RT.00/RW.00

Lasmana Fajar Hapriyanto
Chapter #30

30. Rumah

Kalau rumah adalah tempat ternyaman seseorang, lantas mengapa banyak yang meninggalkan rumah? Pertanyaan itu masih ada dipikiranku. Namun, setelah melihat perjuangan beberapa keluarga yang berkorban untuk mencapai kedamaian abadi dalam keluarga, aku jadi sadar, rumah adalah tempat yang rumit.

Hari ini aku dan Rendy akan bekerja kelompok seperti biasa. Kami berkolaborasi untuk menyelesaikan tugas UTS Metode Penelitian yaitu membuat artikel jurnal dan harus submit minimal SINTA 4.

Aku menopang kepalaku. Kini aku berdiri di depan laptop. Sebenarnya, aku sendiri merasa otak tak bekerja sama sekali. Rencananya, penelitian ini akan berfokus pada psikologi sastra. Yang membuat pekerjaan ini sulit bukan karena cara menulisnya, tetapi aku harus mengutip sumber-sumber terpercaya lain yang dapat meningkatkan kredibilitas penelitian. Aku membuka Google Scholer, mencari penelitian terdahulu yang relevan dengan penelitianku dan mencari kebaharuannya.

Rendy duduk di sebelahku di teras ini. Kami hanya duduk lesehan dengan karpet merah dan secangkir teh. Ibu dan ayah ada di dalam sedang beraktivitas. Semua tampak seperti biasa. Ayah membereskan barang-barangnya dan ibu memasak untuk hidangan nanti sore. Aku rasa tidak ada masalah serius di antara mereka. Kami sudah bisa saling menerima. Walau banyak konflik di antara keluarga kami, tapi kami tetap bersyukur bisa melewati semua.

“Kamu tahu, ada banyak hal di dunia yang bermakna bagiku,” ucapku memulai obrolan. Rendy mengangkat satu alisnya. “Seperti?”

“Ngomong-ngomong, bagaimana kabar orang-orang yang kamu ceritakan dulu?” tambah Rendy.

“Kamu tahu, aku mendapat banyak pengalaman berharga dari cerita-cerita mereka,” ucapku. “Mulai dari Bu Sundari, bagaimana?” tanyaku Rendy lagi.

“Bu Sundari sudah baik pada kami. Kami sudah saling menyapa. Bu Sundari membentuk pandanganku, ternyata keluarga tidak harus orang-orang yang satu atap. Keluarga adalah mereka yang melihat kita selayaknya saudara ketika kita susah maupun senang. Bu Sundari bukan orang yang suka gibah seperti dulu. Teman-teman gibahnya sudah tidak bersamanya. Justru di masa tua itu, Bu Sundari lebih banyak mendekatkan diri pada Tuhan. Bu Sundari berhati-hati agar tak melakukan dosa lagi. Kini warungnya tetap buka, tetapi jadi rujukan orang-orang kalau mau beli bahan-bahan pokok. Kami pun langganan beli di toko itu. Bu Sundari tak iri pada kami lagi sebab Bu Sundari merasa, orang-orang pendatang seperti kami justru meningkatkan penjualannya dan bukan sebaliknya,” jelasku panjang lebar hingga tampak busa dari pinggir bibir.

Dari Bu Sundari aku belajar untuk berkeluarga dan memperbaiki hubungan yang telah rusak. Kami berteman sebab kami tulus untuk itu. Walau ada masalah di masa lalu, kami berusaha untuk tidak mempermasalahkannya di masa kini.

Menurutku, keluarga tidak hanya dalam bentuk ayah, ibu, dan anak. Tapi orang luar yang sering berinteraksi dengan kami maka tetap kami anggap sebagai keluarga.

“Lalu, bagaimana dengan Pak Agus? Apakah dia masih meratapi anaknya? Apakah masih jadi badut? Kalau iya … aku mau dong lihat penampilannya!” seru Rendy dengan mata berbinar menunjukkan ekspresi semangat.

“Sebenarnya Pak Agus tampil di sini cuma hari Minggu, Ren. Tapi … Pak Agus sudah memutuskan berhenti jadi badut sejak anaknya meninggal. Bukankah kamu pernah aku ceritakan?” tanyaku heran sambil menipiskan pandangan mataku.

“Aku lupa sedikit,” jujurnya sambil terkekeh.

“Sejak Taufan meninggal, Pak Agus sebenarnya tidak ada penghasilan seperti dulu. Makan menumpang dengan tetangganya karena tetangga kasihan dengan nasib mereka. Istrinya, Bu Mala sekarang jadi tukang gosok baju yang sehari dibayar cuma tiga puluh ribu. Bu Mala mulai bisa tersenyum meski masih sering memandangi foto Taufan,” jelasku.

“Tidak mudah memang kehilangan seorang anak. Belum tentu mental kita bertahan dalam tekanan seperti itu,” ungkap Rendy.

“Kamu tahu Ren, aku jadi menyadari perspektif baru. Orang yang paling sering membuat orang lain tertawa bisa jadi sedang menyembunyikan luka terbesar. Itulah yang dialami oleh Pak Agus. Ia menghibur semua orang, tetapi yang sebenarnya dirinyalah yang perlu dihibur,” jelasku sembari mengingat kejadian beberapa waktu lalu.

Lihat selengkapnya