Camera on.
"Halo, semuanya."
Dalam hitungan detik, senyum seorang gadis mengembang sempurna. Senyum yang selama bertahun-tahun telah menjadi ciri khasnya. Senyum yang hangat, ramah, dan tera tulus, seolah mampu membuat siapa pun yang melihatnya jatuh cinta. Senyum itulah yang membuat empat juta orang mengikuti akunnya.
Elora Anindya. Di mata publik, gadis itu bukan sekadar influencer. Ia dikenal sebagai seorang filantropis muda yang kerap menggunakan pengaruhnya untuk menggalang bantuan bagi mereka yang membutuhkan. Mulai dari biaya operasi anak-anak, bantuan korban bencana, hingga kampanye kesehatan mental, namanya hampir selalu hadir di setiap gerakan sosial yang mengundang perhatian publik.
"Hari ini aku lagi ada di Rumah Aman Dinas Sosial Kota Jakarta."ujarnya di depan kamera.
Ia bergeser satu langkah ke samping agar papan bertuliskan Rumah Aman Dinas Sosial terlihat jelas di dalam bingkai kamera.
Bangunan dua lantai itu jauh dari kesan mewah. Cat putih di dindingnya mulai mengelupas di beberapa sudut. Pot-pot bunga bugenvile berjajar di sepanjang teras, sementara gambar matahari, pelangi, dan kupu-kupu menghiasi dinding luar dengan warna-warna cerah yang mulai memudar dimakan waktu. Dari balik jendela, sesekali terdengar tawa anak-anak yang bercampur dengan tangisan lirih, menciptakan suasana yang hangat sekaligus menyayat.
"Kalian pasti bisa nebak aku bakal ketemu dengan siapa. Tapi sebelum itu, aku mau ngucapin terima kasih buat kalian semua."
Elora mengangkat ponselnya ke arah kamera. Di layarnya terpampang halaman donasi yang masih terus bertambah setiap beberapa detik.
"Jujur..."ia terkekeh kecil,"...aku benar-benar nggak nyangka."ucapnya dengan mata berbinar.
"Donasinya sekarang sudah terkumpul Rp390.980.200."
Ia menggeleng pelan, masih sulit mempercayai angka itu. Tiga hari. Iya, hanya waktu tiga hari dan dalam waktu sesingkat itu lebih dari tiga ratus sembilan puluh juta rupiah berhasil terkumpul.
Delapan tahun lalu, Elora hanyalah seorang siswi SMA yang gemar mengunggah potongan-potongan kecil hidupnya ke Instagram. Foto langit senja yang ia lihat sepulang sekolah, foto dirinya, potret lingkungan kost-nya yang penuh dengan caption menyentuh seperti foto bude jamu yang ternyata sedang berjuang menghidupi 4 orang anaknya dan suaminya stroke atau potret kakek penjaga warung yang dulunya merupakan veteran yang secara aktif ikut dalam pertempuran membela kemerdekaan negara.
Tahun demi tahun berlalu, unggahannya tak lagi sekadar berisi potret kehidupan sehari-hari, melainkan kisah-kisah para penyintas, pelaku UMKM, relawan, hingga orang-orang yang berjuang diam-diam melawan kerasnya hidup. Elora menggunakan platformnya untuk menggalang donasi, menghubungkan mereka yang membutuhkan dengan mereka yang mampu membantu. Ia bahkan bekerja sama dengan platform besar untuk penggalangan dana.
"Terima kasih karena kalian percaya kalau sekecil apa pun bantuan kita... bisa mengubah hidup seseorang."
Ia berhenti sejenak, lalu tatapannya lurus ke arah lensa."Aku berharap setelah ini Aisha punya kesempatan untuk memulai hidup yang baru. Eh aku ketauan ya kalau lagi nyamperin Aisha?"
"Yap, jadi aku lagi di Dinas Sosial dan lagi mau ketemu adik Aisha."
Aisha, seorang anak perempuan berusia 8 tahun. Selama bertahun-tahun, ia menjadi korban kekerasan yang dilakukan oleh ayah kandungnya sendiri. Tak hanya dirinya, ibunya pun harus menanggung luka yang sama. Mereka hidup dalam lingkaran kekerasan yang tak pernah benar-benar berhenti. Hingga suatu malam, sang ibu ditemukan dalam kondisi kritis setelah mengalami penganiayaan berat dan kini terbaring koma di rumah sakit. Sementara ayahnya telah diamankan oleh pihak kepolisian untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.
Aisha menjadi satu-satunya korban yang tersisa. Karena tidak ada seorang pun dari keluarga besar yang bersedia atau mampu menjadi wali sementara, Dinas Sosial membawa Aisha ke Rumah Aman. Tempat inilah yang menjadi satu-satunya ruang yang dapat melindunginya sembari menunggu proses hukum berjalan dan kondisi ibunya menunjukkan perkembangan.
"Oke, cut."
Bahu Elora langsung turun. Ia mengembuskan napas panjang seolah baru selesai memikul beban yang sangat berat.
Senyum Elora langsung menghilang.
Millie menghampiri sambil menyodorkan sebotol air mineral dingin. Perempuan berambut sebahu itu sudah bertahun-tahun menjadi asisten sekaligus sahabatnya.
"Thank you."Elora membuka tutup botol dan meneguk air dalam beberapa tegukan panjang.
Elora membuka tutup botol, lalu meneguk air dalam beberapa tegukan panjang. Tenggorokannya terasa kering setelah berkali-kali mengulang pengambilan gambar.
"Berapa kali lagi?" tanyanya.
Millie melirik kameramen.
"Kayaknya satu take lagi buat bagian opening."
Elora mendengus.
"Serius?"
"Yang tadi ada suara motor."
Elora memejamkan mata sebentar.”Ya ampun."
Millie hanya tersenyum kecil. Ia sudah terbiasa melihat perubahan itu.
Di depan kamera, Elora bisa menjadi orang paling sabar di dunia. Ia mampu mengulang satu kalimat yang sama belasan kali tanpa kehilangan senyum, menunggu pencahayaan diperbaiki, bahkan meminta take ulang dengan nada yang tetap ramah.
Namun begitu kamera mati, senyum itu biasanya ikut menghilang.
Hari ini bahkan lebih parah. Sejak tiba pagi tadi, Elora sudah beberapa kali menghela napas panjang hanya karena hal-hal kecil. Ia sempat mengomel ketika mobil mereka terlambat lima menit, mengeluh karena kopi pesanannya salah karena terlalu manis padahal dia sudah erequest low sugar, dan hampir membalas ketus ketika salah satu kru meminta take tambahan.
Sekarang botol air di tangannya terus diputar-putar tanpa benar-benar diminum. Rahangnya sesekali mengeras. Tatapannya kosong mengarah ke halaman Rumah Aman, tetapi pikirannya jelas tidak berada di sana.
Millie tahu penyebabnya. Sejak pagi, Elora belum benar-benar tenang. Ada sesuatu yang membuatnya mudah tersulut, dan sebagai asisten Millie cukup mengenalnya untuk tahu bahwa lebih baik tidak bertanya terlalu banyak. Apalagi hari ini bukan sekadar jadwal syuting biasa. Ada donasi yang harus dipertanggungjawabkan, ada pihak sponsor yang terus meminta tambahan exposure, ada kamera yang harus selalu menangkap sisi terbaiknya, dan di balik semua itu ada Aisha—anak kecil yang sejak beberapa minggu terakhir menjadi pusat perhatian publik.
Elora mengusap wajahnya pelan.
"Capek," gumamnya.
Millie hanya mengangguk.
Ia tidak mencoba menyemangati. Tidak juga mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Karena ia tahu, terkadang Elora hanya membutuhkan beberapa menit untuk berhenti menjadi Elora yang dikenal empat juta orang.
Seorang perempuan dengan blazer krem dan tablet di tangan kemudian menghampiri mereka.
"Elora, nanti ada sedikit revisi, ya."
Elora menoleh."Apalagi?"tanyanya dengan nada sesikit kesal.
Perempuan itu adalah Dhea, perwakilan dari brand sponsor yang mendanai kampanye tersebut.
"Logo brand kami bisa dimunculin sebelum detik ketiga puluh? Biar exposure-nya lebih maksimal."
Elora mengangkat alis."Kan udah ada di awal."
"Kurang kelihatan."
"Ya memang bukan video iklan."
Dhea tersenyum tipis.
"Tapi ini bagian dari kerja sama."
Elora mengambil botol airnya kembali.
"Terus?"
"Di bagian closing, jangan lupa mention promo tanggal sepuluh sepuluh. Sekalian voucher cashback."
Elora terdiam."Emang masih harus?"
Dhea mengangguk."Kontraknya begitu."
Elora mengembuskan napas."Menurut gue nggak usah."
Dhea mengernyit."Maksudnya?"
"Hari ini fokusnya Aisha. Kalau terlalu banyak logo sama promo, videonya malah kelihatan kayak iklan."
"Memang campaign ini kerja sama sosial dan promosi."
"Gue tahu. Tapi gue nggak mau followera gue pergi kalau mereka mikirnya terlalu ngiklan banget.”