Sudah hampir sejam Elora duduk di sofa kecil di sudut kamar. Sesekali ia melirik jam dinding, lalu kembali mengalihkan pandangan kepada perempuan yang terbaring tenang di atas ranjang. Mesin monitor jantung masih berbunyi pelan dalam irama yang teratur dan infus menetes perlahan.
Sinar matahari siang yang terk menyelinap melalui celah tirai. Tiga jam lalu, ia datang dengan langkah yang terasa begitu berat.
Tadi, ia berdiri di depan pintu kamar hampir lima menit lamanya, hanya untuk mengumpulkan keberanian memutar gagang pintu. Namun saat ini, setelah mendengar penjelasan Dr. Adrian, rasa takut itu perlahan berubah menjadi sesuatu yang lain. Penyesalan. Ia baru menyadari betapa banyak waktu yang telah ia buang untuk membenci perempuan yang kini bahkan mungkin tak lagi memiliki banyak waktu.
Elora tidak tahu harus memulai dari mana. Haruskah ia meminta maaf? Atau menunggu Ibunya untuk meminta maaf lebih dulu? Atau justru menanyakan mengapa ibunya dulu memperlakukannya seperti itu?
Tiba-tiba jari Kartika bergerak pelan. Kelopak matanya bergetar sebelum perlahan terbuka.
Elora spontan bangkit dari sofa.
Kartika membuka mata perlahan. Napasnya terdengar berat. Dada perempuan itu naik turun dengan ritme yang tidak beraturan.
"Elora..."suara itu serak. Nyaris seperti bisikan yang dipaksa keluar."Kamu... di sini?"
"Iya..."
Elora segera berdiri dari kursi di samping ranjang. Ia berusaha tersenyum, meski senyum itu terasa kaku.
"Ibu butuh apa? Mau aku ambilin minum? Atau ada yang bisa aku bantu?"tanyanya setelah melihat Ibunya nampak menginginkan sesuatu.
Kartika menggeleng pelan. Jemarinya yang kurus mencengkeram seprai hingga buku-buku jarinya memutih.
"Boleh... panggilkan perawat?"
Elora baru hendak menekan tombol yang berada di atas ranjang Ibunya ketika suara ibunya kembali menghentikannya.
"Elora..."
"Iya?"
Kartika menarik napas panjang, seolah setiap kata yang akan keluar membutuhkan tenaga yang sangat besar.
"Kalau perawat sudah datang...kamu keluar dulu."
Elora mengernyit."Kenapa?"
"Dan... jangan masuk dulu sebelum Ibu panggil."
Kalimat itu membuat dada Elora terasa sesak.
"Ibu kenapa?"
"Nggak apa-apa."
Kartika memejamkan mata sesaat. Kerutan di dahinya semakin dalam. Bibirnya bergetar menahan sesuatu.
"Ibu cuma..."Ia menggigit bibir bawahnya pelan."...nggak mau kamu lihat."
"Lihat apa?"
Kartika tak langsung menjawab.
Beberapa detik kemudian terdengar erangan lirih yang berusaha ia tahan.Tubuhnya sedikit melengkung karena nyeri yang datang tiba-tiba. Elora refleks menekan tombolnya dan langsung meraih tangan Ibunya.
"Ibu!"
Kartika menggenggam balik tangan putrinya dengan lemah.
"Elora."Nada suara Kartika terdengar lebih tegas meski sangat pelan."Tolong."
"Aku nggak mau ninggalin Ibu."
"Bukan itu."
Kartika membuka matanya perlahan. Sorot matanya dipenuhi rasa malu yang begitu dalam.
"Efek obatnya....kadang bikin Ibu muntah."