RT.00/RW.00

Lasmana Fajar Hapriyanto
Chapter #21

21. Data yang Diperbarui

Sekolah masuk pukul 07.00 WIB. Aku sudah siap dengan seragam SMP baru. Bu Puspa menjahitkan seragam ini untukku. Aku ingat cara Bu Puspa menempatkan detail-detail gambar batik beserta kancing bajunya. Aku pernah mengunjunginya sebentar untuk melihat progres baju yang ia jahit.

Saat kali pertama aku masuk gerbang sekolah, beberapa menatapku. Mungkin batinnya ada sesuatu yang berbeda dengan diriku. Orang-orang yang biasanya menjaga gerbang di antaranya OSIS, anak-anak Paskibra, dan guru-guru di depan. Tugas OSIS dan Paskibra biasanya sangat mengancam nyawa. Bagaimana tidak? Tugas mereka saja sudah berat. Mereka layaknya polisi, menilang anak-anak yang tidak memakai atribut lengkap. Tidak hanya itu, risikonya pun besar. Kadang-kadang setelah ditilang, pertemanan seseorang bisa rusak, bahkan menimbulkan pertengkaran pada ujungnya. Sangat mengancam nyawa, bukan? Apalagi anak-anak dengan muka garang. Justru ini yang ditakuti para OSIS dan anak-anak Paskibra.

Kewajiban mereka yang berisiko ini bukan tanpa sebab dan alasan. Pembina OSIS kami, Pak Sunaryo meminta dua organisasi itu menertibkan dan mendisiplinkan anak-anak. Awalnya mereka masih ragu-ragu. Ada rasa takut. Tampak dari pori-pori wajahnya berkeringat. Kadang-kadang melepaskan kakak tingkat karena diancam atau dipukul. Mereka yang hanya adik tingkat saja, hanya bisa mengangguk pasrah membiarkan kakak tingkat yang bandel setengah mati.

Namun, tenang saja. Aku tidak pernah takut masuk gerbang karena aku bukan orang yang suka melanggar kedisiplinan. Semua pakaian rapi, lengkap, dari topi sampai sepatu. Orang tuaku mengajarkanku untuk rapi. Aku terbiasa melakukan ini dari kecil.

Bapak dan Ibu guru juga menyapaku. Ada beberapa guru di sini. Bu Ani menyapaku lebih dulu. “Bagaimana kabarmu, Gas?”

Aku tersenyum balik. “Alhamdulillah saya baik, Bu.”

Aku segera masuk ke sekolah tanpa melihat orang-orang yang lainnya. Langsung saja aku masuk kelas. Beberapa orang tampak bermain kartu uno. Namun ada sesuatu yang berbeda. Aku mengernyit ke arah kelas, ternyata tampak sepi. Aku tak habis pikir, sudah pukul 07.30 tapi tidak ada orang lain selain orang-orang yang bermain uno tadi.

Namun, tiba-tiba saja beberapa orang ramai datang masuk ke kelas. Ada satu sosok yang aku kenal, tidak lain adalah Jamal. Ia bukan anak yang rajin masuk sekolah. Bukan karena memang tidak ingin bersekolah, tapi ia harus terus mengurus administrasi. Ada beberapa surat-suratnya yang hilang juga, tapi kali ini bukan akta seperti Renaldy. Bisa aku tebak mungkin kartu keluarga atau raport sekolah? Mungkin ayahnya ingin ia ikut agar kelak anaknya mengetahui cara mengurus data.

Sebenarnya, mengurus akta kelahiran itu sangat mudah. Ayah pernah bicara padaku soal itu. Beberapa hari yang lalu, setelah aku bercerita bahwa Renaldy temanku pernah memutuskan tidak sekolah karena kehilangan akta. Pemerintah sudah memfasilitasi pembuatan akta secara gratis.

Aku menduga, Renaldy memang tidak mengetahui tata cara urusnya karena tidak ada yang memandu atau tidak ada sosialisasi. Atau mungkin … orang tuanya sudah malas mengurus berkas-berkas.

Renaldy memang bukan orang mampu, makannya Renaldy diminta untuk kerja seperti Nata. Namun, sayangnya takdir Renaldy harus bekerja dari usia dini sedangkan Nata masih pernah merasakan sekolah.

Ada petugas datang, mungkin petugas administrasi. Beliau datang, setelah itu memberikan obrolan dengan Jamal. Saat itu juga, anak-anak langsung bergegas ke tempat duduk karena mengira ada guru yang mengajar hari ini.

“Jamal, bagaimana? Apakah sudah diurus kartu keluarganya? Boleh minta fotokopinya, Mal?” tanya petugas tersebut.

Jamal mengangguk. Ia langsung melepas ransel yang tadi masih dikenakannya, kemudian mencari fotokopi kartu keluarga. Waktu aku masuk SMP dulu, sistemnya sangat mudah karena kami bukan sekolah di SMP Negeri. Selama ini jamal juga diperbolehkan menggunakan Surat Keterangan Domisili karena masa darurat. Walau sudah lama tidak diurus dan baru diuruskan, setidaknya untuk urusan apa pun sekarang lebih mudah daripada tanpa punya kartu keluarga.

Jamal menyerahkan kartu keluarga tersebut. Petugas administrasi pun mengambil kertas itu dengan ramah.

Sebenarnya sudah lama Jamal dan keluarganya ingin mengurus. Namun, kadang-kadang aku tak paham mengapa mereka harus menunda-nunda? Jamal adalah anak yang pintar di sekolah. Anak itu sudah mulai paham cara mengurus administrasi, tidak sepertiku yang tak pernah diajari caranya oleh ayah karena apa-apa diurus ayah sendiri sehingga sampai kuliah pun tak tahu cara urus berkas.

Lihat selengkapnya