RT.00/RW.00

Lasmana Fajar Hapriyanto
Chapter #16

16. Tukang Bangunan yang Tidak Pernah Selesai

Pernahkah kamu membayangkan sebuah keluarga yang dari yang kutahu sangat cemara, tiba-tiba berubah menjadi keluarga yang memiliki keretakan? Itulah keluargaku. Selama ini, ibu selalu menyembunyikan semua masalah dariku. Ibu bahkan tidak akan bercerita jika aku tak tahu kondisinya saat ia menangis lalu.

Rumah selalu menyimpan tempat untuk bercerita. Rumah selalu punya ciri khas khusus yang membedakannya antarsatu dengan lainnya. Rumah punya berbagai macam cara untuk memilih sebuah jalan. Rumah dapat menjembatani manusia dalam membangun dunia alternatif mereka sendiri.

Untung saja, ayah berjanji untuk melakukan apa saja untuk membayar semua utangnya. Ayah memilih bertanggung jawab daripada kabur. Ayah tak meninggalkan ibu atau membiarkan ibu menanggung utang sendirian.

Cincin pertunangan itu ibu simpan kembali. Cincin itu adalah lambang dan simbol cinta mereka saat muda dulu. Tidak mungkin ibu menjualnya dikala ia ingat janjinya untuk selalu menyimpan benda itu.

Ayah mulai berterima kasih pada ibu. Cincin itu akhirnya kembali ke tempat semula. Ayah ingin agar hubungan mereka berdua berjalan semestinya dan apa adanya. Hubungan harus dilandaskan cinta dan kasih sayang. Jika salah satunya jatuh maka yang dipilih adalah bersama-sama membangun hubungan tersebut kembali.

Rendy mengambil sebuah tisu dalam tasnya, kemudian mulai mengusap air matanya perlahan. Beberapa kali ia terisak. Dadanya pun terasa sesak. Napasnya terengah-engah. Air mata itu mengalir hingga menetes ke arah ubin masjid.

“Kenapa kamu enggak bilang kalau ceritanya akan sesedih itu?” Rendy masih mengisak ingusnya yang dari tadi berbunyi nyaring.

“Kalau aku tak pernah cerita maka tak akan ada pelajaran yang bisa diambil dari sebuah keluarga,” ucapku sembari tersenyum ke arahnya.

“Lalu, apakah ibumu baik-baik saja setelahnya? Apakah kalian mampu melewatinya? Itu hari-hari yang sulit untuk kalian!” seru Rendy.

Aku tersenyum. “Kamu jangan khawatir, semua baik-baik saja.”

Rendy mengembuskan napas lega.

Rendy sebenarnya sudah mulai paham tentang makna sebuah keluarga, begitupun aku. Hari ini, aku memahami sebuah makna keluarga. Mungkin, cerita-cerita yang akan aku bawakan selanjutnya bisa menjadi sebuah kisah yang amat mendalam lagi, yang bermakna, dan bermanfaat bagi semua orang.

“Kami sudah berdamai dengan semua. Utang itu masih ada, tetapi tinggal sedikit. Jujur, sebenarnya aku menyesal masih berkuliah sampai sekarang. Jujur, aku sungguh ingin bekerja membantu mereka. Namun, aku rasa, aku tak mampu. Tugas kuliah begitu membelengguku seperti sebuah penjara hantu di bulan puasa yang setelah lebaran, aku akan bebas begitu saja. Ya, aku menanti lulus. Tapi di semester depan, aku harus menghadapi serangkaian percobaan pembunuhan. Magang. Sungguh aku tak percaya berada di fase semester akhir dari status mahasiswa baru.

Sebenarnya, mata kuliah hari ini telah kuselesaikan dengan baik. Sebaiknya hari ini aku segera pulang. Mungkin kurasa sudah cukup bercerita dengan Rendy tentang masa lalu kelam itu.


Aku harus menemui orang tuaku di rumah. Lagi pula, aku lelah. Tidak biasanya aku seperti ini. Tapi Sidoarjo panas. Terutama lewat jalan A. Yani dan Perempatan Gedangan. Aku sungguh tak bisa. Rasanya seperti mau pingsan.

Setelah satu jam lebih perjalanan, aku sampai rumah. Ayah dan ibuku berada di luar sekarang. Mungkin beberapa bulan lagi akan masuk musim hujan. Aroma air dari langit sudah tercium. Atau mungkin—hanya perasaanku saja.

Lihat selengkapnya