Hari ini, Rendy dan aku memutuskan untuk mengerjakan proyek Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing. Rendy dan aku merencanakan tempat di daerah tempat tinggalku. Di sana ada sebuah tempat les yang pernah aku ceritakan dengan banyak anak yang bermain. Kalau siang, tempat itu sepi. Namun, menurutku Pak Herman dan Bu Susi akan mengabulkan permintaanku. Mereka senang kalau tempat ini menjadi ramai.
Aku memilih tempat itu karena ada papan tulis, spidol, dan alat-alat lengkap. Alasanku tidak memilih kampus sebagai tempat mengambil video microteaching karena tiap kelas di kampusku selalu dikunci sehingga aku tidak bisa masuk ke dalamnya. Ada beberapa kucing di tempat itu. Kadang-kadang beberapa kucing tersebut singgah di kelas yang tak terkunci dan membawa kotorannya masuk. Beberapa kali kejadian ini heboh menggemparkan fakultas karena tiba-tiba ada banyak tai kucing di dalam kelas. Meski begitu, kampus kami sangat ramah kucing. Kami memberikan makanan kucing setiap hari. Bahkan, kami punya komunitas pecinta kucing.
Fasilitas yang mumpuni di tempat les dekat rumah membuat aku memilih tempat tersebut sebagai tempat yang aman dan baik. Apalagi, tidak ada suara bising anak-anak saat waktu siang seperti ini.
Sebelumnya, aku meminta Rendy untuk meletakkan tas di rumahku dulu agar aku bisa minta izin ke Pak Herman dan Bu Susi. Sebenarnya, Rendy cukup berkeringat ketika ia akan datang ke tempatku. Wajahnya pun tampak pucat. Beberapa kali dia gemetar. Katanya, ia takut kalau yang aku ceritakan benar-benar terjadi di kampung ini.
“Kadang-kadang aku takut kalau yang kamu ceritakan kemarin, ternyata benar-benar terjadi. Lebih takutnya lagi, kalau aku lihat dengan mata kepala sendiri,” jelas Rendy.
Aku mengusap punggung Rendy. “Tenanglah. Kalau kamu lihat pun tak masalah ‘kan? ‘Kan memang jalannya seperti ini. Kamu malah leluasa menulis kisahku secara nyata.”
Ibu datang, kemudian menatap wajah Rendy dengan tatapan penasaran. Matanya menyempit, beberapa kali tampak kerutan di dahinya.
“Ini teman kamu? Siapa namanya?” Ibu bertanya.
Aku lupa tidak mengenalkan foto Rendy di hadapan ibu dulu. Yang ibu tahu, aku punya sahabat namanya Rendy. Namun ibu tak pernah tahu muka orang yang bersangkutan. Aku terkekeh perlahan karena itu.
“Rendy, Bu,” balas Rendy cepat tanpa ada omongan dariku.
Ibu langsung melebarkan matanya bukan kepalang. “Oh … Rendy. Yang pernah kamu ceritain ya Gas?”
Ibu bertanya padaku dengan wajah yang berbinar. Aku hanya mengangguk. Ibu langsung tersenyum begitu tahu Rendy ada di sana.
“Makan, ya?” tawar Ibu cepat.
Rendy menggelengkan kepalanya. “Enggak perlu repot-repot Bu. Cukup kok.”
“Sini, Gas kamu tak kasih uang sana beli makan sama beli es teh!” seru ibu.
Aku menerima uang dari ibu, lalu berangkat mencari penjual ayam geprek. Nasi geprek di sini hanya Rp.10.000 saja sudah dapat satu porsi. Aku membeli ayam geprek hanya lima menit, lalu beli es teh sebentar.
Setelah itu, aku kembali. Aku memberikan makanan itu pada Rendy. Kami pun makan bersama-sama sampai tiada habis tersisa.
Aku menggelar karpet di luar. Aku dan Rendy duduk di teras tersebut. Ibu yang masih berdiri di pintu mengawasiku saat sedang makan.
“Bagas, kamu mau ke mana sama Rendy?” tanya Ibu.