RT.00/RW.00

Lasmana Fajar Hapriyanto
Chapter #25

25. Tukang Ojek yang Diam

Aku dan Rendy melanjutkan diri untuk menjalani praktik mengajar mata kuliah BIPA (Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing). Selanjutnya, aku mempersiapkan alat-alat yang masih berantakan sejak ibu memintaku pergi ke lumpur lapindo. Alat-alat tersebut di antaranya ada tripod, telepon genggam, naskah, contekan, dan alat-alat tulis. Kami membawa alat-alat tersebut dengan ransel hitam milikku.

Kami memutuskan berangkat lebih cepat karena hari menjelang sore. Matahari mulai malu-malu untuk keluar. Yang aku takutkan, mungkin hari ini tak akan sempat karena kalau mengambil video malam, anak-anak sudah datang.

Aku segera ke rumah Pak Herman dan Bu Susi. Mula-mula, aku mengetuk pintu tersebut. Aku mengetuknya sekali. Alasan aku mengetuk sekali karena ada sebuah etika tidak tertulis di sana. Jika tuan rumah belum membukakan pintu maka bisa aku ketuk lagi sesuai kebutuhan.

Namun, tak berlangsung lama Pak Herman membuka pintu. Ia tersenyum padaku seperti senyum ayah sendiri.

“Eh, kamu Bagas?” tuturnya, “mari masuk!”

“Mari!” ajakku ke Rendy.

Awalnya Rendy masih malu-malu kucing sebab tak mengenal Pak Herman sebelumnya. Kadang-kadang Rendy bilang padaku, takut Pak Herman tidak ramah karena menganggu waktu tidurnya. Namun, Rendy seharusnya bisa melihat sendiri keramahan dari Pak Herman hari ini.

Sebenarnya, rumah Pak Herman sudah aku anggap sebagai rumahku. Pak Herman dan Bu Susi, sudah aku anggap pula sebagai keluargaku. Kalau ada acara-acara penting, ibu dan ayah selalu ke rumah mereka. Ibu dekat dengan Bu Susi karena memang sering bertemu di pasar atau acara arisan. Sesekali tuan rumahnya adalah rumah Bu Susi. Jika ketepatan rumah kami maka Bu Susi pula yang datang.

Pak Herman meminta kami duduk. Ada sebuah sofa merah besar yang aku duduki dan meja kaca panjang di depanku. Rendy duduk di sebelahku sambil bersiul. Pak Herman langsung memutuskan masuk ke dalam. Beberapa menit kemudian, Bu Susi datang. Ia membawa sebuah nampan. Di atas nampan itu, ada air es. Aku bisa tebak, mungkin es sirup dengan cincau. Perlahan, Bu Susi meletakkan dua gelas tersebut masing-masing ke arahku dan ke arah Rendy.

Bu Susi kemudian duduk di sofanya pula. Sebagai penduduk asli desa ini, Bu Susi tidak pernah menyombongkan diri. Selain itu, Bu Susi juga bergaul dengan semua tetangga. Tempat les yang Bu Susi dirikan ini, semata-mata untuk membantu beberapa korban lumpur lapindo. Tidak hanya itu, korban lumpur lapindo yang les di rumah Bu Susi dan Pak Herman tidak perlu membayar untuk belajar.

Anak yang pernah aku temui karena menggambar sebuah rumah adalah anak yang sama, korban lumpur lapindo. Bedanya, pengetahuan itu diturunkan dari orang tuanya yang pernah merasakan, sedangkan aku pernah merasakan walau saat itu umurku masih dua hingga empat tahun.

Aku menyeruput sedikit air sirup tersebut. Rasanya sungguh manis. Ada beberapa gula di bawah, tapi buatku tak masalah. Seperti rasa cincau, ada sensasi kecut sedikit dari dagingnya. Tekstur lembut dari cincau itu langsung pecah di lidah.

“Ngomong-ngomong, kalian mau buat video ngajar dengan konsep seperti apa?” tanya Bu Susi, matanya menyorot ke arahku.

“Mengajar seperti biasa, tapi nanti teks subtitlenya kami ubah dengan bahasa yang kami pilih,” ujarku, “selain itu, kami juga membuat modul ajar dan perangkat pembelajaran lengkap.”

“Keren ya! Bahasa apa yang kalian pilih?” tanya Bu Susi mengernyit.

Lihat selengkapnya