Elora berdiri mematung di depan gedung berlantai tujug yang menjulang tenang di tengah hiruk-pikuk Jakarta.
Fasadnya didominasi kaca kebiruan yang memantulkan langit pagi, seolah gedung itu menolak memperlihatkan apa pun yang terjadi di balik dindingnya. Pintu otomatis terus terbuka dan tertutup tanpa henti. Orang-orang datang dan pergi dengan langkah tergesa. Seorang ayah mendorong kursi roda yang ditempati anak laki-laki dengan tangan yang diperban atau rombongan keluarga yang baru saja masuk.
Ia mendongak menatap tulisan besar yang terpampang di atas pintu masuk. Rumah Sakit Harapan Sentosa.
Selama delapan hari terakhir, ia mengurung diri di apartemennya dengabn tirai selalu tertutup dan ponsel dimatikan. Seakan dunia luar seolah berhenti sejak namanya menjadi sasaran hujatan di media sosial. Dan sekarang disinilah ia, di depan Rumah Sakit Harapan Sentosa.
Percakapan semalam membawanya kesini. Semalam ia mengatakan kepada Millie tentang percakapannya di telepon dan tentu saja Mllie sudah mengetahuinya. Ia membutuhkan alasan yang kuat untuk sampai di sini, tentu saja selain karena ia anaknya.
Dan hari ini, untuk pertama kalinya setelah delapan hari mengurung diri, ia keluar rumah bukan untuk menyelamatkan kariernya. Melainkan menemui wanita yang pernah ia sumpahi tak akan ia temui lagi.
Ia melangkah masuk. Pintu otomatis terbuka dengan desis pelan, embusan udara dingin langsung menyambutnya, membawa aroma khas disinfektan yang begitu kuat hingga hidungnya terasa perih.
Elora mengernyit. Bau rumah sakit selalu membuatnya tidak nyaman.
Ia menundukkan kepala. Topi hitam dan masker menutupi sebagian besar wajahnya. Meskipun begitu, jantungnya tetap berdegup kencang setiap kali seseorang melintas. Ia masih dihantui ketakutan dikenali. Bagaimana jika seseorang berteriak, "Itu Elora yang lagi viral itu, kan?"
Elora menarik napas panjang sebelum melangkah.
"Selamat pagi, Mbak. Ada yang bisa saya bantu?"seorang resepsionis tersenyum ramah dari balik meja informasi.
Elora mendekat dengan langkah ragu."Saya... mau ke ruang rawat."
"Nama pasiennya, Mbak?"
"Kartika Dewi."
Jari-jari resepsionis bergerak lincah di atas papan ketik. Bunyi ketukan keyboard memenuhi jeda yang terasa jauh lebih lama daripada seharusnya.
Sesaat kemudian, perempuan itu mengangguk."Ibu Kartika Dewi dirawat di Ruang Kenanga, lantai lima."
"Terima kasih."
Setiap langkah terasa semakin berat.
Lift akhirnya terbuka. Di dalamnya sudah ada beberapa orang. Elora melangkah masuk sambil menundukkan kepala. Topi hitam dan masker menutupi hampir seluruh wajahnya.
Pintu lift menutup.
Lantai tiga.
Lantai empat.
Lantai lima.
Elora menarik napas dalam.
Begitu melangkah keluar, ia merasa langkahnya semakin berat. Seketika disambut cahaya matahari yang mengalir melalui jendela-jendela besar di sepanjang koridor. Dinding bangsal dicat hijau pucat dengan lukisan bunga kenanga yang berjajar rapi. Tidak ada suara monitor yang berdenting tanpa henti ataupun langkah kaki yang berlarian seperti yang sering ia lihat di film.
Bangsal itu justru terasa... tenang. Terlalu tenang.
RUANG KENANGA
Unit Perawatan Paliatif
Elora berhenti. Keningnya berkerut. Baru kali ini ia mendengar istilah itu, ia sempat ingin mengeluarkan ponselnya dari tasnya untuk mencari istilah itu namun ia urungkan.
Elora memperlambat langkahnya. Untuk pertama kalinya sejak tiba di rumah sakit, ia menyadari bahwa bangsal ini berbeda.
Baru beberapa langkah kemudian, pintu kamar 501 terbuka. Seorang laki-laki keluar sambil membawa tumbler berukuran besar berwarna biru laut. Usianya mungkin tak jauh berbeda dengan Elora. Kaus oblong abu-abu yang dikenakannya tampak kusut dan rambutnya berantakan seperti seseorang yang sudah terlalu lama tidak pulang.
Saat hendak berbelok ke arah pantry, tanpa sengaja bahunya bersenggolan dengan Elora.
"Oh... maaf."laki-laki itu langsung mundur selangkah.
Elora hanya menggeleng pelan."Nggak apa-apa."ucapnya hampir tak terdengar.
Ia tetap menundukkan kepala, berharap lelaki asing itu tidak mengenalinya. Sementara itu, laki-laki tersebut sempat memandangnya beberapa detik. Wajah perempuan bertopi dan bermasker itu terasa samar-samar tidak asing. Namun akhirnya ia mengurungkan niat untuk bertanya.
Ketika pandangannya kembali ke depan, seorang perawat menghampirina.
"Mbak Elora, ya?"
Elora mengangguk pelan. Ia sempat heran bagaimana perawat itu mengenalinya dengan penampilannya yang terlalu sulit untuk dikenali: topi hitam dan masker berwarna putih yang sejak masuk rumah sakit tidak pernah dilepas. Serta kacamata cat-eye minus miliknya.
Seorang perawat muda berdiri di depan kamar dengan nomor 503. Seragam putihnya rapi, dengan papan nama bertuliskan Abel yang tersemat di dada kiri.
"Saya Abel yang menelpon Mbak Elora kemarin."
"Oh.. iya."