Hampir dua jam kami menikmati AC perpustakaan ini. Tubuhku mulai menggigil. Kulitku yang sawo matang bahkan sedikit pucat. Rendy tampak masih terduduk di sana dengan nyaman sambil membaca buku miliknya yang hampir saja tamat, sedangkan aku baru membaca sampai halaman lima, itu pun tak fokus karena sedari tadi aku hanya bercerita pada orang di depanku ini.
Perpustakaan mulai kehilangan penghuninya. Satu persatu dari mereka yang hobi membaca, kini meninggalkan tempat. Beberapa orang tampak meminjam buku di tempat administrasi, beberapa lagi terlihat masih ingin maraton menghabiskan sisa-sisa halaman.
Aku melihat anak-anak bermain. Di sana ada kumpulan ibu-ibu sosialita yang aku hitung berjumlah sekitar enam orang. Anak-anak mereka dibawa untuk mengenalkannya pada literasi.
Aku terdiam. Aku langsung terpikir untuk sesuatu yang lebih dekat. Ternyata orang tua zaman sekarang suka lebih peka terhadap pertumbuhan anak. Di zaman saat aku masih bersekolah dulu, orang-orang tua ini justru tidak berpikir terbuka soal pendidikan. Bagi mereka, pendidikan itu nomor terakhir dan yang terpenting bisa makan kenyang dari hasil bekerja secara instan.
Di zaman sekarang, banyak orang sudah memiliki kesadaran tentang berkuliah. Itu mungkin menjadi sebab mengapa ibu-ibu sudah mengerti untuk mengajak anak mereka membaca buku, meningkatkan literasi, mengenalkan buku, dan berkuliah saat sudah mencapai usia dewasa kelak.
Aku melihat keluarga itu lekat. Ternyata masih banyak keluarga seperti ini yang hidup dengan gelimang harta. Ada salah satu ibu-ibu yang memakai jam tangan merek termahal di dunia. Semua pasti tahu merek itu. Aku pun bisa menebak dari tulisan kecil yang tak sengaja terbaca di mataku.
Keluarga mereka sangat rukun tampak dari luar. Gosip mereka kadang-kadang enggak murahan, bukan seperti ibu-ibu kampung. Dari yang aku dengar, beberapa kali ibu-ibu itu menyebut bisnis di luar negeri. Tentu aku rasa, gosip semacam ini benar adanya jika melihat penampilan mereka dengan gaun-gaun mewah itu.
Aku menyadari, ibu-ibu di kampungku tidak mungkin bisa seperti itu. Terutama Bu Sundari. Yang ia bicarakan bukan bisnis toko kelontongnya, tapi justru membicarakan bisnis orang lain, misal bisnis ibuku yang sempat ia buat gosip dengan dua rekan dekatnya.
Kalau boleh minta, aku ingin sekali punya pendidikan yang terjamin seperti anak-anak mereka. Bagaimanapun, pendidikan adalah investasi masa depan. Orang-orang ini sudah sadar cara berinvestasi dengan baik.
Ketika aku merenungi anak-anak yang membaca buku dan bermain di tempat bermain, aku melihat Rendy sudah menyelesaikan bacaan bukunya.
“Jadi, apakah yang sudah kamu baca?” tanya Rendy padaku dengan mengangkat satu alis sebelah kirinya.
“Nothing!” singkatku.
Mata Rendy membesar. Ia terbelalak. “Jadi … apa yang kamu lakukan dari tadi? Aku bahkan sudah menyelesaikan bacaanku dengan cepat! Aku pakai teknik baca cepat sih memang.” Aku mengangkat kedua bahu. “Pikirkan sendiri apa yang aku lakukan tadi!”
Rendy menatapku kikuk seperti melihat orang aneh.
Aku mendadak terpikir sesuatu. “Kamu tahu Ren, aku merasa hidupku biasa-biasa saja.” Rendy tertawa perlahan. “Biasa? Kamu sudah melewati beberapa adegan luar biasa seperti di film-film!”