RT.00/RW.00

Lasmana Fajar Hapriyanto
Chapter #19

19. Orang yang Menolak Pergi

Menurutku, permasalahan orang-orang yang hidup di zona lumpur ini tidak hanya dialami mereka-mereka yang kehilangan rumahnya, tetapi juga jutaan orang di luaran sana. Mungkin ada orang-orang yang tampak bahagia di depan publik, tetapi pada nyatanya bahagia itu adalah semu.

Banyak selebritas dan artis yang secara tiba-tiba mengumumkan perceraiannya tanpa ada kontroversi sebelum itu. Ada artis yang memang sengaja kasus-kasus miliknya diketahui publik. Pada kenyataannya, baik orang dengan finansial yang baik maupun finansial yang buruk sama-sama berisiko menghadapi permasalahan dalam sebuah keluarga.

Cerita Nata saat itu memang singkat karena ia terburu-buru ingin memperdagangkan dagangannya keliling. Saat itu pula ada rasa yang tak tahu datangnya dari mana, menyentuh kalbu dan membuatku terbang setinggi-tingginya. Di tengah keterbatasan tanpa sayap, Nata merupakan sosok pekerja keras dan pria sejati. Ia rela mencari uang agar orang tuanya tak ribut lagi.

Nata pernah bercerita padaku. Aku masih ingat ceritanya sekilas.

“Aku sebenarnya lelah melakukan semua ini. Tapi gimana lagi, Gas. Enggak punya duit. Kalau lihat kamu sekolah dengan enak, dapat uang jajan, dan bisa makan ayam tiap hari, rasanya ingin sekali melakukan itu semua, Gas. Lihatlah adikku Lufi, bahkan di masa kecilnya ibu pun sudah mengatakan di hadapannya kalau Lufi tidak akan bersekolah. Lufi akan membantuku berjualan. Bahkan ijazah Taman Kanak-Kanak pun tak dipunyainya. Sungguh malang nasib adikku itu,” cerita Nata yang masih terkenang padaku.

Rendy tiba-tiba mengeluarkan gelagak tawanya. Berkali-kali memegang perutnya yang sakit karena tak berhenti tertawa. Ini membuatku sulit berkonsentrasi saat cerita.

“Kamu bilang hanya masalah celana dalam?” tanya Rendy kikuk.

Aku bereaksi biasa, tak ingin tersenyum atau menertawakan. “Ayolah. Mungkin kamu bisa tertawa, tetapi orang-orang yang merasakan hal-hal seperti ini tidak akan bisa seperti itu.” Rendy menghentikan tawanya. Ia terdiam sejenak seperti merasa tak enak padaku. “Baiklah, aku minta maaf. Seharusnya memang aku tak pernah menertawakan hal itu.

Suasana mendadak menjadi lebih dingin dari biasanya. Orang-orang semakin banyak yang datang. Kami masih di alun-alun Surabaya. Beberapa saat kemudian, kami memutuskan untuk keluar tempat museum lukis ini, mencari tempat nyaman untuk duduk.

Dekat sini ada sebuah perpustakaan. Tempat itu pasti nyaman untuk mengobrol. Beberapa saat kemudian, kami memutuskan pergi ke sana.

Sesampainya di perpustakaan, kami melihat beberapa orang ingin masuk ke dalam. Kami harus memarkirkan sepatu di rak tempat sepatu. Aku pun melepas sepatu itu, begitu juga dengan Rendy. Kami sama-sama memakai sepatu coklat ala anak muda.

Kami membuka pintu perpustakaan yang terbuat dari kaca. Ada beberapa aturan di sana. Sebelum masuk lebih dalam, kami harus meletakkan tas di sebuah loker dan mengambil barang penting saja. Kami tentu menuruti aturan tersebut. Kami pun membuka kunci loker dan memasukkan tas masing-masing ke dalam.

Aroma buku itu kian semerbak. Pori-poriku seketika mengecil karena ruangan ber-AC yang membuat tubuhku kaku. Aku mengira-ngira 16° C. Itu biasanya suhu maksimal kalau mau menurunkan temperatur AC.


Buku-buku di sana tersusun rapi. Banyak meja pula yang ditempati orang-orang. Aku memilih satu buku, Rendy pun sama. Aku mengambil buku ‘Laskar Pelangi’ yang menempati rak best seller, sedangkan Rendy buku Misteri Andong Pocong: Teror Lonceng Kematian Tengah Malam. Rendy memang sangat menyukai genre horor semacam itu.

Kami memilih tempat duduk yang kosong. Kebetulan masih tersisa dua tempat. Kami pilih satu yang ada di bagian depan karena bagian belakang penuh. Entah mengapa orang-orang suka menempati bagian belakang.

Rendy memintaku bercerita. Melihat ramainya orang-orang di sini, aku pun teringat sebuah cerita dengan tema yang sama. Sebuah keramaian.

Lihat selengkapnya