rambut yang rapi. Itu namanya terdidik. Kalian berhasil membuat diri sendiri menjadi fokus perhatian karena hal-hal positif yang kalian miliki!” serunya.
“Anaknya umur berapa, Bu?” tanyaku lagi.
“Baru masuk kelas satu sih. Doakan ya, lancar sampai besar. Biar bisa seperti kalian pintar-pintar, bisa kuliah,” ucap istri itu.
“Ah … bisa saja, Bu!” sahut Rendy cepat.
Percakapan itu kemudian ditutup oleh senyuman manis mereka. Tak lama kemudian, mereka segera berdiri dan meninggalkan tempat, sedangkan kami masih di sini. Saat malam begini, suasana di Lidah Wetan cukup dingin. Kendaraan banyak. Macet di mana-mana. Daerah ini terkenal dengan daerah bisnis. Tak heran, orang-orang akan sering lewat jalanan sini.
Seorang anak kecil datang. Kali ini bukan anak yang compang-camping seperti anak yang pernah mereka temui di kantin Fakultas Ilmu Keolahragaan. Anak itu sepertinya bukan dari keluarga mampu, bukan pula keluarga menengah.
“Adik, apa yang sedang kamu lakukan di depan sini?” tanyaku masih mencoba bersikap ramah.
Anak itu menyodorkan sebuah wadah kotak bening berukuran besar yang di dalamnya berisi roti. Roti tersebut berbentuk bulat seperti bakpao, tetapi berwarna hijau. Beberapa kali anak tersebut menjelaskan rasa-rasa isi dalam roti tersebut. Katanya ada rasa coklat, keju, dan stroberi.
“Kamu jualan roti, ya?” tanyaku. Bocah itu mengangguk.
Aku mulai membuka kotak tersebut, kemudian memilih rasa coklat. Rendy aku belikan juga karena ia layaknya sahabat buatku.