Masih di dalam masjid Fakultas, aku dan Rendy menatap beberapa helai daun yang menari-nari. Daun-daun itu lumayan panjang sehingga angin dapat dengan cepat mengibarkannya. Setelah cerita barusan, Rendy tidak selera lagi untuk berbicara. Itu melelahkan, soal ironisnya hubungan keluarga yang saling menyakiti demi kekayaan dan uang.
Bagi Rendy, cerita itu sangat menyayat hati, terutama bagian ketika ibu meninggal karena anak-anak yang berebut harta waris. Cerita ini seharusnya aku simpan, tetapi justru lekat dalam ingatan sahabatku. Beberapa kali Rendy tampak ling lung seperti orang habis dicabut nyawanya atau—mungkin baru mau dicabut oleh Malaikat.
“Kamu masih kuat, Ren?” tanyaku memastikan Rendy baik-baik saja.
Rendy menggeleng pelan. “Aku masih tidak menyangka endingnya akan sebangsat itu. Aku sudah membayangkan mereka akan berpisah selamanya, tapi nyatanya tidak. Justru ibunya yang pindah ke alam lain.”
Aku mengerti maksud Rendy. Wajar sekali jika kisah ini menguras psikologis manusia. Wajar apabila Rendy lelah. Karena tidak semua cerita bisa diterima. Dan aku … mungkin salah satu yang lebih dulu kuat mendengar kisahnya dari ibu. Pak Mei dan Bu Siti menceritakan kisah itu detail pada ibu. Aku pun mengingat setiap kejadian dengan jelas.
Aku mengingat satu bagian cerita yang tak pernah aku ceritakan pada siapa pun. Cerita ini tentang seorang anak yang kehilangan asanya, cita-citanya, dan hidupnya. Cerita itu adalah tentangku, tentang orang tuaku. Namun sebelum melanjutkan cerita ini, aku meminta Rendy tenang dulu. Mungkin cerita-cerita yang aku buat mengandung unsur menagihkan sekaligus menyesakkan.
“Kamu sudah lebih tenang?” tanyaku.
Rendy mengangguk. “Kamu mau menceritakan sesuatu lagi?”
Aku balik mengangguk. “Betul. Kali ini soal keluargaku.”
“Kamu tahu, kadang-kadang keluarga yang terlihat cemara di depan hanya berusaha menyembunyikan semuanya sendiri. Kadang-kadang aku berpikir, mungkinkah semua itu nyata?” sambungku.
Aku masih kecil saat itu. Masih usia SMP. Mungkin kelas delapan atau sembilan? Cerita itu cepat sekali berlalu, kadang-kadang kami hanya tidak ingin mengingatnya agar mimpi buruk itu musnah dari pikiran.
Aku membawa tas ranselku. Aku letakkan tas itu di kedua bahuku. Sambil membawanya, aku tersenyum karena jam pulang akhirnya tiba juga. Saat itu memang tak ada yang menjemputku dari sekolah. Sekolahku bahkan tak jauh makanya aku jalan saja biar tidak ribet mengeluarkan sepeda.
Aku berlari. Saat itu aku merasa sedang berlari dengan kecepatan ikan paus. Walau aku pun sebenarnya ragu, seberapa cepat ikan paus berlari. Eh—maksudku berenang. Aku terlalu menganggap ikan paus sebagai mamalia yang berlebihan menurut versiku sendiri.
Sesampainya di rumah, aku mengetuk pintu. Tak ada jawaban sama sekali dari dalam. Aku kira pintunya terkunci karena biasanya kalau ibu menutup pintu, artinya pintu tersebut sedang dikunci dari dalam. Aku mencoba meletakkan telapak tanganku ke arah gagang pintu tersebut. Perlahan aku membukanya.
Aku mendengar sebuah suara. Itu seperti suara ibu. Perlahan aku masuk ke dalam. Ruang tamu acak-acakan. Aku menggaruk kepalaku yang tak gatal. Namun, semakin masuk, suara itu semakin keras saja.
Suara itu berasal dari kamar ibu. Dengan hati-hati, aku membuka kamarnya. Decit suara pintu terbuka tampak terdengar menggelitik. Saat itu juga aku melihat ibu sedang duduk melipat kedua lututnya di bawah meja kaca yang cukup tinggi. Aku belum bisa melihat matanya karena ibu sengaja membenamkan wajahnya di antara kedua tangan dan kakinya yang dilipat. Jantungku berdetak dua kali lipat. Perlahan aku jalan ke arah ibu. Aku bisa melihat jelas rambutnya yang acak-acakan. Aku tak tahu apa yang terjadi.
“Ibu?” panggilku ke arahnya.
Ibu tak menjawab. Ia masih mengeluarkan isak tangis.
“Ibu?” panggilku lagi.
Ibu masih belum respons juga. Tak menunggu lama, aku segera mengangkat kepala ibu perlahan. Mataku membesar ketika melihat ibu dengan mata merah seperti hantu-hantu yang ada di film. Rambut ibu yang tampak terurai, beberapa ada yang menempel di dahi dan pipinya. Air mata itu tak berhenti mengalir.