RT.00/RW.00

Lasmana Fajar Hapriyanto
Chapter #29

29. Rumah yang Dibangun Ayah

Sejak aku menyadari kehidupan orang-orang berjalan sesuai semestinya dan apa adanya, aku jadi tahu satu hal tentang sebuah perubahan. Orang dapat berubah karena niat dan kemauan diri. Orang juga bisa masuk jurang karena hal yang dilakukannya sendiri pula.

Hari ini tubuhku segar sekali dari hari kemarin. Beberapa kali aku meluruskan tulang-tulangku. Aku mengangkat lenganku ke atas, membuat bunyi pada tulang-tulang yang terasa bengkok.

Aku menghela napas panjang, kemudian menguap beberapa kali. Matahari tampak sangat menyengat. Mungkin ia hanya ingin memberikan vitamin D untuk seluruh umat manusia karena matahari tidak benar-benar pelit seperti kelakuan manusia. Matahari itu suka memberi. Aku menatap matahari dari kamarku. Cahaya bintang besar itu menembus jendela kamar, membuktikan cahaya dapat menembus benda bening. Seketika aku jadi mengingat mata pelajaran IPA waktu SMP dulu.

Sebuah suara kasar terdengar dari luar. Itu macam suara benda yang dipukul. Hari ini adalah hari minggu, mungkin ada tukang di luar sana yang akan memperbaiki rumah tetangga. Aku hanya menghela napas panjang.

Selanjutnya, aku bangun dari ranjangku yang empuk. Aku melipat selimut biruku dan membersihkan kasur merahku yang dipenuhi debu. Aku mengambil sebuah sapu lidi di balik lemari baju, lalu kubersihkan semuanya sampai debu itu habis.

Suara itu masih terdengar di telingaku. Suara tersebut cukup mengganggu telingaku. Aku baru saja bangun tidur, tetapi rasanya otakku menjadi sangat pening. Aku memutuskan untuk keluar. Barangkali di luar aku bisa semakin nyaman.

Saat keluar, mataku tertuju pada ayah yang sedang mengetuk-ketuk palu. Di bawahnya ada dua pigora berisi foto masa kecilku bersama ayah dan ibu yang belum sempat di pajang. Satu foto lagi adalah foto saat aku masih bayi. Pigora itu berbentuk kaca dengan kayu yang bercat hitam.

Aku mengernyit ke arah ayah, mencoba mencermati hal-hal yang dilakukan ayah. Bila perlu, aku juga harus menawarkan bantuan.

“Ayah, apakah ayah butuh bantuan?” tanyaku.

Ayah tidak menjawab. Mungkin aku yang harus peka. Aku segera pergi ke arah ayah dan mengambil sebuah paku.

“Enggak usah. Tolong bereskan tempat yang lain saja!” ucap ayah.

“Kita harus memasang genteng bocor, mengecat tembok, membuat rak kayu, dan menanam pohon mangga,” ujar ayah dengan tempo suara cepat.

Aku terbelalak bukan main. Memangnya untuk apa? Mengapa tiba-tiba ayah ingin merenovasi banyak hal di rumah ini. Aku termenung sebentar, lalu berniat menanyakannya pada ayah.

"Buat apa diperbaiki, Yah?" tanyaku penasaran.

Ayah menjawab, "Kalau kita tidak bisa kembali ke rumah lama ... ya rumah ini yang harus kita rawat."

Hatiku langsung bergetar hebat. Guncangan kata-kata itu begitu membuat hatiku janggal. Seperti ada yang tak biasa dengan kata-kata milik ayah tadi.

Lihat selengkapnya