Malam ini purnama datang lagi. Seperti biasa, ia sedang bertakhta di puncak singgasana. Sedangkan aku di sini berbaring di ruang tamu, menelungkupkan seluruh anggota tubuhku menghadap bawah, sambil memainkan remote, mencari siaran televisi yang bagus.
Berita lumpur lapindo yang menguap tampil lagi di siaran televisi itu. Memang, setiap tahun lumpur lapindo bisa saja menguap. Beberapa kali di titik-titik tertentu tanggul sedikit bocor karena terlalu penuh. Biasanya, pemerintah bekerjasama untuk membangun tanggul tersebut kembali. Orang-orang di sana takut, tanggul akan menutup perlintasan kereta api.
Malam ini, acara spektakuler dangdut aku saksikan. Kadang-kadang aku memberikan suara untuk perwakilan-perwakilan daerahku. Apa salahnya ‘kan? Kita memang harus saling membantu, bukan? Aku yakin, kalau aku membantu orang lain hari ini maka aku pun akan dibantu di hari esok. Tapi yang terpenting, membantu tidak selalu mengharap imbalan ‘kan? Ayah datang dengan senyuman manis yang terlempar ke arahku. Tatapannya menelisik seakan mencari tahu tontonan seperti apa yang aku lihat sekarang.
“Kamu lagi apa?” tanya ayah, “nonton apa?”
“Piala Dunia, Yah! Maksudku … dangdut!” seruku sambil menepuk mulut karena kesalahan ngomong itu.
Aku mulai bangun. Ayah langsung datang, duduk di sampingku. Ayah melempar senyumnya lagi.
“Sudah pukul tujuh, kamu enggak belajar?” tanya ayah.
Aku menggelengkan kepala. “Sepertinya aku bosan di rumah, ayah. Aku mau keluar sebentar. Ayah masih mau nonton? Kalau sudah, aku mau matikan ini.”
Ayah mengangguk. “Iya. Main-main di luar sana!”
Ayah menggosok-gosok rambutku dengan telapak tangannya. Hatiku langsung bergetar karena ayah biasanya tidak selalu melakukan hal itu.
Aku kemudian keluar, beberapa menit kemudian menghirup udara segar. Angin datang dari mana saja. Aku mendongak ke atas, melihat rembulan yang gagah. Warna kuning dari sinar matahari, berubah menjadi warna keorangean.
Perlahan, mataku melihat sekitar. Ada sebuah rumah yang sangat terang hanya beberapa meter dari rumah ini. Rumah itu masih tampak dengan mata telanjang dari arah jauh. Aku bergumam, apakah ada acara di situ?
Beberapa kali memang aku kerap menemukan rumah itu bersinar. Namun, aku jarang melewati tempat tersebut waktu malam hari. Aku rasa, itu pun baru. Sebelum-sebelum ini, rumah tersebut tampak seperti rumah-rumah biasa.
Aku melihatnya lagi. Mataku mengernyit. Sepertinya ada banyak orang di sana. Pikiranku langsung berkecamuk. Fix ada acara kayaknya ini. Mengapa mereka tak mengundang kami atau setidaknya mengajak kami? Bukankah kami juga masih satu RT dengan mereka? Aku tak habis pikir.
Biasanya, tetangga akan mengundang ibu-ibu termasuk ibuku ketika ada acara. Namun, rasanya kecewa jika ibuku tak diundang. Beberapa orang di sini memang syirik dan iri sama ibuku. Tahu sendiri ‘kan? Kami para pendatang, selalu dianggap remeh dan kadang-kadang faktanya memang jarang diajak kegiatan kumpulan.
Sekilas aku juga melihat anak-anak berlari. Aku langsung menebak dengan pasti. Mungkin acara ibu-ibu sosialita. Anak yang berlari itu masuk ke dalam lagi. Biasanya, ibu-ibu memang suka membawa anak saat acara kumpulan.
Tanpa basa-basi, aku langsung masuk rumah. Aku berlari dan tak mempedulikan panggilan ayah bahkan setelah ayah memanggil namaku berkali-kali dari ruang tamu. Segera aku pergi ke kamar ibu. Aku penasaran, acara seperti apa yang membuat kita tidak diajak?