Kini ayah tampak bergelut dengan waktu. Ayah termenung di sudut ruangan dan tak melakukan apa-apa. Aku hanya menatap ayah dengan tatapan nanar. Keringatku satu persatu akan menetes. Aku tampak gusar. Jantungnya berdetak kencang. Beberapa kali aku ingin menanyakan kabar ayah, tapi aku tak kuat dan tak sanggup.
Aku mendekat ke arah ayah. Keringatku mulai mengalir. Aku rasa, ini momen yang pas jika aku harus mendekat ke arahnya. Aku harus tahu masalah yang terjadi pada ayah. Sudah sejak kemarin aku fokus dengan tugas-tugas bersama Rendy sehingga keluargaku tak pernah aku perhatikan.
“Ayah,” sapaku perlahan.
Ayah menoleh ke arahku. Tatapannya kosong seperti sedang memikirkan sesuatu. Aku berjalan semakin mendekat lagi ke arahnya.
“Ada apa? Mengapa ayah seperti ini?” tanyaku penasaran.
“Kadang-kadang, ayah berpikir. Apakah ini sudah waktunya ayah untuk pergi? Kadang-kadang, ayah berpikir apakah ini detik-detik terakhir ayah di dunia? Semakin lama, umur ayah semakin bertambah pula. Manusia pasti akan mati. Namun, yang aku pikir, siapa yang akan berkunjung ke makamku kelak?” jelas ayah.
Mataku terbelalak. Belum pernah ayah mengatakan ini sebelumnya. Aku termenung, merasakan sebuah duri tajam menusuk hati. Aku terbata-bata tak bisa menjawab pertanyaan itu.
“Ayah jangan berpikir begitu, kalau masih lama umur ayah, jangan katakan sesuatu yang buruk,” ucapku lembut.
Ayah menggelengkan kepalanya. “Suatu saat ayah akan mati, Nak. Jawablah pertanyaan itu
…,” ujar ayah.
“Tentu aku akan berkunjung ke makam ayah. Dan tentu ini bukan hari terakhir ayah!” seruku cukup tegas.
Aku mencoba berpikir alasan ayah mengatakan itu. Tidak mungkin karena ayah sudah punya firasat mau meninggal. Mungkin, ayah hanya harus pergi ke tempat favoritnya. Tempat masa kecil ketika ia dilahirkan dulu.
Aku menurunkan rasa sesak di dadaku dan memilih alternatif lain. Ayah wajib pergi ke desa tempat ia dilahirkan dan akan dimakamkan kelak. Ayah perlu mengenang masa lalu dan membuang energi negatif yang ada padanya.
“Yah, ayah sebenarnya ingin pergi ke tempat favorit ayah, ‘kan?” tanyaku sembari mengerutkan dahi.
Ayah tersenyum. “Mungkin ayah harus melakukan itu. Ayah harus mengunjungi makam kakek dan nenekmu dan mengenang masa kecil bersama mereka.”
Aku mengangguk pada ayah. Di desa Minda, kakek dan nenek sudah beristirahat dengan tenang dan nyaman sejak dulu. Keduanya sudah meninggal sebelum aku lahir. Jadi, aku pun tak tahu cara kasih sayang mereka terhadap ayah. Namun, selayaknya ayah dan ibu menyayangiku, pasti nenek dan kakek juga sangat menyayangi ayah.
Aku menggandeng tangan ayah. Betul sekali, ayah tersenyum. Ayah mungkin hanya harus mengenang asal usulnya untuk membuat ia bangkit dan bersemangat dalam menjalani hidup.
Kami naik motor berdua. Saat masih kecil, ayah yang menggonceng diriku. Kini setelah aku sudah memiliki KTP dan SIM, akulah yang menjalankan motor ini. Aku tiba-tiba mengingat sebuah kenangan masa kecil dulu.