Hari esok tiba dengan suasana yang lebih baik. Beberapa orang berkumpul di masjid Fakultas Bahasa dan Seni untuk mengerjakan tugas-tugas kelompok. Mereka bersama dengan kelompoknya masing-masing.
Aku menyukuri satu hal saat ini. Tidak ada banyak tugas. Hanya beberapa tugas kelompok. Kebetulan mata kuliah Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA) Tingkat Lanjut membutuhkan kelompok untuk berlatih mengajar menggunakan perangkat ajar yang dimengerti oleh orang-orang luar negeri. Aku berkelompok dengan lima orang teman, salah satunya Rendy. Beberapa orang mengajakku.
Ketua kelompokku, Anisa. Dia selalu punya cara untuk membuat kelompok menjadi menyenangkan. Kadang ia mendongeng, membuat, mencari bahan gibah, bahkan hingga menari-nari tak jelas. Semua itu dilakukannya agar tidak mengantuk sembari mengerjakan tugas.
Aku dan Rendy membuka aplikasi Canva. Kebetulan kami sedang mendesain Power Point. Walau zaman sudah canggih dan kami dapat menggunakan AI dengan sangat cepat, aku tetap tak mau karena AI di zaman sekarang menghalangi kreativitasku.
Aku menempatkan elemen sebagaimana mestinya, Rendy pun sama. Kami mencari desain yang estetik, kebanyakan warna desainnya coklat dengan latar belakang koran dan elemen sobekan kertas. Aku suka tipe desain seperti itu karena menurutku sangat menarik.
Tak lama kemudian, tugas itu telah kuselesaikan. Kami beristirahat sebentar. Masih pagi juga. Rendy mendekatiku, mengangkat satu alisnya seakan memberikan kode. Aku tahu kode seperti apa itu. Aku mengembuskan napas panas. Aku sedang lelah sekarang. Bisakah makan mie ayam kantin dulu? Batinku.
“Kamu ingin aku cerita lagi ‘kan?” tanyaku.
“Enggak, aku cuma ingin ajak kamu makan mie ayam aja!” elak Rendy. “Kok kamu bisa tahu sih?” tanyaku, “baru aja aku mau makan mie ayam!”
“Kamu menantang? Aku bahkan bisa stalker IPK kamu tanpa kamu mengerti. Aku bisa tebak, IPK kamu 3, 97, ‘kan?” tebak Rendy.
Aku terbelalak. Jantungnya mendadak berdetak cepat. Kok dia bisa tahu sih? Padahal aku berusaha merahasiakannya. Aku malu banget. Apa aku elak aja ya? Mana keras banget lagi. Aku takut teman yang lain dengar!
“Tahu dari mana kamu? Aku enggak sampai segitu kok!” seruku, mencoba membohonginya.
“Dari data Unesa! Kemarin sempat terbuka. Sekarang sudah hilang lagi,” ucap Rendy.
Kalau dari data kampus, pasti itu benar. Ah, ketahuan aku. Sekilas aku melirik Rendy, dia tersenyum ke arahku seperti senyuman pembunuh. Astaga, mungkin dia tahu aku berbohong. Aku menyerah.
“Kamu tidak bisa membohongi sahabatmu sendiri? Lagi pula, kenapa sih sama sahabat sendiri aja sembunyi-sembunyi?” tanya Rendy.
“Ya karena omongan kamu kadang enggak dijaga. Jangan keras-keras napa!” larangku. Rendy terdiam, kemudian mulai berdiri. Aku heran melihat tingkah lakunya. Mau ke mana sih dia ini? Aku tak habis pikir.
“Mau ke mana kamu?” tanyaku sambil mendongak ke arah Rendy yang lebih dahulu berdiri. “Kantin. Kamu mau makan enggak? Katanya tadi—”
“MIE AYAM!” sahutku.