Aku yakin, ibu tak akan pernah bersedih. Tak akan pernah jika tak ada sebab khusus. Aku melihat ibu dengan muka murung. Mataku menyempit. Kulit-kulit dahiku mengerut, melihat ibu dengan kondisi seperti itu. Akhir-akhir ini ujian yang didapat ibu sungguh banyak. Mulai dari kehilangan rumah, kehilangan uang, kehilangan rasa, dan sempat depresi. Aku yakin ini sulit untuk ibu. Namun, aku melihat ibu selalu bisa melewatinya, menghancurkan semua halang rintang.
Rambut ibu acak-acakan. Aku menenangkannya perlahan. Perlahan kusentuh rambut ibu, mencoba meluruskan rambut itu kembali.
“Tenanglah Bu. Ibu harus ikhlas. Mungkin kita lagi ada di fase terbawah, tapi ibu harus yakin bisa melewati fase ini,” ceramahku pada Ibu.
Ibu hanya menatapku dengan tatapan kosong. Ia menghela napas berat.
“Bagaimana ibu bisa lupa dengan perlakuan ayahmu pada ibu? Ibu lelah untuk terus-menerus melalui cobaan yang tiada henti ini. Bisakah kita tak perlu punya cobaan? Mengapa Tuhan memberi cobaan yang berat padaku!” seru ibu.
“Tuhan memberi cobaan pada ibu karena ibu selalu kuat. Apa yang terjadi sekarang pasti ada alasan dan hikmahnya,” nasihatku.
Ibu berdiri, kemudian mulai berjalan. Jalannya sempoyongan seperti orang mabuk. Beberapa kali ia memegangi kepalanya yang nanar. Rasanya ingin sekali jatuh, tapi ia mencoba menahannya. Aku selalu mendampingi ibu. Tidak akan aku biarkan terjadi pada ibu. Sekalipun ibu pingsan hari ini, aku akan membawanya sendiri ke rumah sakit.
Aku tidak tahu di mana ayah. Aku heran, di situasi seperti ini, seharusnya ibu ditemani oleh ayah. Bisa saja ibu bunuh diri jika tidak ditemani. Tapi beberapa detik kemudian aku sadar, mungkin ibu butuh sendiri atau ayah sengaja menghindar agar ibu bisa menenangkan diri. Aku pun sedikit menyadari, ternyata peran ayah sangat hebat di sana. Ia ingin menafkahi anak-anaknya, tapi mungkin caranya salah. Ayah juga terkena tekanan mental secara tidak langsung saat ini.
Aku mencoba mengerti keadaan ayah. Dengan cara ayah salat taubat, aku yakin ayah akan merasa bersalah. Entah sampai kapan? Bahkan mungkin ayah tak akan siap bertemu denganku setelah kejadian ini.
Ibu masih berdiri dengan tangan yang aku gelayuti. Ibu mendadak melihat cermin di meja kacanya. Tangan ibu menyentuh rambutnya yang berantakan, lalu mencoba merapikannya kembali. Begitu rambut itu dibuka, ada sebuah luka di kepalanya.
Aku terbelalak. Mataku bahkan tak bisa berkedip beberapa saat. Aku tak tahu harus apa. Bahkan di rumah tak ada kotak obat. Orang-orang seperti kami tidak membeli alat-alat seperti itu. Bahkan lemari kaca ini peninggalan orang-orang terdahulu yang pernah kontrak di rumah ini.
Aku jadi menyesalinya. Aku menyesal tidak bisa menggunakan obat-obatan. Seharusnya aku menjadi anggota Palang Merah Remaja saat itu. Sungguh, jika aku tahu hal ini akan terjadi maka aku akan bergabung dengan mereka.
Sayangnya tidak ada yang mengajakku untuk menjadi seorang Palang Merah Remaja. Aku akan percaya diri menjadi ketua atau wakil ketuanya di sana. Sungguh, tapi entahlah aku tidak pernah sombong.
Jari-jari ibu mulai meraba lukanya. Air mata ibu mulai kembali keluar. Aku takut ikut kembali mengalami depresi atau bahkan gangguan kejiwaan. Selama ini ibu selalu menjadi korban dalam setiap hal.
Semakin ke sini aku semakin melihat, ternyata semua ibu sangat berjasa. Bagaimana tidak? Lihatlah pengorbanannya sekarang. Ia tidak hanya mencari uang untuk anak-anaknya, tapi juga memberi banyak kasih sayang.
Semakin ibu meraba, ibu semakin mendesis pula. Luka itu menurutnya sangat perih. Beberapa sentuhan di luka itu membuat darah menempel pada jari-jarinya. Ini mungkin adalah sesuatu yang gila.
Lebih lanjut lagi, ibu menutup luka itu dengan rambutnya kembali seakan ingin melupakan lukanya. Perlahan ia menghapus air matanya. Ia menarik napas dalam-dalam, kemudian matanya menatap tegak lurus ke depan seakan mengatakan, “Aku siap!”