RT.00/RW.00

Lasmana Fajar Hapriyanto
Chapter #26

26. Rumah yang Ditinggalkan Lagi

Malam ketika para unggas telah beristirahat, aku menyeduh sebuah teh manis dengan aroma melati yang menyegarkan. Rendy masih bertahan di tempat ini, sembari meminum teh yang tak kunjung mendingin. Cuaca sedikit lebih dingin dari biasanya hari ini. Banyak mangga mulai muncul. Aku pun tak selalu punya badan yang sehat. Kadang-kadang merasa seperti ada flu yang masih berprofesi dalam diriku.

Aku menyeruput teh itu. Rasanya hangat sekali di lambung. Di kala cuaca yang mulai mendingin ini, aku ingin menikmati sesuatu yang berbeda. Biasanya aku tak selalu minum teh karena mager buat sendiri. Berhubung ada Rendy, ibu membuatkanku dan Rendy teh hangat ini.

Kali ini aku masih di teras. Beberapa daun gugur seakan membawa firasat buruk. Namun, aku tak percaya pada hal-hal itu. Orang-orang tua dulu percaya pada mitos dan takhayul. Namun, aku tidak. Aku tetap pada pemikiran Gen Z.

Ada sebuah mobil besar. Mobil itu tampak membawa beberapa barang untuk datang ke desa ini. Di atas sana ada sebuah lemari, kulkas, mesin cuci, dan alat-alat kecil lain yang biasa digunakan ibu-ibu di dapur.

Rendy pun tampak mengawasi kendaraan yang melintas tadi. Aku pun tak lepas pandangan dari sana sampai mobil tersebut berhenti di sebuah kontrakan. Itu kontrakan Bu Wito, tetangga kami yang asli dari desa ini.

Kami hanya mengawasi dari jauh beberapa barang yang mulai diturunkan. Barang-barang itu diangkat oleh tiga hingga empat orang. Mobil pick up itu terpikir pas di depan kontrakan tersebut. Aku yakin, pasti ada yang akan menempati rumah ini.

Seorang pria, kira-kira berumur sekitar lima puluh tahun datang ke arah kami yang sedang asyik minum teh. Aku mengernyit padanya. Langkah kaki itu begitu cepat. Sorot matanya terpaku pada kami sepanjang jalan.

“Ada apa, Bapak?” tanyaku penasaran.

“Mas, bisa bantu-bantu saya angkat barang? Saya tidak lihat orang di sini kecuali masnya kalau boleh,” pinta Bapak tersebut.

Aku sedikit ragu. Aku diam beberapa detik karena tehku saja belum habis. Apakah harus aku tinggalkan? Aku tertegun.

“Kalau enggak mau … enggak apa-apa kok,” sambung Bapak itu lagi. Sepertinya agak sungkan karena aku menjawab dengan lama.

“Oh tidak, Pak. Kami bantu,” jawabku spontan.

“Kami?” Rendy yang duduk di sana melotot. “Ma-maksudku ayo.”

Aku tahu Rendy mungkin sangat lelah dan ingin menikmati secangkir teh hari ini. Namun, tiba-tiba sebuah acara baru muncul. Aku tak heran. Orang datang dan pergi di desa ini seperti mobilitas antara Surabaya dan Sidoarjo. Aku sudah penuh pengalaman, melihat banyak hal terjadi. Melihat orang-orang yang mencari tempat ternyaman untuk keluarga tercinta.

Rendy mulai berdiri dengan aku bantu. Kami segera pergi ke rumah itu ditemani oleh pria yang baru pindah tadi. Ia belum sempat mengenalkan namanya. Namun, tubuhnya yang sudah renta mungkin tak kuat jika angkat barang berat mengandalkan empat orang pesuruh saja. Barang-barang itu terlalu banyak.

Kami tidak banyak berkata. Kami menolong saja dengan ikhlas. Katanya, beberapa orang yang menolong sebelumnya akan pulang. Jam kerja mereka telah habis.

“Kamu saya bayar nanti, tenang saja. Pesuruhku habis ini pulang. Kalian cuma tinggal ambil barang-barang kecil di alamat yang nanti aku beritahu,” ucap bapak tersebut, “oh ya, namaku Pak Welly.”

Lihat selengkapnya