Setelah menikmati liburan dengan membaca buku, tentu kami harus menjalani hari-hari menyebalkan lagi, bertemu mata kuliah Sosiolinguistik. Mengapa harus Sosiolinguistik? Karena semua mata kuliah yang aku ambil, rata-rata gampang sekali dipelajari. Menurutku, Sosiolinguistik adalah mata kuliah yang paling menyeramkan.
Aku dan Rendy belum sempat mengobrol bersama setelah menceritakan adegan-adegan mengerikan. Namun, yang aku lihat dari Rendy kemarin adalah ekspresinya. Air matanya keluar sedikit demi sedikit, terutama setelah mengetahui nasib Pak Agus yang begitu buruk. Dalam sejarahku bercerita, entah mengapa Pak Agus adalah korban lumpur lapindo paling membuatku mengelus dada karena nasibnya. Walau begitu, Pak Agus sebenarnya masih kuat hingga saat ini.
Ia masih kuat berjalan, berlari, dan bekerja. Sama seperti ayahku, umurnya masih panjang. Keluarga kami masih bersahabat hingga kini. Walau Pak Agus belum juga dikaruniai anak kedua, tetapi Bu Mala tetap setia menemaninya. Sepasang suami istri itu saling mencintai satu sama lain.
Rendy dan aku kini bertemu di kelas. Kami duduk bersebelahan lagi. Duduk di depan kelas adalah tempat favorit kami. Namun, untuk mata kuliah ini, aku lebih pilih di bangku deretan kedua supaya masih bisa mendengar suara dosen.
Dosen belum masuk ruangan. Rendy mengajakku untuk berbicara sebentar. Nada suaranya sangat ringan sehingga hanya kami berdua yang tahu.
“Ceritamu kemarin sangat menyakiti hatiku, Gas,” ujar Rendy memulai topik.
Aku hanya mengangguk. “Kamu tahu, cerita itu adalah salah satu cerita paling tidak beruntung pada abad ini. Tapi aku yakin, orang-orang ini bisa bangkit. Satu-satunya yang ia miliki ialah rasa cinta. Pak Agus dan Bu Mala saling mencintai. Tidak semua suami dan istri bisa tegar dan tabah menghadapi cobaan yang berat bersama-sama.”
“Benar sekali Gas, contohnya Bu Puspa dan Pak Suyatno. Mereka tetap langgeng, tapi mereka tak memiliki hubungan yang sehat sehingga mengorbankan anak-anaknya,” balas Rendy percaya diri.
Aku mengintip dari luar, dosen sudah datang. Langsung saja aku memutus percakapanku bersama Rendy. Seperti biasa, aku tak akan berani mengobrol ketika dosen ini sudah datang. Segera aku memutuskan untuk mengambil buku catatan dan peralatan tulis.
Mata kuliah Sosiolinguistik sudah berakhir. Tidak seperti biasanya, aku memutuskan untuk pulang. Biasanya aku dan Rendy akan ke kantin dulu untuk makan, tapi kali ini tidak. Aku menyentuh kepalaku, ada hal yang menyakitkan, tapi tak tahu gejala apa. Tubuhku tiba-tiba lemas. Mungkin aku harus pulang sebelum panas terik membakarku. Bisa-bisa aku akan pingsan di jalan raya. Syukur-syukur tidak terlindas truk. Wajar sekali aku mengatakan itu, mengingat dari kampus ke porong rumahku memakan waktu 1,5 jam. Ibu tak membolehkan aku untuk kos di sini karena biayanya cukup mahal bagi aku yang memiliki perekonomian susah.
Sesampainya di rumah, seperti biasanya aku melewati rumah Bu Sundari. Kebetulan dia sedang duduk di depan rumahnya sambil membawa sebuah tongkat panjang. Usianya sekarang sudah cukup tua bahkan untuk berdiri pun sudah susah.
Namun, yang tidak kalah membuatku terkesiap adalah cara Bu Sundari menyapaku. Ia tersenyum saat aku lewat, kemudian menyebut namaku dengan lantang.
“Bagas!” sapa Bu Sundari.
Mataku seketika melebar. “HAH? INI ORANG BENERAN NYAPA?”
Aku hanya menggerutu dalam hati, tersenyum balik dan langsung tancap gas. Aku ingin segera berkabar ke ibu kalau ada yang salah dengan karakter Bu Sundari sekarang. Bayangkan saja, wanita ini selama bertahun-tahun memusuhi ibuku. Menyapaku saja tidak pernah. Apalagi ibuku.
Aku memikirkan motor di depan rumah dan langsung berlari masuk rumah dengan teriakan kencang.