Kini aku mulai mengetahui sesuatu yang tidak semua orang berpikiran sama. Ternyata, orang-orang hanya memilih untuk bertahan, memilih untuk hidup, dan memilih menjalani aktivitas seperti semula. Mereka berjalan di atas takdir masing-masing dan jalan itu diarunginya dengan rasa tulus dan ikhlas.
Menurutku, tidak semua orang hidup mengenal rumah hanya dalam bentuk fisik, tetapi rumah yang mereka maksud lebih dari sekadar alamat, lebih dari sekadar denotasi rumah yang sebenarnya. Namun, rumah adalah tempat yang mengayomi, mendidik, dan memberi tempat pulang.
Setelah dewasa, aku mulai melihat berbagai macam kegiatan berjalan seperti semestinya dan seperti takdirnya. Beberapa kali aku mengamati peristiwa di sekitarku dan beberapa kali rasa sesak itu timbul.
Aku termenung di teras rumah. Beberapa kali menghela napas berat. Pikiranku seakan kosong, tapi yang sebenarnya sangat penuh. Aku tak tahu harus berpikir apa, seakan ada yang perlu aku selesaikan.
“Rumah bukan sekadar alamat bagiku. Namun, maknanya lebih luas. Aku mungkin perlu melihat lebih jauh tentang hal-hal kecil di dunia dan maknanya,” batinku.
Aku merasa ada sesuatu yang kurang dari diriku. Mungkin sesekali aku harus melihat orang-orang di luaran sana untuk tahu makna hidup agar aku terhindar dari lelah yang berkepanjangan.
Aku menyadari karakteristik diriku yang sesekali berbicara jika dibutuhkan. Aku orang yang introvert. Ayahku pun sama. Mungkin ini alasan kami terus merenung, menatap masa depan, meresapi nasib, dan memikirkan hal-hal yang belum terjadi.
Aku mulai berdiri dari tempat merenung. Dengan keluar sebentar, melihat hal-hal yang paling bermakna, mungkin aku bisa keluar dari rasa aneh ini.
Pertama, aku pergi ke rumah Pak Agus, tukang badut yang pernah kehilangan seorang anak. Aku ingin tahu kabarnya setelah ia merasa kehilangan. Ia tak pernah tampak mata sama sekali. Apakah ia bisa ikhlas? Atau ia sengaja tak mengenakan kostum badut lagi sebab sudah menyerah dengan takdir Tuhan? Ketika aku menemukannya, setidaknya aku bisa memelajari cara untuk tak menyerah setelah kehilangan.
Kini aku sudah berdiri di depan rumah Pak Agus, melihat rumah itu kini tak terawat. Ada sampah berserakan di mana-mana berupa botol air mineral, plastik, dan dedaunan. Tembok rumah mengelupas, genteng-genteng berlumut, dan sarang laba-laba di setiap sudut rumah.
Aku termenung, meyakini ada hal yang tak beres. Setelah tak terlihat mengenakan seragam badut cukup lama, aku justru melihat rumah Pak Agus berantakan. Setelah melihat itu semua, aku terdiam beberapa detik. Aku menggaruk kepalaku yang nanar.
“Mungkin … habis masanya,” gumamku.
Aku mendekat ke rumah Pak Agus, lalu mengetuk pintu coklat itu perlahan. Satu kali ketukan, belum ada jawaban dari dalam. Aku mengetuk pintu tersebut untuk kedua kalinya. Tak berselang lama, seseorang keluar.
Pak Agus muncul. Kini kulitnya kusam, keriput, dan rambutnya tak beraturan. Badannya menjadi sangat kurus berbeda dengan yang aku lihat dulu.
“Masuklah Bagas. Tapi maaf, aku belum bisa memberikan minuman enak,” kata Pak Agus.
Aku mengangguk. “Saya hanya ingin melihat kondisi Bapak.”
Aku menjawab jujur karena sebetulnya aku benar-benar lelah. Aku ingin melihat keadaan orang-orang yang pernah kuceritakan dulu pada Rendy. Terutama Pak Agus, aku tahu sendiri penderitaannya.