Setiap manusia pasti pernah merasakan hari terburuk dalam sejarah hidupnya. Salah satunya bagi Elora Anindya. Ia tidak menyangka keterpurukan datang tak terduga tanpa memberi aba-aba sedikit pun. Detik demi detik, jam demi jam, hingga hari demi hari berjalan hingga tepat delapan hari sudah dirinya mengunci diri di dalam kamar gelap dengan minim cahaya.
Sengaja ia tidak membiarkan cahaya dari luar masuk namun cahaya yang masuk lewat atas jendela merupakan hal yang tidak bisa ia kendalikan. Begitu juga dengan dirinya, seharusnya Elora pun mengerti bahwa ada beberapa hal yang tak bisa dikendalikan dalam hidup ini.
Jam dinding terus berdetak. Setiap detiknya terdengar lebih keras daripada biasanya.
Elora mengembuskan napas panjang. Lagi.
Kalau saja dinding kamar ini bisa berbicara, mungkin mereka sudah bosan mendengar helaan napasnya. Kalau saja kasur yang ia tiduri bisa menghitung, mungkin angka yang muncul sudah mencapai ratusan atau bahkan kehilangan hitungan saking banyaknya.
Sebenarnya kalau dirinya bisa menangis, dirinya lebih baik menangis daripada hanya dapat menahan diri membuat perempuan itu seratus kali lipat lebih kesal. Ironisnya... dirinya bahkan tidak dapat menangis sedikitpun. Yang ia tahu, bernapas terasa jauh lebih mudah daripada menangis.
Ini sudah masuk hari ke-delapam Elora mengurung diri, ia bahkan memberi memberi tanda X pada kalender yang ada di atas meja. Bertepatan dengan itu juga, dirinya bahkan tidak membuka ponsel selama delapan hari lamanya. Ponselnya mungkin sudah berenang bersama ikan-ikan di kolam depan rumahnya. Hal ini bukan tanpa alasan, Elora merasa dunianya sudah runtuh sejak hari itu.
Dunia di luar sana terus bergerak maju, sementara di dalam rumah ini, waktu seolah terhenti. Elora berusaha memahami apakah keputusan untuk mengurung diri adalah bentuk pelarian atau kesempatan untuk menemukan sesuatu yang lebih dalam dari hidupnya yang penuh keraguan.
"Elora, ini gue bawain makanan."
Ketukan itu sukses membuat perempuan dengan rambut kusut tak karuan langsung tersadar dari lamunannya. Elora langsung beranjak dari kasurnya dan menuju pintu. Ia mempersilahkan asistennya untuk masuk.
Cahaya masuk perlahan ke ruang gelap itu dengan bersamaan terbukanya pintu kamarnya.
"Astaga..."
Millie menggeleng pelan melihat kondisi kamar itu.
"Ini kamar apa... goa?"
Ia berjalan masuk sambil membuka tirai sedikit.
"Jangan!"suara Elora terdengar lebih keras daripada yang ia maksud.
Millie berhenti. "Lo kayak vampir."
Elora mendengus pelan.
"Tuan Putri, ini makanannya katsu dengan saus blackpepper kesukaan anda. Silahkan dimakan kalau tidak adinda yang makan."ujar Millie sambil membawa satu kotak bento yang terbuat dari mika.
Millie merupakan asistennya dan juga teman dari Elora, Millie juga lah yang masih bertahan dan tetap setia menemaninya disaat teman-temannya yang lain enggan untuk menanyai kabarnya.
Elora hanya menatap kotak itu tanpa ekspresi. Aroma lada hitam yang biasanya membuat perutnya keroncongan kini terasa hambar. Ia makan semata-mata karena tubuhnya membutuhkan. Walaupun hidupnya sedang terpuruk, Elora tidak melupakan untuk makan. Tepatnya, ia tidak ingin memperburuk keadaan dengan menyakiti dirinya sakit dan membiarkan maagnya semakin parah. Ya, meskipun pikirannya sendiri yang telah membuat asam lambungnya naik.
Millie ikut duduk di lantai.
Matanya mengamati wajah Elora yang semakin pucat. Rambut panjang yang biasanya selalu ditata kini kusut tak beraturan. Mata sembapnya dipenuhi lingkar hitam. Kulitnya tampak jauh lebih pucat daripada delapan hari lalu. Kalau ada yang melihat perempuan itu sekarang... Tak akan ada yang percaya bahwa dialah Elora Anindya, influencer dengan empat juta pengikut.
"Udah hari ke delapan, kapan berencana mau keluar goa?"serbu Millie.
"Tergantung mood gue."jawab Elora tak acuh. Elora kemudian berjalan hingga mendaratkan bokongnya secara perlahan di atas karpet.
Millie memicingkan matanya,"dih gue nggak mau ya ngelayanin lo seumur hidup."
"Kontrak lo kan bisa gue perpanjang."ujar Elora.
"Kayak bisa aja lo gaji gue kalau lo sendiri nggak kerja."
"Tenang aja, duit gue masih banyak."jawabnya dengan enteng.
Millie masih berdiri di depan pintu melihat perempuan dengan penampilan urakan sedang meraba makanan di depannya. "Gue rasa emang udah konslet." kemudian tangan Millie meraih saklar lampu yang tak jauh darinya, "eh manusia goa kalau makan tuh dihidupin lampunya."setelahnya Millie langsung menutup pintu kamar dan pergi.
"Aaa Millie matiin nggak!"Elora berdecak kesal.