Hari Minggu adalah waktu yang aku tunggu-tunggu untuk menuntaskan tugas-tugas sekolah. Seperti biasa, aku juga akan membersihkan beberapa alat-alat penting yang ada di rumah, misalnya beberapa piala kejuaraan lomba, sepeda motor milik ayah, sepeda ontel milikku, dan mencabut seluruh sarang laba-laba yang ada di dalam sudut-sudut ruangan.
Saat ini aku masih membersihkan sepeda motor milik ayah. Aku membawa baskom hitam yang diisi air hingga penuh. Aku perlahan mengambil air tersebut dengan cibuk, kemudian menyiramkannya di sepeda motor tersebut. Setelahnya, aku menuangkan sedikit sabun dan menggosok sepeda motor tersebut dengan lembut.
Ibu memanggilku ke dapur. Posisi tanganku masih dipenuhi noda sabun. Perlahan, aku mencuci tanganku di baskom hitam tadi, kemudian pergi menemui ibu di dapur. Suara ibu sudah sangat nyaring memanggil namaku dari dapur. Sebab rumah ini yang kecil, bahkan suara ibu pun bisa terdengar sampai luar.
Aku kini berdiri menatap ibu. Tampak ibu sedang fokus memasak. Ia sama sekali tak memalingkan wajahnya padaku. Tapi, bau masakan yang ibu masak begitu menyentuh sisi terdalam indra penciumanku.
“Kamu sudah mendengar kabar?” tanya ibu. Aku masih belum melihat jelas wajah ibu karena ia hanya fokus pada masakan kare miliknya.
Aku menggeleng perlahan. Jujur, aku tak mengerti hal yang ibu bicarakan karena sedari tadi ibu tidak memperjelas. “Apa yang terjadi, Bu?”
Ibu menoleh ke arahku. Wajahnya tampak datar. Tak ada senyum sama sekali yang keluar dari bibirnya yang merah.
“Kamu tahu, Pak Agus badut jalanan yang biasa menghibur warga di hari Minggu? Aku sekarang tak pernah melihat wajahnya lagi. Beberapa kali memang terpantau ke luar desa untuk menghibur anak di desa lain, tapi entahlah mengapa di desa kita justru sering tidak hadir. Ibu tak tahu apakah di desa lain ia masih aktif atau tidak,” jelas Ibu.
Aku baru mengerti, ternyata Pak Agus sudah lama tidak bekerja. Mungkin saja juga menghilang karena beberapa hari ini tak terlihat. Aku mengernyit heran. Bagaimana bisa orang itu menghilang begitu saja?
Aku menggelengkan kepala perlahan meski ibu menoleh kembali ke arah masakannya. “Aku tidak pernah mendengarnya Bu. Beberapa kali aku enggak lihat ada Pak Agus di mana pun tempatnya.”
Ngomong-ngomong, beberapa minggu terakhir memang aku sudah menyadari sedikit situasi yang sepi. Awalnya, hari Minggu pagi akan dibuat ajang kumpul anak-anak untuk menghibur mereka di kala sedang libur sekolah. Namun, entah mengapa minggu ini dan minggu kemarin, anak-anak tidak berkumpul di depan seperti biasanya. Bahkan, bocah ABK yang sempat aku temui juga tak tampak batang hidungnya.
Aku menggaruk kepala yang tak gatal. “Kira-kira mereka ke mana, ya?” “Apakah kamu akan mencari tahu, Gas?” tanya Ibu spontan.
Aku mengangguk. “Mungkin aku akan cari tahu keberadaan mereka. Karena ibu tahu sendiri, Pak Agus punya anak yang ada di rumah sakit. Aku harap mereka tak kenapa-napa.”
“Kalau ibu tebak, anak Pak Agus baik-baik saja karena jika anaknya sakit parah maka akan ada kabar dari RT/RW buat kunjungan ke sana. Kalau ibu bisa tebak, kemungkinan sih pulang kampung, ya?” tebak ibu secara teoritis.
Walau ibu berucap seperti itu, rasa penasaranku langsung tumbuh seperti sebuah tanaman matahari yang mekar hingga angkasa. Tanpa berlama-lama di dapur, aku segera melangkah keluar dengan cepat untuk ke rumah Pak Agus. Aku tak peduli sudah makan kare enak itu apa tidak, yang terpenting aku bisa tahu ke mana perginya Pak Agus?
Di rumah Pak Agus dengan cat coklat dan empat pilar sanggah kayu itu, aku tak menemukan sosoknya ada di sana. Aku berusaha mencarinya lebih jauh. Misalnya di bawah pot atau mengintip di sela-sela bolongan pintu. Sesekali aku mengetuk pintu tersebut. Ternyata tak sama sekali muncul satu orang pun bahkan istrinya sendiri.
Ada seorang tukang gado-gado lewat. Dia melihatku mencari-cari seseorang yang tak kunjung ketemu. Aku ke kanan, lalu ke kiri, ke depan, setelah itu ke belakang. Aku tak menemukan Pak Agus. Hanya tukang gado-gado tadi yang membuatku sedikit lapar.
“Hei bocah, mau cari siapa? Mau maling ya?!” tuduh tukang gado-gado itu.
“Enak saja asal menuduh. Saya lagi cari Pak Agus, Pak. Lihat enggak? Biasanya ‘kan tiap minggu dia datang untuk menghibur anak-anak. Kenapa kok pintunya selalu tertutup?” tanyaku dengan nada ketus.