RT.00/RW.00

Lasmana Fajar Hapriyanto
Chapter #18

18. Lampu yang Padam

Di tengah kehidupan yang serba memiliki masalah ini, aku sebenarnya tetap bersyukur memiliki keluarga yang masih hangat dan dapat mengatasi masalahnya sendiri. Beberapa keluarga bahkan ada yang tidak bertahan lama atau bahkan memilih jalan perpisahan. Jika seluruh keluarga di dunia seperti itu maka bagaimana dengan anak-anaknya? Apakah akan tetap stabil seperti seharusnya atau mengalami beberapa gangguan mental. Untungnya saja, tidak semua keluarga di dunia harus berpisah untuk menyelesaikan masalah.

Bagiku, keluarga yang baik adalah keluarga yang mampu menciptakan iklim hangat di dalamnya. Bagiku, keluarga-keluarga seperti ini layak diapresiasi. Pertengkaran itu pasti akan selalu ada, tetapi tidak semua harus berakhir dengan tragis. Keluarga yang mampu saling mengayomi adalah impian dari setiap manusia. Saling peduli, saling memberi nasihat, dan saling bahu-membahu dalam menyelesaikan masalah.

Hari ini, aku bertemu dengan Rendy. Minggu ini, ada sebuah acara bernama Surabaya Baca yang diadakan sebuah komunitas di alun-alun Surabaya. Tempat ini nyaman, tetapi ada beberapa lokasi yang langsung bisa disambut oleh matahari jika kita berada di area terbuka. Yang sebenarnya, kami berada di ruang bawah tanah. Ada tempat yang sudah digelar tikar. Orang-orang berkumpul di sana. Kebetulan ada banyak pameran lukisan sehingga tempatnya cukup ramai. Namun, aku tidak peduli. Yang terpenting, aku bisa mendengar sebuah riviu buku dan beberapa obrolan menarik lainnya.

Acara itu berlangsung cukup lama, hampir dua jam. Ada beberapa novel yang dibahas. Tema-tema novel tersebut sangat menarik. Beberapa novel memberikan penjelasan soal sebuah keluarga. Aku jadi yakin, apakah memang acara ini didesain hanya untukku?

Ada sebuah keluarga yang memaksakan anak-anaknya mendapat nilai tinggi. Ada juga sebuah keluarga yang terus bertengkar sepanjang hari. Ada pula keluarga yang tidak mempedulikan anak-anaknya. Hingga saat ini, aku merasakan sesuatu yang seharusnya hanya menjadi milikku, tetapi juga dimiliki oleh orang lain. Aku rasa, ada banyak macam-macam keluarga dan semuanya memiliki permasalahan. Aku menyadari, setiap keluarga ada jalan terjal masing-masing.

Acara itu kini telah selesai. Aku dan Rendy memutuskan untuk mengobrol sebentar. Aku menceritakan beberapa kejadian yang lalu, mulai dari anak yang bercerita tentang kehilangan rumah dan menggambar sebuah rumah dengan imajinasinya sendiri. Aku bercerita bahwa di tempatku tinggal sekarang, ada sebuah tempat belajar dan mengajar yang asyik serta terang menyelimutinya.

Rendy cukup membuka matanya lebar-lebar untuk membuktikan dirinya benar-benar merasa terkejut dengan hadirnya tempat seperti itu. Walau sebenarnya di tempat Rendy tinggal, hal semacam itu sudah ada. Namun, hal yang membedakan adalah adanya lampu dengan jumlah yang banyak, serta anak-anak yang sangat kreatif terutama anak-anak yang menggambarkan arti sebuah rumah baginya.

“Gas, ngomong-ngomong soal lampu nih ya, rumah kamu baru-baru ini mati lampu enggak, ya? Katanya sih akan ada pemadaman bergilir. Tapi belum tahu kapan? Kamu ada informasi?” tanya Rendy.

Aku menggeleng. “Aku tak pernah mendengar informasi seperti itu sih. Dari mana kamu dapat informasi?”

“Instagram,” sahut Rendy cepat.


“Hati-hati, sekarang banyak informasi dari media sosial yang isinya berita bohong semua. Jadi harus waspada. Siapa tahu beritanya enggak jelas!” seruku mencoba memperingatkan.

Rendy membuka telepon genggamnya, kemudian melihat postingan yang menampilkan berita tersebut.

“Benar sekali, sepertinya berita hoaks,” ucap Rendy setuju denganku, “enggak ada beritanya di Google.”

Aku mengangguk. “Benar sekali.”

Aku langsung termenung. Syaraf-syaraf otakku mendadak jalan lagi. Aku ingat sebuah kisah masa lalu tentang sebuah lampu. Tentang kegelapan yang selalu membayangi salah satu keluarga.

“Kamu ingin bercerita?” tanya Rendy, mencoba memancingku di setiap renungan yang aku lakukan.

Lihat selengkapnya